Mendidik Hati dan Akal

Oleh: Nun Faiz Habibullah Ahmad*

Korupsi, terorisme, narkotika, hoax, dan segala bentuk kejahatan merupakan manifestasi dari ketidakmampuan manusia untuk mengendalikan diri atau tidak tahu untuk menyikapinya hal-hal yang mengarah kepada kejahatan tersebut. Sebab gerak gerik manusia dipengaruhi hati dan akalnya. Oleh sebab itu, Al Ghazali berkata “ hati ibarat raja, dan akal itu panglimanya, maka anggota tubuh adalah prajuritnya. Kemudian, hadits nabi yang artinya, ”ingatlah, sesungguhnya pada jasad manusia itu terdapat segumpal darah, jika baik, seluruh tubuh akan baik, jika rusak, rusaklah semua jasad, ingatlah, dia itu adalah hati” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Sungguh beruntung orang yang dapat mengendalikan dirinya melalui hatinya. Sebab nabi juga pernah bersabda saat pulang dari perang badar, “kita baru saja pulang dari peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar. Sahabat terkejut dan bertanya, peperangan apakah itu wahai Rasulullah? Rasulullah bersabda, peperangan melawan hawa nafsu.” (HR. Al Baihaqi).

Sebelum melawan orang atau bangsa lain seharusnya kita dapat mengalahkan hawa nafsu kita agar dapat menang melawannya. Imam Al Ghazali juga berkata,” declare your jihad on thirteen enemies you can not see,egoism, arrogance, conceit, selfishness, greed, lust, intolerance, angger, lying, cheating, gossiping and slandering. If you can master and destroy them, then you will be ready to fight the enemy you can see”.

Dari hal tersebut diatas, mengingatkan kita bahwa betapa pentingnya mengendalikan diri. Di sinilah peran hati dan akal untuk mengendalikan diri dan memiliki ilmu tentang menyikapi keadaan. Oleh sebab itu, urgensi mendidik hati dan akal bukanlah suatu keraguan untuk dilaksanakan. Bukankah pendidikan kita sudah melaksanakan hal tersebut?

Menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan adalah daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya Budi pekerti (kekuatan batin, karakter), Pikiran (intelek) dan Tubuh anak, dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya. Sedangkan menurut UU no 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Kalau begitu, seharusnya, pendidikan kita sudah mendidik hati dan akal? Memang benar, secara konsep. Apalagi sudah ada Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang terdapat dalam Nawa Cita Kepemimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Namun, pengamalannya tidak seratus persen seperti itu. Pendidikan Indonesia masih cenderung kepada ranah Akal. Sedangkan, pendidikan hati tidak terlalu menjadi hal yang terlihat tampak diperhatikan. Padahal banyak sekali orang Indonesia yang pintar, namun buruk  Akhlaknya (hati), seperti para koruptor. Apakah mereka orang-orang bodoh? Tentu saja tidak, mereka adalah orang yang pintar, tapi sayang pintarnya digunakan untuk hal keburukan.

Namun, terkadang ada juga yang baik tetapi tidak menyampaikan kebaikan ketika mengetahui kedzaliman disebabkan berbagai alasan dan memilih diam. alasannya tidak berani, orang kecil (bukan siapa-siapa), mencari aman, atau bahkan apatis. Apakah orang seperti itu juga tidak berbahaya?. Ali Bin Abi Thalib R.A. berkata,”Kedzaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, Tapi karena diamnya orang-orang baik.”

Oleh sebab itu, mendidik hati dan akal harus seimbang agar tahu dan berusaha untuk melakukan apa yang harus dilakukan terhadap suatu keadaan. Misalnya, pendidikan harus mengajarkan dan mengamalkan bagaimana menghadapi seseorang yang sedang marah,  sedang melakukan kesalahan, sedang melakukan kebaikan, atau bahkan sedang tidak melakukan apa-apa. Pendidikan harus mendidik bagaimana menyikapi suatu keadaan tertentu secara detail dan eksplisit agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Menurut hemat saya, selama ini, pendidikan hati sedikit diperhatikan oleh segala kalangan termasuk pemerintah. Sebab, segala bentuk beasiswa biasanya mensyaratkan IPK atau skill tertentu. Sedangkan, tidak pernah ada beasiswa berbasis berbudi luhur, jujur, rajin, istiqomah, disiplin, maupun sifat-sifat baik lainnya yang dapat dikembangkan ke arah positif. Padahal manusia yang dibutuhkan oleh sebuah zaman sekarang maupun masa depan selain kecerdasan (akal yang baik) adalah manusia yang memiliki dan mampu mengembangkan sifat-sifat baik itu. Lantas, bagaimana mengukur kelayakan mendapatkan beasiswa semacam itu? Itulah tantangan pendidikan kita.

Memang ada surat berprilaku baik ketika mengajukan beasiswa, namun berprilaku baik itu hanya diukur dalam catatan kepolisian saja. Sedangkan, sesuatu yang berurusan dengan polisi adalah sesuatu yang dinilai melanggar hukum. Apakah di Indonesia ketika menyontek UN atau UAS di sekolah dipenjara? Tentu tidak. Indonesia tidak seberani China dalam menetapkan kebijakan sistem pendidikan demi memprioritaskan kejujuran. Menurut Kompas.com (29/10/2015), Pemerintah China telah mengamandemen Pasal 384 Undang-Undang Hukum Kriminal. Amandemen itu menyatakan, siapa yang terbukti mencontek saat ujian dapat dijatuhi hukuman kurung maksimum tujuh tahun. Bagaimana kalau diterapkan di Indonesia? Wah, mungkin penjara akan bertambah banyak.

Harapan mendidik hati dan akal adalah ketika manusia sudah dapat mengetahui dan mengendalikan diri untuk melakukan sesuatu terhadap suatu kejadian, ia akan merdeka atas dirinya sendiri baik secara lahiriah maupun batiniah. Inti mendidik hati dan akal adalah memerdekakan manusia secara lahir dan batin.

Ketika mendominasinya manusia yang merdeka atas dirinya sendiri di suatu bangsa, kemungkinan besar mereka akan dapat memerdekakan bangsanya sendiri dengan kemerdekaan yang sejati. Selama ini, manusia yang seperti itu masih tidak mendominasi di Indonesia baik di pemerintah maupun rakyat, bahkan kita sendiri. Buktinya, banyak pemerintah dan masyarakat kita yang terlena dengan kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan. Banyak pemerintah maupun rakyat kita yang masih terjajah oleh imperialisme dan neokolonialisme dalam segala bentuk.

Lantas, Apa itu kemerdekaan sejati? Adalah suatu keadaan manusia (pemerintah dan rakyat) yang merdeka atas dirinya sendiri, mampu hidup secara mandiri tanpa adanya neokolonialisme dan imperialisme di segala bidang termasuk panca gatra ( ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan). bukankah bangsa yang merdeka adalah bangsa yang dapat membangun bangsanya sendiri dan memenuhi kebutuhannya sendiri dengan mandiri.

Korelasi antara mendidik hati dan akal dengan kemerdekaan sejati sudah jelas. Ketika banyak manusia di sebuah negara yang hati dan akalnya terdidik, niscaya kemerdekaan sejati dapat dicapainya. Barang siapa yang dapat menguasai hati dan akal suatu bangsa maka ia akan menguasai bangsanya.

*Penulis adalah mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) FT UB

Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo

Mantan PU Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Solid FT UB 2019/2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.