Peringatan Pemberontakan 88 Tahun Silam di Atas Kapal Perang Belanda

Belum banyak yang mengetahui dan mengulas bahwa tepat pada hari ini, 88 tahun yang lalu, terjadi pemberontakan yang cukup besar di atas kapal milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda di lepas pantai Sumatera. Pemberontakan ini terjadi disebabkan oleh pengumuman keputusan penurunan gaji pegawai pemerintah Hindia Belanda sebesar 17% pada 1 Januari 1933 untuk mengurangi defisit karena depresi ekonomi yang sedang melanda.

Awal Pemberontakan

Pada 30 Januari 1933, terjadi unjuk rasa dari pelaut Indonesia di pangkalan utama Angkatan Laut Belanda (Surabaya) karena penolakan keputusan pemerintah kolonial. Agar tidak semakin besar, jajaran komando memblokir pemberitaan atas unjuk rasa yang terjadi. Tetapi, peristiwa tersebut bocor melalui radio kepada pelaut yang sedang bertugas.

Kabar peristiwa tersebut pun didengar oleh Maud Boshart (pelaut Belanda yang memihak Indonesia) yang sedang bertugas di kapal perang Zeven Provincien yang sedang patroli di barat Aceh. Setelah menerima kabar tersebut, para pelaut di sana pun mengadakan rapat untuk merespon gerakan yang sedang terjadi. Di sisi lain, komandan Eikenboom memberi pidato bernada ancaman agar awak kapal tidak mencontoh unjuk rasa yang sedang terjadi untuk dilakukan di atas kapal.

Meskipun begitu, semangat perlawanan awak kapal tidak sedikit pun menurun. Paraja dan Rumambi memimpin gerakan di atas kapal tersebut dan mereka akan membawa kapal ke Surabaya, serta mendorong pertemuan di darat. Pertemuan tersebut dihadiri oleh banyak pelaut Indonesia serta pelaut Belanda yang setuju dengan pemberontakan yang akan dilakukan.

Perwira Belanda mengadakan pesta di kantin KNIL, Uleelheue, Aceh dan menyediakan nona Belanda untuk berdansa dengan pelaut pribumi pada 4 Februari 1933. Pesta yang diadakan untuk menenangkan situasi ini dinilai membuat blunder sehingga pelaut Indonesia menolak hadir. Malam hari, saat Boshart diperintahkan untuk membawa letnan ke kapal, seorang perwira jaga di kapal sudah tewas, dibantai Martin Paradja di tangga kapal. Kapal sudah dikuasai awak kapal pribumi yang bersenjata, meriam sudah terisi. Raut wajah para marinir pribumi terlihat sangat keras. Perwira Steenwijk yang mulanya menguasai ruang marconis pun mundur dan meletakkan senjata. Martin Paradja dan Gosal memberi perintah.

Puncak Pemberontakan

Hari itu, sekitar pukul 22.00 malam, peluit panjang dibunyikan sebagai tanda mulai pemberontakan. Para awak kapal mengambil alih kapal dari tangan Belanda. Awak kapal pribumi dipimpin Paradja dan Gosal dan awak kapal Belanda dipimpin Boshart dan Dooyeweerd. Kelasi Paradja memegang komando, Kelasi Kawilarang menjadi navigator, Kelasi Rumambi pada komunikasi telepon, Hendrik mengatur bahan bakar, dan Kopral Gosal mengurus kesehatan. Dalam sebuah majalah tahun 1963, Boshart mengatakan bahwa komandan dengan sia-sia berunding untuk mengambil hati pelaut Indonesia yang sudah mengendalikan kapal perang. Dua perwira Belanda meloloskan diri dari pemberontak dengan menjebol jendela dan berenang hingga ke daratan.

