Wawancara Koor BEM FTUB 2019/2020: Perkenalan, Hingga ‘Kecolongan’

Koordinator Dewan BEM FTUB: Ahmad Fikri Maulana saat serah terima jabatan (dokumentasi: panitia).

Mohon perkenalkan diri Anda, seperti nama lengkap, TTL, dan asli mana?

Nama saya Ahmad Fikri Maulana, saya lahir tanggal 11 Oktober 1998. Dari Malang, asli Malang.

Motivasi jadi dewan BEM?

Untuk motivasi saya, yang pertama jelas dari dukungan, support dari angkatan, dari jurusan, sama dari teman-teman KBMT semuanya. Dan juga harapannya ke depan dari BEM teknik ini bisa menjadi wadah untuk keseluham KBMT, untuk menciptakan KBMT yang nyaman dalam berkontribusi, KBMT yang beretika.

Bedanya Koordinator dewan BEM dan dewan BEM lainnya apa?

Oke, jadi sebenarnya kan sudah kita ketahui juga kalau sistemnya BEM teknik ini kolektif kolegial. Jadi sebenarnya ke-10 anggota BEM teknik yang terpilih ini sebenarnya presiden BEM semuanya kalau keluar [dari ranah teknik]. Cuma di sini [di teknik], diperlukan 1 orang sebagai syarat administratif. Jadi dipilihlah koordinator BEM. Jadi asal mulanya sebenarnya cuma kaya syarat administratif aja.

Total anggota BEM tahun ini berapa orang? Bidang-bidangnya apa saja?

A: 10 orang. Bidang-bidangnya ada… Yang pertama ada departemen internal. Yang kedua ada Departemen PSDM, terus Departemen RISTEKIM, Departemen Advokesama dan KWU, Departemen Medkominfo, Departemen Eksplorasi, Departemen HKE, Departemen kuadrat, Departemen SOSMA, dan Departemen Kastrat.

Ke-10 Anggota BEM FTUB periode 2019/2020 saat serah terima jabatan (dokumentasi: panitia).

Yang tahun ini adakah yang bertambah atau berkurang jumlah anggota BEM-nya?

Iya berkurang 1, kan kemarin jumlah anggota BEM-nya 11, sekarang jadi 10. Ada beberapa peleburan lah sama modifikasi.

Yang dilebur itu apa? Departeme Advokesma dan KWU?

Iya, [Departemen] Advo dan KWU itu dilebur jadi satu. Sama ada [Departemen] Kuadrat.

Kalau Departemen Kuadrat ini penjabarannya apa?

Jadi kan [Departemen] Kuadrat itu Keuangan Administrasi dan Rumah Tangga. Sebelumnya itu dari BEM [angkatan] 15 itu departemennya itu AD ART KWU. Nah, RT KWU itu dipisah. RT-nya masuk di Kuadrat, terus KWU-nya masuk di Advo.

Pertimbangannya sampai dipisah ini kenapa?

Yang pertama, sebenarnya ga ada korelasi yang benar-benar mendasar antara kebutuhan sama jumlah sebenarnya. Jujur kalau dari BEM teknik periode 2019/2020 ini, berangkatnya dari hasil forum angkatan dan KBM masing-masing [jurusan], yang menentukan siapa anggota BEM yang ‘naik’. Dan setelah melalui proses, terpilihlah 10 orang ini yang dirasa sanggup dan siap. Setelah itu baru kita merembukkan bersama departemen apa. Jadi, berangkatnya dari orang,

Dari forum apa namanya?

Dari FORKOM [Forum Komunal, red] sama FKBM [Forum Keluarga Besar Mahasiswa, red] masing-masing jurusan. FORKOM itu angkatan teknik, kalau FKBM itu masing-masing jurusan.

Bagaimana proses terpilihnya jadi Koordinator BEM?

Sebenarnya dari serangkaian persiapan yang dilakukan sama BEM teknik sekarang ini, pemilihan koordinator BEM itu yang benar-benar paling terakhir. H-3 sertjab malah, itu pemilihannya kita forum ber-10 secara musyawarah untuk menentukan siapa koordinatornya. Karena memang menurut kami dari koordinator BEM ini ya sebagai syarat administrasi, dan mungkin nanti jadi pintu utama buat ke dekanat.

Gimana perasaannya terpilih jadi Koordinator BEM?

