BNPB : Banyak Warga Jadi Korban Banjir NTT Karena Tinggal Di Aliran Sungai

Doni Monardo selaku Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNB) mengungkapkan bahwa banyaknya korban banjir di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dari banjir bandang akibat siklon tropis Seroja karena faktor letak permukiman masyarakat. Sebagian dari warga NTT bermukim di kaki bukit yang merupakan aliran sungai sehingga terjadi penyumbatan saat hujan curah tinggi datang. Akibatnya, air menumpuk dan membentuk bendungan secara alami. Ketika volume air semakin membesar dan bendungan tersebut tak lagi mampu menahan beban air, maka dapat menimbulkan banjir bandang.

Kepala BNPB juga mengatakan NTT merupakan wilayah yang termasuk ke daerah dengan curah hujan minim setiap tahunnya. Akan tetepai, saat siklon tropis datang akan muncul hujan lebat disertai angin kencang sehingga hal ini menimbulkan rusaknya permukiman masyarakat, seperti robohnya rumah, rumah terbawa arus banjir, dll. Berdasarkan data BNPB pada tanggal 18 April 2021, korban akibat banjir bandang ini mencapai 72 orang yang merupakan korban jiwa dan 78 mengalami luka-luka.

Banyaknya korban dinilai oleh direktur Direktur Eksekutif Wahli, NTT, karena kurangnya edukasi kesiapsiagaan mitigasi bencana oleh Pemerintah Provinsi NTT terhadap bencana baniir bandang dan tanah longsor. Karena sebelum terjadinya peristiwa ini, BMKG telah mengeluarkan berita terkait akan munculnya fenomena La Nina yang berakibat munculnya peningkatan curah hujan pada wilayah NTT sejak akhir tahun 2020. Akan tetapi, kurangnya kesiapsiagaan mengakibatkan banyaknya korban jiwa. Karena jika dibandingkan dengan bencana letusan gunung Ile Apei, di Lembata tidak terdapat korban jiwa.

Persebaran daerah terdampak banjir pada wilayah NTT yakni pada kabupaten Alor, Lembata, dan Alonara. Ketiga daerah tersebut merupakan daratan yang bergunung dan berbukit sehingga banyak permukiman di lereng-lereng gunung, yang dinilai rawan bencana, khususnya tanah longsor bila terjadi hujan lebat. Maka dari itu, daerah-daerah rawan bencana pada wilayah NTT perlu dibuatkan SOP guna memberitahukan warga yang berada di daerah berisiko tinggi, yaitu daerah gunung di atas kemiringan 30 derajat. Daerah tersebut harus mendapat perhatian ekstra waspada agar tidak terdapat korban jiwa.

Di sisi lain, Doni meminta perlunya langkah proaktif dari pihak terkait untuk melakukan pemeriksaan sungai (susur sungai) yang harus dilakukan oleh kalangan pencinta alam, Badan Sar Nasional, BPBD, TNI/Polri, serta orang-orang terlatih lainnya. Hal ini dilakukan untuk menemukan material penghambat aliran air dari hulu hingga ke hilir untuk kemudian dihilangkan agar ketika terjadi hujan tidak lagi terjadi penyumbatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.