Pada tanggal 5 Februari, pimpinan pemberontakan menyiarkan pengambilalihan kapal Hr.Ms. De Zeven Provincien yang sedang menuju Surabaya melalui siaran pers dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Indonesia (Melayu). Melalui siaran tersebut, pemberontak menyatakan bahwa protes dilakukan karena pemotongan gaji yang tidak adil dan mereka juga menuntut pembebasan rekan yang ditahan. Atas semua yang terjadi, pemerintah kolonial pun kalang-kabut hingga kapal Hr.Ms. Aldebaren diperintahkan oleh Gubernur Jenderal De Jonge untuk mengejar. Ketika Aldebaren mendekat, Kawilarang yang memberi sinyal untuk menembak jika semakin mendekat. Namun, tidak berhenti sampai di situ, Belanda mengirim kapal penyebar ranjau untuk mengejar, Hr.Ms. Goudenleeuw. Tetapi, dua kapal yang dikirim Belanda ini memiliki meriam lebih kecil dengan persenjataan lebih minim dari De Zeven Provincien sehingga tidak berani terlalu dekat.

Tindakan Belanda

10 Februari 1933, kapal De Zeven Provincien sampai di Selat Sunda. Seketika memasuki Selat Sunda, kapal perang Hr.Ms. Java dengan dua kapal torpedo (Hr.Ms. Piet Hien dan Hr.Ms. Evertsen) mengikuti gerakan kapal bersama pesawat bom Dornier untuk melumpuhkan pemberontak. Komandan Van Dulm dari kapal Hr.Ms. Java mengirimkan ultimatum untuk menyerah, tetapi ditolak dengan reaksi tidak mau diganggu dan tetap meneruskan perjalanan. Pesawat Dornier pun mengancam dari atas kapal, tetapi pelaut Indonesia tetap menolak.

Pukul 09.18 pagi, atas izin penyerangan oleh Laurentius Nicolaas Deckers (Menteri Pertahanan Kerajaan Belanda), bom pertama seberat 50 kg dijatuhkan dari pesawat militer Dornier tanpa mengenai sasaran. Bom kedua pun dijatuhkan dan mengenai geladak. Menurut Boshart yang mengenang kejadian tersebut, pemberontak melawan hingga mengalami luka-luka seperti J. Pelupessy, juga Sugiono yang kehilangan satu biji mata. Naas, kapal De Zeven Provincien ternyata tidak memiliki meriam penangkis serangan udara sehingga Paradja tewas saat pengeboman. Kawilarang yang melihat situasi pun menggantikan posisi pemimpin dan menyatakan menyerah serta meminta bantuan medis.

Akibat Pemberontakan

Sejumlah 545 awak pribumi ditahan dan dibawa dengan kapal Hr.Ms. Java sedangkan 81 awak Belanda ditahan dan dibawa dengan kapal Hr.Ms. Orion untuk menuju Pulau Onrust. Sebanyak 20 awak pribumi dan 3 awak Belanda dinyatakan tewas karena serangan tersebut. Kawilarang yang dianggap memimpin pemberontakan setelah kematian Paradja, dipenjara selama 18 tahun dan Boshart dipenjara 16 tahun sedangkan pelaut lainnya dihukum 6 tahun dan 4 tahun. Seluruh pemberontak ditahan dan dimakamkan di Pulau Onrust, Kep. Seribu.

Atas kejadian pemberontakan ini, Gubernur Jenderal De Jonge mendapat serangan dari kelompok Eropa di Hindia Belanda karena ada juga beberapa pelaut Eropa yang menjadi korban dari kebijakannya. Di sisi lain, pemerintah Hindia Belanda memperketat pengawasan terhadap kegiatan Nasionalis Indonesia karena pemberontakan tersebut. Dan pemerintah pun semakin mencampuri dan mengawasi setiap gerakan politik yang ada. Pun Hatta dan Sutan Sjahrir dibuang ke Boven Digul, serta Soekarno dibuang ke Ende. Pemimpin redaksi sejumlah media massa juga ikut ditahan hingga dipenjara.

Saat Ini

Setelah semua perjuangan yang terjadi, pada masa kini masih tergolong sedikit tulisan tentang peristiwa ini yang mudah didapat seperti pada media massa daring atau semacamnya. Sejauh ini tulisan tentang peristiwa Kapal Tujuh atau De Zeven Provincien yang cukup lengkap ada di Wikipedia dan beberapa situs yang menyunting dari Wikipedia.

Disunting dari Wikipedia dan Kanal YouTube Rantai Sejarah
Oleh Samuella Natasha Tedjokusumo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.