Sebenarnya ini merupakan amanah yang cukup berat, karena di sini saya juga harus mengkoordinir teman-teman saaya yang lain. Tapi balik lagi di kesepahaman awal, bahwa dari kinerjapun kita ber-10 sama rata. Jadi dengan teman-teman ber-10, ketika bekerja sama dan saling support, saya rasa jadi koordinator BEM itu gaada beban yang lebih daripada yang lain. Jadi perasaannya tidak bisa dideskripsikan.

Citra yang ingin BEM tumbuhkan untuk tahun ini apa?

Untuk BEM ke depan, kita mau mengusung arah kelembagaannya yaitu inovatif berkoridor. Jadi inovatif berkoridor itu adalah harapannya dari BEM teknik ke depan dalam pelaksanaan program kerjanya itu melakukan inovasi, tapi tetap dalam koridor yang ditentukan. Dalam artian ada batasannya. Tapi kami berusaha semaksimal mungkin membuat inovasi, dan membuat KBMT serta staf-staf [BEM]-nya berpikir kreatif nantinya. Fokus dari kelembagaan ini sendiri bakal ningkatin potensi dari KBMT, dan potensi ini lebih ke arah penalaran sama prestasinya. Ini masuk ke semua departemen. Kalau penalaran kan ada departemen yang kelas penalaran, mungkin dari psdm-nya, dari kastratnya. Terus prestatifnya di [Departemen] Ristekim sama [Departemen] Eksplorasi itu rencananya bakal ningkatin prestasi. Ga cuma sekedar bikin acara asik-asikan, tapi kita juga membantu untuk KBMT.

Kalau dari 10 departemen ini ada yang paling ditonjolkan untuk mengusung inovatif berkoridor itu?

Ga ada sih. Semuanya sama. Semuanya diharapkan dapat memberikan inovasi dari masing-masing departemennya.

Untuk sistem pembinaan tahun ini ada perubahan, gimana pengaruhnya ke proker BEM?

Ketika kita berbicara tentang pengabdian, sebenarnya ga begitu pengaruh ke proker BEM yang akan kita usung ke depan. Ini targetannya kan dari Maba 2019, dan dari proker BEM pun sudah tersusun berdasarkan GBHK [Garis Besar Haluan Kerja, red] yang dibahas di Kongres Mahasiswa Teknik. Kaitannya ga ada, ini program pembinaan kan belum selesai. Masih ada rangkaian acara ke depan, yang pasti dengan di BEM sekarang tetap ingin menjalankan kedaulatan mahasiswanya untuk menjalankan PROBINMABA sesuai dengan apa yang diharapkan. Cuma dari masukan pihak dekanat, tentunya akan lebih dikordinasikan dengan baik, supaya tidak terjadi ibaratnya ‘kecolongan’ seperti kejadian yang kemarin.

Kejadian ‘kecolongan’ yang kemarin itu berarti dianggap kecolongan dari pihak BEM sendiri?

Iya, karena setelah proses koordinasi yang dilakukan, ada salah satu segmen kegiatan yang tidak disampaikan kepada pihak panitia. Padahal itu setelah melalui beberapa rapat koordinasi. Jadi, mungkin harapan ke depannya, semua rangkaian yang ingin diberikan dekanat lebih dikontrol, harus benar-benar jelas. Supaya tidak jadi kecolongan seperti kemarin.

Hal ‘kecolongan’ kemarin di rundown memang belum dikoordinasikan dari pihak dekanat sama panitia, atau gimana?

Jadi sebenarnya itu ceritanya gini, dari dekanat itu ingin memegang secara penuh dari kegiatan Krida 1 kemarin. Dari panitia akhirnya setelah melakukan proses mediasi dan koordinasi, akhirnya dibagi setengah-setengah kegiatannya. Dibagi dari kegiatan dekanat sama kegiatan panitia. Dan rundown dari dekanat cuma diberikan secara umum, tidak secara khusus. Dekanat jadwalnya sampai sebelum ishoma.

Di rundown yang dekanat berikan itu berarti memang sepenuhnya tanggung jawab dekanat? Panitia tidak ada yang turun serta ke lapangan?

Ada, tetap dibantu sama panitia, cuma ya dari pembawa acara juga dari dekanat. Maksudnya tidak sepenuhnya panitia. Tapi tetap diawasi panitia, dan panitia juga gabisa ikut campur karena acara juga udah berjalan.

Kalau untuk proses pembinaan selanjutnya itu tanggapan ke dekanat mau seperti apa?

Seperti yang sudah saya paparkan kemarin, tetap apa yang ingin diharapkan dari pogram pembinaan ini berjalan semestinya. Dan untuk ke depannya, koordinasi dengan dekanat lebih dimaksimalkan lagi. (khodi/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.