Terima Kasih Untuk (Tidak) Merokok di Teknik

Terima Kasih Untuk (Tidak) Merokok di Teknik

Oleh: Muhammad Iqbal

Merokok sudah menjadi salah satu kebutuhan rumah tangga bagi rakyat Indonesia. Data dari Riskesdas menunjukkan bahwa dua dari tiga pria di Indonesia merupakan seorang perokok, dan sebanyak 60% mulai merokok dari usia 9 sampai 16 tahun. Berarti mayoritas seorang bocah kelas dua atau tiga di Sekolah Dasar sudah bisa memulai hari dengan menghisap sebatang rokok kretek yang dibeli dengan uang jajan mereka.

Lebih menyedihkannya lagi bahwa dari data perokok di Indonesia, sebanyak 40 persen adalah orang miskin. Dan sebanyak 60 persen penghasilan digunakan untuk membeli rokok. Sebuah gambaran bagi prioritas sebagian orang-orang kaum marginal di Indonesia yang rela beli sebungkus rokok ketimbang asap dapur yang mengebul.

Di lain sisi, dalam APBN 2017, pendapatan negara dari cukai rokok mencapai Rp 149,9 triliun. Penerimaan cukai rokok ini setara dengan 10 persen target pendapatan pajak 2017 yang sebesar Rp 1.498 triliun. Dengan biaya yang didapatkan industri rokok, masyarakat dapat membangun rumah sakit, jalan raya, dan begitu banyak fasilitas publik di Indonesia.

Industri rokok merupakan bagian yang besar dan masif melibatkan berbagai sumber daya manusia, membantu buruh pabrik rokok, dan tentunya menyumbang pendapatan negara. Tentunya pemerintah harus berpikir dua-tiga kali untuk mengelimimasi rokok sebagai salah satu pendapatan negara karena dampaknya yang dapat terkena kepada masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada daun tembakau dari hulu (pertanian tembakau) sampai hilir (konsumen rokok)

Hal ini diamini pula di lingkungan kita sekarang, bahwa sebagian besar mahasiswa yang ada di Fakultas Teknik setidaknya pernah atau rutin mengonsumsi rokok. Dapat dijumpai di daerah kantin teknik atau pun gedung kemahasiswaan mahasiswa teknik sembari menunggu kelas atau sekedar nongkrong-nongkrong sembari menghisap rokok. Kedua tempat diatas merupakan ruang publik dimana non-perokok juga mempunyai hak atas udara bersih tanpa asap rokok, akan tetapi perokok juga mempunyai hak untuk mengonsumsi produk yang legal dan turut menyumbang pendapatan negara.

Masalah merokok di tempat umum sebenarnya dapat diatasi dengan membuka ruang-ruang khusus perokok di beberapa tempat di Fakultas Teknik, seperti yang sudah ada di daerah Pasca Sarjana dan FEB. Ruang khusus merokok dapat menjadi solusi karena dengan menyediakan tempat yang khusus, dimana perokok dapat mendapatkan haknya untuk merokok dan non-perokok bisa menghirup udara tanpa asap rokok.

Tetapi yang menjadi pertanyaan besar apakah langkah ini merupakan salah satu langkah bagi kampus sebagai “konfirmasi” bagi para perokok muda dengan membuat tempat khusus bagi para perokok?

Jika kita menganalogikan ruangan khusus merokok dengan lokalisasi pelacuran pada tahun 70an di Jakarta. Gubernur Jakarta pada waktu itu, Ali Sadikin, melegalkan prostitusi dan melokalisasi nya. Tentu banyak pihak dari aktivis perempuan dan ormas islam yang tidak sepakat dengan langkah ini dengan logika melokalisasi perzinahan sama dengan melegalkannya.

Tetapi tidak semua tokoh menolak ide Ali Sadikin salah satunya tokoh NU K.H. Harun Al Rasyid setuju dengan syarat dua syarat: lokalisasi menjadi salah satu tahapan menuju akses lokalisasi dengan tuntas dan juga mengurangi akses hidung belang.

Dengan analogi diatas, seharusnya ruangan khusus merokok di lingkungan Fakultas Teknik BUKAN merupakan langkah untuk mengonfirmasi bahwa merokok adalah hal yang baik untuk kesehatan dan boleh dilakukan di dalam kampus, namun bertujuan untuk menjadi langkah awal dalam penambahan lokasi bebas asap rokok untuk mendukung masyarakat yang sehat tanpa rokok.

Dari semua dampak dan dilema untuk mengadakan ruang khusus rokok di area teknik, seharusnya hal ini didukung sebagai salah satu langkah awal untuk merehabilitasi para perokok untuk tidak merokok lagi. Salah satu cara paling inovatif nya: dengan mendesain ruang khusus merokok dengan liang lahat atau kuburan, dan ditambahkan tulisan sambutan di pintunya yang bertuliskan “Terima Kasih Telah Merokok”.

Esai ini ditulis pada saat pelatihan desain grafis dan penulisan esai yang diselenggarakan oleh LPM SOLID FT UB, pada 1 Desember 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.