Kudeta Myanmar “Everything will be okay”, Gadis 19 Tahun yang Tewas Ditembak Mati Aparat Militer Myanmar

Kyai Sin, Gadis 19 Tahun yang Tewas Ditembak Mati Aparat Militer Myanmar Sumber: IDN Times

Protes besar anti-kudeta militer dan pembangkangan sipil terjadi di seluruh Myanmar sejak militer melakukan kudeta pada 1 Februari lalu. Para pengunjuk rasa memprotes kudeta Militer yang menggulingkan pemerintah sipil yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi. Militer melakukan tindakan penertiban, namun dinilai represif. Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) mengklaim hingga tanggal 25 Maret sebanyak 320 orang meninggal dunia akibat kejadian protes sejak kudeta.

Pada hari Rabu (3/3), sedikitnya 38 orang meninggal saat terjadi bentrokan antara aparat keamanan dan demonstran. Hari itu merupakan hari paling berdarah dengan jumlah kematian terbanyak sejak militer melakukan kudeta. Seorang aktivis bernama Thinzar Shunlei Yi berkata bahwa kejadian hari itu sangat mengerikan, “Ini mengerikan, ini pembantaian. Tak ada kata-kata yang bisa menggamarkan perasaan kami”.

Salah seorang di antara 38 orang itu adalah Kyai Sin yang juga dikenal dengan panggilan Angel. Perempuan 19 tahun itu tewas setelah aparat keamanan menembakkan peluru tajam ke kepalanya dalam aksi protes di Mandalay. Perempuan yang terkenal melalui foto-foto unjuk rasa dengan berbajukan hitam bertuliskan Everything Will Be Okay. Myat Thu, seorang aktivis, juga mengatakan bahwa dia sempat mengingatkan kepada demonstran lain untuk duduk agar peluru tidak mengenainya “Saat polisi menembaki, dia berkata kepadaku ‘Duduk! Duduk! Peluru bisa mengenaimu. Engkau seperti berada di atas panggung,” kenangnya.

Kerusuhan pun terjadi ketika polisi menembaki mereka menggunakan gas air mata. Myat Thu yang merupakan rekan dari Kyal Sin juga menceritakan bahwa Kyal Sin menendang pipa air a­gar pengunjuk rasa bisa mencuci muka dan mata setelah gas air mata mengenai mereka, serta merawat dan melindungi para demonstran. Saat itulah, sebutir peluru bundar menembus tepat kepalanya. Orang-orang lalu mengerubunginya. Semua merinding, di tanda pengenalnya telah tertulis pesan kematiannya.

Kyai Sin telah menulis di tanda pengenalnya, “Kalau aku terluka dan tak bisa disembuhkan, jangan selamatkan aku. Aku akan memberikan bagian tubuhku yang berguna untuk orang yang membutuhkannya”. Perempuan yang merupakan Penari dan Atlet taekwondo ini mengikuti unjuk rasa ini bukan tanpa persiapan, selain dia sudah menuliskan pesan kematian di tanda pengenalnya, dia juga telah menggenakan baju yang dibelakangnya sudah ada informasi golongan darahnya, jika kelak dia tertembak dan butuh transfusi. Sebelum mengikuti demonstrasi, Kyal Sin juga menulis di akun sosial media miliknya meminta agar organ tubuhnya didonasikan apabila ia meninggal.

Sumber : Kompasiana, bbc.com, kompas.com, tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.