IDEALISME PERS MAHASISWA

*) tulisan ini merupakan arsip Majalah SOLID edisi ke 6 tahun 1988 rubrik PERS oleh Ali Mundakir (8701060065 – Mesin), ditulis kembali oleh Demi Rosmandira – Teknik Kimia

Pada beberapa waktu yang lalu, kita memperingati Hari Pers Nasional (HPN) yang ke-4. Dan sekaligus merupakan hari jadi persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Apa yang sebetulnya dapat kita ambil sebagai pelajaran dalam momentum ini.

Dalam zaman yang serba begini wah dan semakin meningkatnya kebutuhan akan suatu bentuk komunikasi antara manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, maka manusia memerlukan suatu media untuk dapat mewujudkannya. Dan sebagai hasilnya kita dapat melihat telefon, televisi, radio, pers, dll. Dengan tidak mengesampingkan arti penting dari media-media yang lain selain pers, maka peranan pers sangatlah besar. Bagaimana tidak, pers memiliki bentuk tersendiri yang lebih praktis bila dibandingkan dengan yang lainnya serta lebih bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Coba anda bayangkan bahwa informasi yang disampaikan melalui radio, televisi, ataupun yang lainnya tidaklah bersifat permanen dalam hal materinya (bukan materi beritanya). Sebab begitu suatu informasi disampaikan maka kebanyakan orang yang menerima hanya akan ingat begitu saja. Dan dalam menyampaikannya kepada orang lain ia tidak akan memiliki bukti yang otentik (kecuali kalau meminta naskahnya ke TVRI/RRI), tapi hal seperti ini jelas jarang sekali dilakukan oleh orang. Lain halnya bila informasi tadi disampaikan lewat surat kabar atau majalah misalnya, yang keduanya tentu merupakan bagian dari pers.

Sejarah Pers
Sebetulnya sudah sejak lama para wartawan sudah memimpikan berdirinya suatu organisasi profesi bagi dirinya yaitu sekitar tahun 1910. Tapi baru pada tahun 1915 lah terbentuk apa yang dinamakan “Inlandishe Journalisten Bond” yang kemudian disusul dengan organisasi-organisasi sejenis lainnya. Namun perlu diingat bahwa kesemua organisasi-organisasi tersebut masih bersifat lokal dan masih belum mempunyai aktivitas yang jelas. Hal ini mungkin disebabkan oleh situasi politik yang tidak begitu menguntungkan dimasa itu. Hal seperti itu berjalan hingga zaman kemerdekaan. Setelah kemerdekaan maka pada tanggal 9 Februari 1946 lalu dibentuk suatu organisasi yang diberi nama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Dan tanggal inilah yang diperingati sebagai hari PWI sampai sekarang.

Fungsi Pers
Pada masa diawal kelahirannya, pers merupakan alat yang begitu efektif disamping radio sebagai sarana perjuangan bangsa dan Negara (dalam hal ini kelahiran PWI dianggap sebagai kelahiran pers Indonesia juga). Dan hal ini betul-betul dimanfaatkan oleh para pemimpin pergerakan pada waktu itu. Kita lihat bahwa pada saat itu banyak para wartawan asing yang berkeliaran di Indonesia. Hal ini tentunya menguntungkan bagi kita di mata Negara-negara dunia.

