Macan Ompong, Kucing Ompong, Lapar dan Mati

Oleh : Nun Faiz Habibullah Ahmad*

Tulisan ini tidak bercerita tentang hewan yang ompong lalu kelaparan dan akhirnya mati. Tetapi bercerita tentang kondisi kehidupan sekitar saya. Hanya saja ditulis dengan kalimat kiasan untuk menunjukkan kehalusan dalam menyampaikan kritikan. Sekali lagi, ini adalah kritikan yang dibalut dengan gaya satire yang ditujukan kepada hewan yang berpikir.

Sebagaimana yang kita ketahui, Macan adalah hewan buas, ganas, menakutkan, dijuluki sang raja hutan karena kekuatannya yang besar. Jika lapar, ia akan memangsa hewan lain di sekitarnya dengan cara mencakar dan menggigit dengan taringnya yang tajam. Setelah itu, ia makan. Kemudian, bagaimana jika Macan itu ompong? Apakah ia bisa berburu dengan lancar, bukankah mangsanya hanya merasa geli Ketika digigit oleh Macan ompong? Tentunya.

Lantas, bagaimana macan ompong dapat bertahan hidup di kerasnya kehidupan ini jika senjata untuk berburunya tidak ada? Ada dua kemungkinan. Pertama, berharap mendapat sisa makanan yang dimangsa oleh macan lainnya di alam bebas. Kedua, menjadi macan peliharaan yang selalu menunggu disuap oleh majikannya. Jika macan dapat berpikir untuk memilih, apakah ia akan berpikir lebih baik mati daripada menjadi budak ?.” merdeka atau mati”. Andaikata anda adalah macan ompong, apa yang akan anda lakukan?

Apalagi kucing ompong, kucing bertaring saja masih banyak yang menjadi hewan peliharaan, apa jadinya kucing ompong hidup dijalanan. Bagaimana jika anda menjadi kucing ompong?  Kelaparan, tidak bertenaga, kemudian mati di jalanan. Tetapi jika kucing itu cerdas, ia akan memasang tampang sedih dan mangkal di pedestrian yang ramai untuk mendapat belas kasih. Bukan bersaing dengan kucing sangar lainnya di pasar ikan yang sudah jelas penjual ikan tidak akan memberi ikan segarnya. Tetapi, apakah si kucing ompong peduli dengan idealismenya untuk tidak menjadi budak? Eits, tunggu dulu, apakah seekor kucing fitrahnya menjadi hewan peliharaan atau hewan sangar layaknya macan? Jika anda dapat memilih, apakah bercita-cita menjadi hewan peliharaan atau hewan sangar seperti macan?

macan ompong dan kucing ompong sangat susah untuk bertahan hidup di alam liar. Pada akhirnya, mereka akan kelaparan hingga tidak bertenaga lalu mati dengan keadaan yang menyedihkan. Tentu kita tidak menginginkan nasib yang sama dengan macan dan kucing ompong tersebut. Salah satu mengatasinya adalah dengan merawat dan mempertajam taring agar tetap bisa berburu. Tapi ternyata, mempertajam taring saja tidak cukup, kita butuh memperkuat tenaga agar kuat untuk menerkam mangsa. Untuk itu, jagalah taring kita dan perkuat tenaga kita untuk bertahan hidup.

***

Sebuah pers professional jika tidak menjalankan tugas dan fungsinya sebagai kontrol sosial, melainkan menjadi peliharaan penguasa dan pemilik modal, ia sama seperti macan ompong. Ia tidak mau mengkritisi kebijakan penguasa dan lebih menurut pada pemilik modal. Bahkan mencari seribu cara agar membenarkan apa yang dilakukan penguasa. Apakah di dunia nyata ada yang seperti itu? Jelas ada. Bahkan pemimpin redaksinya dengan jelas menyatakan memilih untuk tidak mengkritisi pemerintah.

Bagaimana dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang merupakan Sebuah organisasi non profit oriented alias organisasi sukarela di kalangan mahasiswa. Jika ia tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai control social di kehidupan kampus, ia sama seperti kucing ompong.

Kebanyakan kampus di Indonesia menginginkan LPM di setiap kampusnya menjadi kucing peliharaan bahkan sekaligus ompong. Sehingga meskipun kucing tersebut dianiaya, ia tidak akan menggigit. Tetapi sebaliknya, setiap LPM di kampus menginginkan dirinya untuk bertaring sehingga dapat menggigit majikannya jika melakukan pelanggaran. Bahkan banyak LPM yang bercita cita menjadi macan yang ganas.

Kita mungkin bertanya, buat apa ada LPM di kampus jika tidak berjalan dengan fungsinya. Dugaan saya, tentu untuk aksesoris semata, sehingga Ketika terdapat tamu yang berkunjung ke kampus, tuan rumah dapat menunjukkan kepadanya betapa demokratisnya (pilar demokrasi ke empat adalah pers) kampus ini. Sehingga kampus akan mendapatkan nilai yang positif di mata tamu. Jika sudah mendapat rating yang baik di mata tamu, tentu akan menjadi kampus terbaik. Setelah menjadi kampus terbaik, para mahasiswa baru akan berbondong-bondong masuk kampus. Jika mahasiswanya banyak, tentu pendapatan yang masuk ke rekening kampus akan banyak pula. Setelah itu wallahua’lam.

