‘Utopia’, Bisakah Kita Merencanakannya?

Ilustrasi oleh: Reza Adjie Sukma

Pada tahun 1516 Sir Thomas More memperkenalkan istilah ‘Utopia’ di dalam novelnya dengan judul yang sama. Utopia adalah kondisi ideal dari semua hal, tidak ada diskriminasi, tidak ada pertengkaran, kesehatan yang memadai untuk seluruh umat manusia, pemerintah yang jujur dan adil, tidak ada kelaparan diluar sana, semua orang memiliki kesetaraan dan tentunya tidak ada kejahatan. Apakah kita bisa merencanakan sebuah kota yang seperti itu? Atau utopia hanyalah karangan dan imajinasi dari Thomas More saja?

Banyak organisasi di dunia yang memiliki tujuan untuk membasmi kelaparan, apakah suatu saat nanti masalah kelaparan akan benar – benar 0% alias tidak ada? Pemerintah selalu melakukan berbagai cara untuk mendorong masyarakat untuk menimba pendidikan tersier, apakah suatu saat nanti masyarakat tidak ada yang bodoh? Banyak manusia yang mengkampanyekan untuk tidak rasis, bahkan sebelum pertandingan sepak bola dimulai mereka menunduk untuk itu, apakah suatu saat nanti kasus rasisme akan nol?

Ketika kita membaca buku dan memperoleh pengetahuan baru, tanpa kita sadari pohon ditebang untuk itu. Ketika kita membangun rumah di berbagai sisi perkotaan, tanpa kita sadari kita mengurangi jumlah lahan hijau yang tersedia. Sama seperti ketika kita bercanda, tapi ternyata teman kita menganggap itu ofensif, apakah kita harus menuntut teman kita untuk tidak baperan atau kita yang harus meminta maaf? Lalu kenapa kita menuntut pemerintah agar tidak menebang pohon di Kalimantan tapi di lain sisi kamu ingin kotamu terlihat menawan dengan bangunan — bangunan yang megah? Lantas kenapa kamu mengeluh karena di kotamu tidak ada mall semegah di Jakarta? Tetapi di lain sisi ketika banjir terjadi justru kamu menyalahkan pemerintah, bukannya itu kemauanmu sendiri? Coba saya tanya lagi, kotamu mau dibangun seperti apa sih? Jangan tiba — tiba jadi seperti perempuan sedang PMS dong, ya urusan pemerintah cari solusi, saya mah kritik doang, apakah saya harus jadi koki dulu untuk mengkritik makanan kurang garam? Nyenyenye, simpan opinimu, sekarang kembali sebarkan broadcast hoax di grup keluarga.

Konsistensi masyarakat harus dipertanyakan, contoh Amerika dengan New York dan California — nya, kota dengan aktivitas yang hampir tidak pernah ada namanya lampu padam, tapi apakah orang — orang disana akan membantu kalian ketika kesusahan seperti disini? Kemudian, ada beberapa wanita sangat ingin untuk hidup di Seoul karena dianggap kota idaman, saya harap kamu tidak pulang menangis dari sana karena mendapatkan perlakuan rasis. Apakah ketika kota itu maju, ada sebuah hal lain yang harus dikorbankan? Saya pernah melihat mahasiswa baru di salah satu daerah kos-kosan di dekat kampus menanyakan petunjuk jalan kepada orang yang lebih tua namun dia tidak turun dari sepeda motornya, anak jaman sekarang tidak tau sopan santun celoteh bapak tersebut, padahal anak tersebut tidak tau adab disini seperti itu. Siapa yang salah? Pemerintah, ahahah.

Ada sebuah kota unik di India, namanya Auroville. Kota ini didirikan oleh Mirra Alfassa yang berkebangsaan Prancis. Di kota ini tidak ada agama, tidak ada politik, tidak ada uang, tidak ada rokok dan minuman keras, tidak ada kepemilikan tanah, tidak ada pemimpin, tidak ada aturan yang ribet, intinya kota ini didesain untuk manusia yang ingin menemukan ketenangan batin dalam hidupnya, daripada hidup di tengah hiruk pikuknya ibu kota yang melelahkan. Mira Alfassa mempunyai mimpi untuk membangun sebuah daerah yang ideal.

Sumber : https://www.aa.com.tr/en/culture-and-art/auroville-an-international-utopian-community/1397667

Sampai saat ini kota ini telah dihuni oleh dua ribu orang dari seluruh dunia, dari berbagai sumber yang ada katanya kota ini merupakan kota idaman atau kota utopia, tapi apakah memang seperti itu? Atau sebaliknya bahwa kota ini dihuni oleh manusia yang dulunya telah menjalani kehidupan yang complicated dan akhirnya lari ke kota ini untuk self healing? Atau juga bisa dikatakan kota ini memiliki penduduk yang sudah muak akan tantangan hidup dan memilih hidup tenang serta menjauh dari masalah daripada menghadapinya?

Pertanyaannya, kota seperti apa yang disebut kota ideal atau kota utopia, beri saya contoh satu kota di dunia yang mendekati kata ideal, di mana kota tersebut memiliki angka pendidikan yang tinggi, kemiskinan dan kejahatan yang rendah, masyarakat yang tolong menolong tanpa adanya diskriminasi dan hal hal baik lainnya. Setelah menemukan contohnya, bagaimana cara merubah kotamu menjadi seperti itu, langkah apa yang akan kamu lakukan pertama kali untuk mewujudkan hal tersebut?

Tulisan oleh: Sultan Faishal Bustomi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.