Mengenang Soeprijadi di Hari Valentine

Tanggal 14 Februari mungkin akan diingat kebanyakan orang sebagai Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang. Tetapi tidak bagi masyarakat yang tinggal di Blitar Raya. Sebagian besar lebih mengenal sebagai Hari Pemberontakan PETA.

PETA merupakan akronim dari Pembela Tanah Air, yaitu kesatuan tentara sukarela yang dibentuk oleh Jepang di Indonesia pada masa penjajahan Jepang. Nama Jepang PETA adalah kyōdo bōei giyūgun. Tentara PETA telah berperan besar dalam perang memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia. Satuan militer ini mendapatkan ilmu dan pengetahuan perang dan patriotisme dari Jepang. Karena hal ini, PETA banyak dianggap sebagai salah satu cikal bakal dari Tentara Nasional Indonesia.

Pemberontakan PETA di Blitar sendiri dilakukan pada tanggal 14 Februari 1945. Gerakan tersebut dipimpin oleh Soedancho Supriyadi (Soeprijadi dalam ejaan lama). Beliau memimpin pasukan berjumlah 163 tentara yang merupakan sepertiga dari total pasukan di batalyon PETA Blitar. Namun, usaha ini cepat dipadamkan dalam hitungan jam dan mengakibatkan 60 tentara PETA ditangkap. Enam orang divonis dengan hukuman mati setelah melewati persidangan Jepang. Soedanco Supriyadi menghilang secara misterius setelah pemberontakan tersebut.

Ir. Soekarno (Bung Karno, sapaan akrabnya) saat itu mengetahui rencana pemberontakan karena saat beliau mengunjungi rumah orang tuanya (Istana Gebang) di Blitar, Shodanco Soeprijadi mengutarakan niatnya. Bung Karno menolak gerakan tersebut mengetahui jumlah tentara PETA sedikit dan memandang pemberontakan tersebut tidak efektif dan akan menyebabkan timbulnya banyak korban. Akan tetapi, Shodancho Soeprijadi tetap kukuh dengan semangatnya dan Bung Karno pun tidak bisa berbuat banyak. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pemerintah Indonesia mengangkat Soeprijadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat (sekarang Menteri Pertahanan Indonesia). Namun, beliau tidak pernah muncul di Jakarta dan pada tanggal 20 Oktober 1945 digantikan oleh menteri ad interim, Imam Muhammad Suliyoadikusumo.

Monumen Pemberontakan PETA Sumber: Dokumentasi Pribadi SOLID

Sebagai bentuk peringatan untuk mengenang peristiwa tersebut, Pemerintah Kota Blitar membangun monumen yang terdiri dari 7 tokoh pemberontakan PETA, yaitu:

  • Shodancho Soeprijadi
  • Chudancho dr Soeryo Ismail,
  • Shodancho Soeparjono,
  • Budancho Soedarmo,
  • Shodancho Moeradi,
  • Budancho Halir Mangkoe Dijaya, dan
  • Budancho Soenanto.

Pada monumen ini, tiap tahun pada tanggal 13-14 Februari diselenggarakan drama kolosal yang dibintangi oleh pelajar serta tokoh sejarah. Namun, di masa pandemi saat ini kegiatan tersebut dibatalkan. 

Selain monumen PETA tersebut, terdapat tugu Potlot yang didirikan sebagai penanda bahwa Bendera Merah Putih dikibarkan pertama kali di Blitar saat pemberontakan terjadi pada pukul 03.30. Monumen Potlot terletak pada bagian tengah paling belakang, areal Taman Makam Pahlawan Raden Wijaya di Kota Blitar. Sayangnya, monumen ini terlihat tidak terurus dan kotor akibat ditumbuhi lumut.

Monumen Tugu Potlot Sumber: Dokumentasi Pribadi SOLID
Monumen Tugu Potlot Sumber: Dokumentasi Pribadi SOLID

Pada tahun 2021 ini, Pemerintah Kota Blitar bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional Bung Karno menyelenggarakan webinar berjudul ‘Pemikiran Bung Karno Tentang Pancasila dan Nasionalisme Indonesia’. Dalam webinar tersebut, Muchammad Taufik, SH., MAP (Widyaswara Pemprov Jatim) sebagai narasumber berpesan bahwa Wong Blitar (masyarakat Blitar) terutama milenial harus melestarikan semangat perjuangan dalam mengikuti nilai-nilai perjuangan bangsa, terutama perjuangan pemberontakan PETA dan perjuangan Bung Karno dalam memerdekakan Indonesia. Untuk itu, segenap masyarakat perlu bergandeng tangan dan mempunyai langkah inovatif untuk mencapai tujuan tersebut.

Webinar Pemikiran Bung Karno Sumber: YouTube (Perpustakaan Bung Karno)

Sumber:
https://blitarkota.go.id/index.php/id/halaman/sejarah-kota
https://www.kemhan.go.id/sejarah
Flyer Istana Gebang
Anhar, Ratnawati. 1982. Supriyadi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1982
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3770883/monumen-potlot-dari-sini-pemberontakan-peta-blitar-berawal
Webinar: https://www.youtube.com/watch?v=9MGYZfLAt54&ab_channel=PerpustakaanBungKarno

Penulis: Annisa Cahyaning Jannah
Peninjau: Samuella Natasha Tedjokusumo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.