POLA KEBIJAKAN ICMI MASA DEPAN YANG SINERGIS MENDORONG PERBAIKAN KUALITAS UMAT DAN BANGSA SESUAI PADA KHITTAH PENDIRIANNYA

(Disampaikan pada acara Simposium Nasional tentang Redefinisi dan Reaktualisast ICMI, 4-5 November 2000, Malang Jawa Timur)

Oleh: Achmad Tirtosudiro (Pj. Ketua Umum ICMI Pusat)

 

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum, Wr, Wb.-

Alhamdulillah, marilah kita bersama memanjatkan puji syukur pada Allah SWT karena dengan rahmat dan karunia-Nya kita kembali berbicara tentang ICMI di Malang, tempat bersejarah bagi ICMI khususnya, dan perjalanan umat dan bangsa Indonesia pada umumnya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, serta pengikut beliau, khususnya cendekiawan muslim Indonesia yang senantiasa istiqomah dan sabar dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Selanjutnya saya ucapkan terima kasih atas kehormatan untuk berbicara pada acara hari ini, dengan tema: “Pola Kebijakan ICMI Masa depan yang sinergis mendorong perbaikan kualitas umat dun bangsa sesuai pada Khittah pendiriannya” sesuai yang ditugaskan panitia kepada saya.

Peserta Simposium yang saya hormati,

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia adalah wadah bagi para cendekiawan muslim untuk beramal, berkreasi, berkomunikasi dan berprestasi guna mengangkat kehidupan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia, dalam rangka pengabdiannya kepada Allah SWT. Dasar dari gerakan ICMI tersebut berpangkal pada tiga hal : Ke-Islaman, ke-Indonesiaan dan Kecendekiawanan.

Sebelum saya berbicara lebih jauh tentang pola kebijakan ICM1 masa depan yang sesuai dengan khittah pendiriannya, ada baiknya kita menengok ke belakang sepintas sejarah Islam nusantara. Ratusan tahun yang lalu, bangsa kita telah menjalin hubungan perdagangan dengan dunia Timur Tengah, barang-barang yang diperdagangkan adalah bahan-bahan wangi-wangian, seperti kayu cendana dan kapur barus dari Sumatera Utara, dll, komoditi yang amat diperlukan oleh pusat-pusat kebudayaan Yunani dan Arab. Bersamaan dengan itu patut kita ingat bahwa dua kerajaan Nusantara yang menjadi prototipe negara nasional Indonesia Raya, yaitu Sriwijaya yang Budha di Sumatera dan Majapahit yang Hindu di Jawa, berturut-turut mengalami puncak kejayaan bersamaan dengan Dinasti Abbasiyah di Baghdad, dan juga kejayaan Kesultanan Mogul di India.

Perkembangan Islam di tanah air baru benar-benar berkembang sampai ke pelosok-pelosok pedalaman setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit (1478) dan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511), yaitu peralihan abad ke-15 ke abad 16, dimana Dunia Islam Internasional waktu itu sudah benar-benar kehilangan elan vital-nya, dan dunia barat sedang bergerak menggungguli dunia Islam melalui “Renaissance“-nya. Dengan itu dimulailah penjajahan dunia barat terhadap dunia timur, diawali dengan penaklukan Malaka oleh Portugis yang dijadikan simbol oleh penjajah lainnya  Spanyol, Belanda, Inggris dan Perancis. Banyak kalangan memandang bahwa penjajahan Barat terhadap Dunia Islam adalah kelanjutan dari pergumulan antara dua Peradaban.

Oleh karena itu, wajar perlawanan paling sengit terhadap kolonialisme dan imperialisme Barat di Nusantara, dipimpin langsung oleh para Ulama dan Umara, Islam juga telah memberikan bekal penduduk nusantara dengan wawasan hidup yang lebih merdeka, terbuka dan egaliter, serta melengkapinya dengan aqidah yang tangguh untuk melawan setiap penindasan dan penjajahan. Jadi dapatlah dikatakan Islam sehagai sumber utama patriotisme Nusantara, yang kelak tumbuh berkembang menjadi pangkal berdirinya Indonesia Merdeka.

Hadirin Peserta Simposium yang Terhormat,

Salah satu akibat dari penjajahan adalah kecenderungan umat Islam tersingkir dari percaturan politik yang memerlukan tingkat pendidikan modern yang cukup. Dapat dikatakan energi umat selama masa penjajahan lebih tercurah pada aktifitas fisik “JIHAD“. Banyak bukti sejarah yang melibatkan umat Islam pada saat-saat “kritis bangsa” melakukan pengorbanan yang luar biasa bagi bangsa dan negaranya.

Muhammad Natsir mendapat kepercayaan dari Presiden Sockarno untuk memimpin pemerintahan pertama setelah penyerahan kedaulatan, awal tahun 1950. Melalui dua orang menterinya, Menteri Agama K.H.A Wahid Hasyim dan Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Dr. Bahder Djohan, dibukalah pintu-pintu pendidikan modern kepada Umat Islam. Hasilnya adalah terciptanya legitimasi psikologis-politis dan keagamaan bagi sistem pendidikan nasional dalam pandangan umat Islam.

Dengan legitimasi itu mulailah umat Islam berkembang, hasilnya pada tahun 1970-an, kalangan “Kaum Santri” umat Islam terdidik menjadi perintis, pelopor dan sponsor berbagai kegiatan keagamaan di semua sektor kehidupan, sehingga gairah hidup keagamaan terus merambah dari surau-surau menuju gedung gedung di berbagai kota besar di Indonesia.

