Hari Besar untuk Lingkungan dan Pohon

Tanggal 10 Januari setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Nasional dan Hari Gerakan Satu Juta Pohon. Bersamaan dengan memperingati dua hari besar tersebut, maka ada baiknya kita merefleksikan hal-hal yang sudah kita lakukan terhadap lingkungan. Adapun beberapa saran yang dapat dilakukan untuk melestarikan lingkungan hidup dan pohon-pohon atau tanaman di sekitar kita. Berikut beberapa hal sederhana yang memungkinkan untuk dilakukan dari rumah dalam kondisi seperti saat ini menurut versi kami.

  1. Mengembangkan hobi baru seperti menanam di pekarangan rumah
    Banyak hal yang dapat kita lakukan selama masa pandemi ini. Salah satunya menemukan dan mengembangkan hobi baru. Hobi sendiri menurut KBBI adalah kesenangan pada waktu senggang. Untuk menyeimbangkan kesenangan dan melestarikan lingkungan dapat dikembangkan hobi baru seperti menanam. Tidak perlu dibayangkan menanam yang rumit. Menanam dapat dimulai dengan tanaman-tanaman hias yang sederhana, seperti Lidah Mertua, Kaktus, Daun Siklok atau tanaman hias lainnya yang juga dapat memberi tampak asri di halaman maupun di dalam rumah. Untuk memulai hobi ini, pilihlah tanaman yang sekiranya tidak perlu perawatan yang rumit dan kalian sukai agar dapat memberikan komitmen dalam merawat tanaman dan hobi baru tersebut.
  2. Membersihkan sampah anorganik maupun organik di sekitar rumah
    Agar nyaman dipandang mata dan tetap sehat serta bersih, halaman dan sekitar rumah juga harus dirawat agar terjaga dari sampah-sampah. Sampah yang lazim ditemukan di sekitar rumah adalah sampah anorganik dan organik. Biasanya sampah organik didapat dari rontoknya dedaunan ataupun buah yang jatuh dari beberapa jenis pohon. Jadi, hobi baru seperti menanam juga tetap harus memperhatikan sampah yang terbentuk sebagai bentuk pertanggungjawaban kita untuk lingkungan yang diciptakan bersih pada mulanya oleh Sang Pencipta. Kemudian, sampah anorganik yang paling sering ditemui adalah kantong plastik, botol bekas sekali pakai, dan tisu bekas pakai yang kemungkinan terbawa angin atau tidak terbuang pada tempatnya dengan baik. Apapun sampah yang ada, milik siapapun sampah tersebut, kita tetap harus menjaga lingkungan sekitar, seminimalnya lingkungan di sekitar rumah yang kita miliki.
  3. Membuat biopori di rumah
    Perubahan musim yang tidak menentu terkadang hujan dan panas, ketika terjadi hujan secara terus-menerus dapat membuat saluran tersumbat sehingga terjadi banjir. Maka dari itu perlu membiasakan untuk membuat biopori di rumah agar mencegah terjadinya banjir. Biopori sangat banyak manfaat. Biopori sendiri adalah lubang berdiameter 10 hingga 30 cm dan lubang biopori berisi sampah organik yang difungsikan sebagai makanan biota tanah seperti cacing, semut, akar makanan untuk membuat rongga di dalam tanah. Rongga-rongga ini menjadi saluran bagi air untuk meresap ke dalam tanah. Dalam membuat biopori harus memilih tanah yang lunak agar mudah dimasukkan pipa PVC. Membuat lubang tanah untuk biopori bisa menggunakan bor tanah ataupun linggis. Cara memaksimalkan penggunaan biopori adalah dengan mengisi lubang dengan sampah organik secara bertahap setiap lima kali sehari hingga penuh dan membiarkan sampah organik dalam waktu tiga bulan hingga menjadi kompos organik yang selanjutnya dipakai sebagai pupuk tanaman.
  4. Membawa tas belanja dari rumah
    Penggunaan plastik sangat berpengaruh pada lingkungan. Menurut Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun dengan 3,2 juta ton sampah plastik mengalir ke laut setiap tahunnya. Membawa tas belanja sendiri saat berbelanja atau bepergian adalah langkah sederhana untuk mengurangi penggunaan plastik yang dapat diterapkan. Mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru memang tidak mudah, tetapi jika melihat dampak di masa depan, maka tidak ada salahnya untuk melakukan langkah sederhana ini dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya saat berbelanja kebutuhan sehari-hari bisa membawa tas belanja dari rumah. Membawa tas belanja sendiri juga akan menguntungkan, mengingat toko ritel dan swalayan sudah menetapkan biaya tambahan untuk tiap kantong plastik yang konsumen minta.
  5. Menggunakan alat makan yang dapat dibawa dari rumah
    Menggunakan alat makan sendiri yang reusable seperti kotak makan, sendok atau garpu, sedotan, dan botol tumbler juga merupakan langkah sederhana dalam mengurangi penggunaan produk plastik. Selain itu, di masa pandemi ini, menggunakan alat makan sendiri lebih aman dan terjamin kebersihannya. Peralatan makanan yang terbuat dari plastik berbahaya bagi kesehatan manusia karena dapat melepas bahan kimia yang tidak baik di mulut ketika menggunakannya. Tips untuk memilih peralatan makan dan minum adalah pertama, memastikan wadah yang dipilih terbuat dari material yang aman. Kedua, memilih wadah yang kedap udara dan tidak mudah bocor. Ketiga, menggunakan alat makan sendok atau garpu dari bahan bambu atau stainless steel karena aman untuk lingkungan dan dapat digunakan secara berulang.

Ilustrasi oleh Samuella Natasha Tedjokusumo
Tulisan oleh Archika Natasya Safira dan Samuella Natasha Tedjokusumo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.