Apatte 62 Brawijaya Sabet 3 Gelar Juara di KMHE 2019

KMHE (Kontes Mobil Hemat Energi) 2019 yang diadakan pada 24-28 September lalu diikuti oleh 80 tim dari 45 perguruan tinggi dengan total 640 peserta dari seluruh Indonesia. Universitas Negeri Malang sebagai penyelenggara yang ditunjuk oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melombakan mobil-mobil hemat energi ini di Jalan Simpang Ijen-Jalan Jakarta, Kota Malang.

KMHE sudah digelar sejak tahun 2012 dengan nama Indonesian Energy Marathon Challenge (IEMC). Baru di tahun 2014 berganti nama menjadi Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) yang disponsori oleh Kemenristekdikti.

Tahun ini, tim dari Universitas Brawijaya mengusung mobil hemat energy andalanya dalam 4 kelas, dengan masing-masing nama tim adalah Apatte 62. Dari 2 kategori, yaitu kategori prototype dan kategori urban, Apatte 62 mengirimkan masing-masing tim. Pada kategori prototype, Apatte 62 mengikuti kelas prototype listrik dan prototype diesel, sedangkan dalam kategori urban menjajal kelas urban listrik dan urban etanol. Dari 4 tim yang dilombakan, Apatte 62 Brawijaya berhasil membawa pulang 3 gelar, yaitu:
Juara 1 untuk Kategori Prototype Motor Pembakaran Dalam Solar
Juara 3 untuk Kategori Urban Listrik KMHE
Juara 2 untuk Kategori Eco-race KMBHE (Kontes Mobil Balap Hemat Energi)

 

(SImak juga, Gallery LPM Solid: Apatte 62 Brawijaya di KMHE 2019)

 

Selama 4 bulan persiapan tim mengikuti perlombaan ini, mereka turut menemui kendala. Menurut Rayhan Nabil selaku driver kelas urban listrik serta divisi elektrik tim, kendala yang tim mereka alami diantaranya adalah di bagian motor-listrik. Dalam pengakuannya, poros motor-listriknya sempat patah, dan untuk bagian controller motor-listriknya juga fail. Meski kendala ini dialami sebelum dan setelah lomba, tim mengaku kendala ini sudah teratasi dengan baik.

“Beban motor-listrik ini sudah terlalu berat untuk mobil, jadi beban puntirnya dari si poros ini sudah terlalu berlebihan, overload. Untuk controller yang fail juga, masalahnya karena memang sudah lama [digunakan]. Sejak dua tahun lalu belum pernah fail, fail-nya baru tahun ini.” Ungkap Rayhan mengenai alasan fail.

Tim Apatte 62 Brawijaya kerap mengikuti KMHE yang dilaksanakan setiap tahun. Inovasi yang dilakukan tim Apatte 62 Brawijaya pada KMHE tahun ini yaitu mengembangkan sisi engine dan dari sisi penggerak.

“Untuk tim etanol itu dari spesifikasi engine, dari karakterisasi engine-nya berubah. Mulai dari engine, mulai dari sisi penggerak. Penggeraknya di desain sesimpel mungkin, seringan mungkin. Untuk mengurangi gaya gesek pada sisi penggerak.” Jelas Muhammad Yasir sebagai General Manager dan mekanik tim.

Sedangkan untuk tim urban listrik, ungkapnya, yang dikembangkan adalah dari segi motor-listrik. Muhamman mengklaim bahwa tahun ini tim menggunakan tipe motor-listrik yang berbeda.

Tim Apatte 62 Brawijaya berharap, dengan mengikuti kontes KMHE ini, dapat mengikuti perlombaan-perlombaan selanjutnya. Tim telah menargetkan untuk mengikuti perlombaan Shell Eco Marathon Asia yang akan diadakan di Malaysia, serta Driver World Championship (DWS) di kancah internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.