Sejalan dengan perkembangan zaman, maka perspun turut berkembang dengan warna yang tersendiri. Melampaui dekade-dekade yang panjang, dan pers masih memegang peranan penting. Hal ini terus berjalan hingga pada tahun 1965 dimana saat-saat Negara menghadapi pemberontakan PKI yang terkenal ganas, dan sesudahnya yaitu pada tahun 1966. Di tahun ini pers kembali memperlihatkan kehandalan dirinya. Di masa yang penuh dengan kekacauan akibat kebobrokan dari sistem pemerintahan orde lama, dan ketidakbecusan para pejabat pemerintah. Para mahasiswa bangkit dengan kritik-kritiknya yang tajam dan agitasi-agitasinya untuk menggerakkan massa melalui surat kabar. Di sinilah peranan besar pers saat itu, Koran-koran mahasiswa tiap hari menyajikan ide-ide yang otentik dari para pemikir. dan hal ini tentunya membawa hasil yang tidak sedikit, seperti terlihat dalam catatan sejarah. Koran-koran banyak memberikan ide-ide pembaharuan dan mendukung lahirnya orde baru. Bahkan seorang pengamat politik Indonesia yang berasal dari Prancis telah menjadikan Koran-koran pada masa itu sebagai pokok kajian dalam menulis buku yang berjudul “Idologi dan Politik Mahasiwa Indonesia”.

Lalu bagaimana peranan pers pada masa sekarang ini? Didalam zaman informatika seperti dewasa ini maka pers memiliki kedudukan yang amat penting. Seluruh aktivitas manusia sudah hampir bisa dijangkau oleh pers, dan kejadian yang terjadi di luar wilayah kita juga bisa kita ketahui dengan cepat. Sebagai dalam ilmu komunikasi dinyatakan bahwa pers sebagai salah satu dari media massa mempunyai peranan dalam kerangka mekanisme komunikasi sosial yang bisa dianggap sebagai agent of development dan agent of change yang berkembang dalam multi dimensi. Sehingga pers bukan hanya merupakan sumber berita, melainkan merupakan kekuatan lain yang dimilikinya adalah perannya dalam membentuk pendapat umum (public opinion). Hingga pers juga dianggap sebagai penunjang pelaksanaan dan penyelesaian tugas-tugas pembangunan.

Meskipun demikian satu hal yang perlu diingat bahwa pers tidak memiliki kebebasan yang penuh dalam menjalankan tugasnya maupun fungsinya. Pers memiliki kode etik tertentu. Jadi kebebasan pers Indonesia adalah kebebasan yang bersyarat, atau dengan lain kata kebebasan yang bertanggung jawab. Sama seperti hal-hal yang lainnya di negeri kita yang tercinta ini. Sekali lagi kebebasan yang bertanggung jawab. Entah bagaimana persepsi tentang tanggung jawab ini antara kita dan orang-orang yang berada di atas kita.

Pers Mahasiswa Bagaimana???
Melihat sejarah dan fungsi pers dalam menunjang pembangunan seperti diatas, lalu apa jawab kita bila kita dihadapkan pada satu pertanyaan “Bagaimana dengan pers mahasiswa dari hasil yang telah dicapai dalam pers selama ini? Pertanyaan semacam ini tentunya akan membuat kita mau tidak mau harus menoleh sebentar ke kiri dan ke kanan, untuk melihatnya. Dalam dekade-dekade terakhir ini pers mahasiswa dengan tulisan-tulisan yang ada di lingkungan kampus menunjuk nadanya gejala-gejala ke-aku-an yang semakin menonjol. Mahasiswa semakin terkotak-kotak dalam dunianya masing-masing tanpa berusaha menengok ke dunia lain. Ataupun kalau ada tidak akan terlalu jauh, atau juga paling-paling yang bisa menunjang dunianya sendiri. Suasana beginikah yang memang diidamkan dalam mewujudkan kampus sebagai masyarakat ilmiah. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa dunia yang semakin serba spesialisasi inilah yang menuntut keadaan yang seperti sekarang ini. Dengan keadaan yang seperti sekarang ini. Dengan keadaan yang semacam ini, maka tidaklah mengherankan bila pers mahasiswapun tidak berkembang dalam multi dimensi, melainkan pada satu dimensi dimensi saja. Yaitu hal-hal yang akan menyangkut profesinya di masa yang akan datang. Mereka tekun dalam menggeluti bidangnya masing-masing.