Dari sejarah tersebut, dapatlah terlihat bahwa berdirinya ICMI adalah kemauan seiarah, dan ICMI berdiri adalah bagian dari proses panjang perjuangan Umat Islam di Nusantara.

Hadirin Peserta Simposium Yang berbahagia,

Berdasarkan hal yang saya sampaikan diatas, maka agenda kegiatan ICMI meliput ruang lingkup keseluruhan wilayah Indonesia dan menjangkau masa depan yang jauh. ICMI menyadari sebahagian besar umat Islam hidup di negeri-negeri yang masih tertinggal, berhadapan dengan proses globalisasi yang didominasi oleh kekuatan negara-negara barat. Dalam kondisi seperti ini ICMI dituntut untuk mampu menterjemahkan nilai-nilai universal Islam dan konteks globalisasi dunia sekarang ini.

Pelaksanaan tanggung jawab yang berat namun suci ini menuntut setiap cendekiawan muslim yang bergabung di dalam ICMI untuk meningkatkan diri mereka sebagai hamba-hamba Tuhan yang kreatif, cerdas, jujur, terampil, di samping memiliki iman dan taqwa yang kuat kepada Allah SWT. Para anggota ICMI juga diharapkan menyadari tanggung jawab sebagai Umat Penengah (ummat wasath, atau “wasit) yang mampu menjadi saksi yang adil dan jujur atas berbagai persoalan umat manusia. ICMI juga menyadari lingkungan sosial budaya Indonesia yang masih menunjukkan sisa-sisa animisme, kepercayaan palsu berupa khurafat, takhayul, dan mitologi lain, untuk itu perlu diberi pembinaan melalui program pendidikan yang efektif tentang pandangan hidup Al-qur’an. Dari sudut pandang yang lebih luas, perhatian manusia hanya pada segi kehidupan duniawi atau hanya pada kehidupan ukhrawi melanggar prinsip- prinsip keseimbangan yang amat sentral dan diutamakan pada ajaran Islam. Karena hidup yang berpegang teguh kepada prinsip keadilan dan keseimbangan merupakan fitrah dari Allah SWT.

Hal lain yang lebih penting menjadi perhatian ICMI adalah tentang harga diri dan martabat yang perlu ditegakkan kembali, sehingga tidak lagi ada sikap-sikap yang cenderung merasa “minder”. ICMI merasa bertanggung jawab untuk memberikan penyadaran tentang berbagai keunggulan umat Islam. Terkait dengan hal itu, juga tentang pentingnya meningkatkan rasa Ukhuwah Islamiyah, yang pada saat ini ditangani dirasakan sangat urgen/penting untuk segera ditangani.

Peserta Simposium yang terhormat,

Dari semua hal diatas, diharapkan cendekiawan Muslim Indonesia memiliki dua kesadaran pokok: pertama, bangkitnya semangat menerapkan secara efektif ilai-nilai budaya bangsa yang Islami dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kedua, munculnys kesadaran atas pentingnya penguasaan ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai konsekuensi logis dari persaingan global antar negara. Kedua hal tersebut, yaitu penguasan IMTAQ dan IPTEK yang merupakan prasyarat penting bagi pembinaan dan pengembangan manusia di masa mendatang.

Untuk menguatkan itu semua, dirumuskanlah program Tunggal ICMI yang dirancang sebagai visi dasar bagi upaya pengembangan sumber daya manusia. Program tunggal ICMI yang dikenal program 5-K, yaitu (1) Peningkatan Kualitas Iman, (2) Peningkatan Kualitas Pikir Manusia Indonesia, (3) Peningkatan Kalitas Karya, (4) Peningkatan Kualitas Kerja, dan (5) Peningkatan Kualitas Hidup.

Sebagai wujud komitmen ICMI kepada masyarakat, dapat dilihat dengan adanya berbagai program unggulan ICMI, seperti Pinbuk dengan ribuan BMT yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara, Beasiswa Orbit, Gerakan Wakaf Buku, Media Massa Umat: Republika, Adil: Mupakat di bidang kesehatan, Dompet Dhu’afa di bidang sosial Maffikib: bidang pendidikan, Asuransi Takaful, Bank Mu’amalat Indonesia dan Konsep Bank Syariah, dan berbagai program lain.

Hadirin peserta simposium yang berbahagia.

Semua yang saya sebutkan adalah hanya sebahagian dari apa yang menjadi komitmen dan kebijakan ICMI untuk meningkatkan kualitas umat untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Sebagai penutup saya ingin menyampaikan bahwa setiap cendekiawan muslim hendaknya memiliki kesadaran akan dasar, makna dan tujuan hidupnya, yaitu iman dan taqwa kepada Allah SWT dan insyaf bahwa kita akan kembali kepada-Nya, kelak.

Demikian, terima kasih atas perhatianmya.

Wassalamu’alaikum, Wr, Wb.

Pj. Ketua Umum ICMI

Achmad Tirtosudiro

 

(Tulisan ini termuat dalam LPJ Simposium Nasional “Redefinisi dan Reaktualisasi ICMI” Tahun 2000 dan diketik ulang oleh Anggota LPM SOLID FT UB, Annisa Giani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.