Secara umum, Itulah kondisi yang terjadi pada LPM-LPM di Indonesia. Namun terdapat berbagai macam kejadian yang menimpa LPM sehingga harus dibekukan atau non aktif. Mulai dari serangan atasan atau pihak kampus, dari sesama organisasi mahasiswa baik ektra kampus maupun intra kampus, sampai kelesuan di antara anggota LPM yang semangat juangnya mulai luntur.

Pada umumnya, LPM-LPM di Indonesia banyak yang memiliki konflik dengan pihak kampus, maupun sesama organisasi mahasiswanya. Tetapi tak jarang juga LPM yang sudah mulai gantung pena karena ketidak aktifan dari anggotanya. Banyak hal yang menjadi permasalah keaktifan anggota LPM mulai luntur. Biasanya, penyebabnya adalah putusnya komunikasi antar anggota (menghilang secara tiba-tiba ; bukan seperti kasus orde baru), komunikasi yang buruk (grup organisasi sepi), banyaknya alasan sehingga tidak terlibat kegiatan (sibuk akademik adalah alasan klasik), melepas tanggung jawab, tidak ingin memikul beban tanggungjawab (sering menghindar Ketika diberi tanggungjawab), tidak menjadi prioritas utama organisasi, tidak adanya regenerasi.

Jika keaktifan anggota LPM mulai luntur, itu merupakan pertanda awal LPM tersebut akan menjadi kucing ompong yang lumpuh. Tak lama kemudian, ia tidak akan bisa bergerak bahkan sekedar untuk mengucapkan “meong” dengan artian fungsi utamanya menyampaikan informasi tidak berjalan, dan akhirnya akan mati mengenaskan.

Tentu hal itu tidak diinginkan oleh LPM bahkan kampus tidak menginginkan demikian. Bagaimana upaya memulihkan organisasi yang kondisinya seperti itu?

Pertama, harus dapat menyatukan seluruh anggotanya dengan satu simpul. Temukan simpul itu, baik itu kesamaan hobi, kebutuhan, tujuan, bahkan jika harus mengeluarkan uang pribadi, menurut saya lakukan lah, tentu pengorbanan juga. Kemudian lakukan sesuatu hal yang menarik agar setiap anggota merespon simpul itu. Kemudian ajak setiap anggota untuk Kembali mengaktifkan kegiatan LPM meskipun hanya sekedar “meong”. Dalam hal ini, adalah membuat karya tulis baik jurnalistik, seni, sastra, hiburan. karya dapat berupa berita, opini, cerpen, gambar seni, humor, teka teki, tebak gambar, informasi, atau karya sejenisnya yang tidak melanggar aturan jurnalistik.

Dalam era pandemic, kebutuhan akan uang bagi mahasiswa adalah yang utama. Mungkin setiap anggota LPM memiliki kebutuhan yang sama dalam ini. Oleh karena itu, kita harus pandai memanfaatkan momen ini untuk menciptakan sesuatu yang menarik perhatian.

Kedua, setelah mendapatkan simpul. Lakukan simpul yang di mulai dari setiap anggota. jika tidak berhasil lakukan kepada sesama mahasiswa di kampusnya untuk menggapai jangkauan yang lebih luas dengan tujuan mentriger anggota untuk bergerak. Jika berhasil menghidupkan atmosfer, lakukan hal tersebut secara konsisten.

Ketiga, lakukan evaluasi dan berikan reward untuk anggota. Setelah Langkah Langkah tersebut berhasil dilakukan, kemungkinan besar akan mudah untuk melakukan regenerasi sebab organisasi tersebut telah aktif Kembali dan memiliki attention terhadap mahasiswa lainnya. Akibatnya, mahasiswa lainnya kemungkinan besar tertarik dengan organisasi kita.

Untuk membangkitkan organisasi dengan cara tersebut, tentu membutuhkan dana. Dana tersebut dapat berasal dari pendanaan kampus, akan tetapi lebih baik untuk mencari dana tersendiri (karena dana kampus terbatas) seperti bantuan alumni, maupun uang pribadi. Untuk saat ini, masih belum bisa menghasilkan dari sponsorship karena kondisinya yang masih belum berjalan. Oleh karena itu, dalam kondisi pandemi ini, kita harus mampu menciptakan peluang untuk menghasilkan uang. Baik itu dari mengikuti lomba, maupun berjualan online demi organisasi yang akan kita aktifkan kembali.

Semoga kritik konstruktif ini dapat bermanfaat bagi kita yang sedang berupaya untuk menghidupkan Kembali organisasi.

*PU SOLID 2019-2020

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.