Idealisme Pers Mahasiwa
Pers mahasiswa tampaknya memang betul-betul dimanfaatkan sebagai sarana pemberi informasi dalam bidang-bidang yang profesinya di masa yang akan datang. Walaupun toh terkadang terdapat sekelumit tulisan yang menyangkut masalah-masalah diluar bidang profesi, namun itu toh tak begitu seberapa, paling-paling hanya masalah lingkungan kampus. Bahkan Cuma lingkup satu fakultas. Cuma itu saja, lain tidak.

Coba sekali lagi kita tengok peranan pers yang sesungguhnya, kalau kita bandingkan dengan keadaan yang ada sekarang ini di dalam dunia ke mahasiswaan. Lalu ada semantara orang yang berfikir bahwa memang dunia pers mahasiwa tidaklah sama dengan pers yang ada pada masyarakat pada umumnya. Jadi hal itu sudah wajar, dari satu sisi antara pers mahasiswa dan pers masyarakat memang berbeda, tetapi pers yang mempunyai peranan sebagai agent of development atau agent of change, sekaligus mempunyai peranan dalam membentuk pendapat umum (public opinion). Jadi pers mahasiswa hendaknya lebih berani dalam mengemukakan pendapat-pendapat yang original mengenai situasi masyarakat disekelilingnya yang mencakup suatu areal yang luas. Dan juga hendaknya pers mahasiswa menjadi sumber daripada ide-ide pembaharuan untuk masyarakat yang memang sangat membutuhkannya.

Mahasiswa sebagai calon intelektual-intelektual harus bisa mengembangkan daya tanggap terhadap masyarakat sekitar yang lebih luas, maka dalam memberikan pendapat-pendapatnya haruslah disertai dengan analisa-analisa yang betul-betul ilmiah. Bukan sekedar kritik, ataupun sekedar asal cuap. Sehingga akan tercipta suasana yang betul-betul menggairahkan dalam kehidupan kampus. Kebiasaan mengeluarkan pendapat (tapi ingat harus tanggung jawab) akan benar-benar tercipta. Kebebasan yang bertanggung jawab disini bisa diartikan bahwa pendapat-pendapat kita itu tadi dilandasi dengan alasan-alasan dan analisa yang betul-betul ilmiah. Bukankah mahasiswa diperolehkan untuk mempelajari politik dalam kampus, asalkan tidak politik praktis.

Suasana yang demikian ini akan mendukung terciptanya kampus sebagai masyarakat ilmiah yang berkembang dalam multi dimensi. Mahasiswa akan memiliki wawasan atau gambaran yang jelas mengenai situasi dan kondisi dari masyarakat sekitarnya. Hal ini tentu saja merupakan modal dari mahasiswa dalam mempersiapkan dirinya untuk terjun langsung dalam masyarakat.

Untuk mencapai hal-hal seperti diatas, maka perlunya diciptakan suatu kesetimbangan di dalam tubuh pers mahasiwa. Kesetimbangan disini dimaksudkan adalah kesetimbangan dalam masalah penyajiannya. Memang sebagai seorang calon pekerja yang nantinya akan terjun ke lapangan kita mebutuhkan infomasi-informasi yang bisa menunjang kebutuhan kita di masa yang akan datang. Sekaligus teori-teori yang berhubungan langsung dengan profesi kita. Namun dipihak lain kita juga tak boleh begitu saja mengabaikan situasi yang ada disekitar kita misalnya saja tentang situasi yang sekarang sedang berjalan di masyarakat ataupun masalah birokrasi di Negara kita ini dan lain-lain. Untuk itu pers mahasiswa hendaknya memperluas peranannya dalam membentuk pendapat umum (Public Opinion) sehingga pada akhirnya nanti pers mahasiswapun akan bisa menjadikan dirinya sebagai salah satu kontrol sosial yang ampuh. Dan kehidupan kampus tidak melempem.

Jadi keseimbangan dalam penyajian pers mahasiwa perlu sekali diadakan. Agar pers mahasiswa betul-betul berkembang dalam multi dimensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *