Makna di Balik Film Mimi Peri Turun ke Bumi

Oleh: Nun Faiz Habibullah Ahmad*

Pertamakali melihat film mimi peri yang berjudul turun ke bumi, kesan pertama saya film ini tak mendidik. Namun film tersebut dikemas secara profesional, dan itu menunjukkan keseriusannya membuat film. Semua pikiran negatif bermunculan di kepalaku. Mungkin hal itu normal. Namun, pernahkah berpikir apa yang tampak buruk tak semuanya buruk. Tulisan ini mencoba untuk melihat apa makna di balik film tersebut. Apabila dilihat secara sekilas, film itu mungkin tak ada mendidiknya bagi kita, hanya bersifat hiburan saja, namun mari kita lihat apakah ada makna yang bermutu dari episode 1 sampai 6.
“Tayangan ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan, kesal, tertawa tanpa sebab, serta gangguan jiwa lainnya. Untuk hiburan”. Itulah tulisan yang pertama kali muncul di episode 1. Memang benar bahwa ketika melihat film tersebut saya merasa kesal, serta mengalami gangguan kejiwaan, merasa tak waras. Namun saya yakin setiap sesuatu ada negatif dan positif, ada hitam ada putih, ada atas ada bawah, dan seterusnya. Begitupula dengan film tersebut. Mari kita mulai bahas.
Berikut prolog episode 1: banyak hal dalam hidup ini yang bisa terlihat jelas, tapi pernah kah kalian berpikir apa yang terlihat belum tentu seperti pemahaman kita. Para ahli antariksa meneliti puluhan tahun hanya untuk mencari kebenaran, bagaimana langit bekerja, atau bintang berpendar, apakah benda-benda itu memiliki nama seperti yang kita tahu. Apakah benar sudah ada orang yang pernah menginjakkan kaki di bulan? Apakah ada kehidupan disana? Semua pertanyaan memaksa akal kita untuk berpikir tapi selalu ada batasan, pandangan, pengetahuan, yang membuat kita membenarkannya untuk sementara waktu. Namun ada energy besar yang siap mengorbankan hal hal besar untuk sekedar tahu. Sama seperti dia melakukan perjalanan diluar batasnya hanya untuk menjawab pertanyaannya.
Menurut saya, sepintas prolog tersebut terlihat biasa, tapi setiap katanya terdapat makna yang mendalam. “Apa yang kita lihat belum tentu seperti pemahaman kita?” artinya pemahaman sementara yang kita miliki terhadap apa yang kita lihat belum tentu itu adalah kebenaran, bisa saja kita salah namun kita tak sadar bahwa kita salah, bahkan menganggap kita benar.
Kejadian serupa terjadi pada abad 15, Galileo Galilei dihukum mati oleh gereja katolik karena menyampaikan kebenaran tentang bagaimana alam semesta bekerja (bumi bulat) yang bertentangan dengan pendapat publik pada waktu itu (bumi datar). Selama beratus ratus tahun publik mempercayai bumi datar adalah kebenaran pada saat itu. Sampai Aristoteles membenarkan Galileo bahwa bumi itu bulat, disaat itulah publik percaya bahwa bumi itu bulat sampai sekarang, meski akhir-akhir ini ada perdebatan. Oleh sebab itu, manusia mempertanyakan kebenarannya kembali, apa benar bahwa apa yang kita lihat dan pengetahuan yang sementara itu adalah kebenaran yang benar-benar benar.
Pengetahuan manusia akan alam semesta memang selalu berkembang. Oleh sebab itu, manusia memaksa akalnya untuk berpikir tentang kebenaran. Namun, selalu saja manusia memiliki keterbatasan, entah itu keterbatasan penglihatan, pengetahuan, teknologi dan lainnya, yang membuat kita membenarkannya untuk sementara waktu. Mengapa demikian? Jean Piaget (seorang filsuf pendidikan) berkata, “What we see changes what we know, what we know changes what we see,” yang berarti apa yang kita lihat mengubah pengetahuan kita, pengetahuan kita mengubah cara kita melihat.
Lantas, apakah manusia berhenti disitu saja, dan pasrah akan keadaan? Sebagai manusia yang harus selalu berkembang, kita terus mencari kebenaran meski kebenaran hanya milik Tuhan semata. Paling tidak, kita mendekati kebenaran yang hakiki, itu sudah cukup bagi kita, toh artinya kita mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kita diberi bekal besar berupa akal oleh Tuhan untuk mencari tahu melalui penelitian, bahkan mengorbankan triliunan rupiah untuk mencari jawabannya.
Pertanyaan saya adalah, apakah pandangan kita terhadap mimi peri atau sesuatu yang kita anggap buruk adalah suatu kebenaran yang sesungguhnya? Jangan jangan itu hanya covernya saja? Jangan jangan mimi peri hanya acting saja, untuk mengais popularitas guna perbaikan ekonomi? Jangan jangan yang menyebabkan mimi peri bertindak seperti itu karena kesenjangan ekonomi? Mungkin, setelah ekonominya cukup akan menjadi manusia normal? Mungkin saja.
Di Episode 2 ada sisi menarik yang saya rasa cocok dengan kondisi sekarang. “Orang yang waras pura pura gila supaya jadi terkenal”. Sebenarnya, yang gila itu siapa? Kita yang membuat dia terkenal atau dia yang pura pura gila? Apakah kita lebih senang kepada hal hal yang gila daripada hal hal yang bermutu? Mungkin anda bisa menjawab sendiri dengan melihat trending topik di berbagai social media.
Di akhir episode 2 ada pesan yang tertulis sebagai berikut, “Yang salah, salah. Yang benar, benar. Jangan benerin yang salah, jangan salahin yang bener.” Kalimat itu ada benarnya juga ketika kita benar-benar tahu apa yang salah dan apa yang benar. Biasanya, kalimat itu menjadi cocok konteksnya saat memiliki kepentingan dan keuntungan. Misalnya, melihat pertarungan kekuasaan antara si kaya dan si miskin, Terkadang, banyak orang yang membela si kaya (demi sesuatu) meski bersalah daripada membela si miskin meski benar. Sebenarnya yang dibela itu apa? Membela kebenaran atau membela keuntungan.
Pada Episode 3, terlihat orang yang berpenampilan preman, tapi dia baik hati kepada mimi peri dan menjalankan perintah Tuhan, yaitu sholat. Apakah yang bernampilan buruk selalu buruk dan berpenampilan baik selalu baik? Anda sudah tahu jawabannya. Kalau begitu, bagaimana dengan adagium “Don’t judge the book by its cover”? Untuk menjawab pertanyaan itu, sebaiknya perhatikan waktunya. Adagium tersebut berlaku jika kita sudah benar benar tahu tentang suatu hal. Namun, jika tidak, maka adagium tersebut tak berlaku.
Contohnya, saat menjalankan bisnis dengan orang yang belum kenal, yang dilihat pertama apanya? Tentu adalah penampilannya, jika tak meyakinkan (baju compang-camping, kusut dll), kemungkinan besar kita membatalkan bisnisnya. Lain lagi apabila kita kenal dulu ke orangnya, baru adagium tersebut berlaku, misalnya, almarhum Bob Sadino. Siapa yang gak mau berbisnis dengannya meski dia pake celana pendek? Orangnya sudah pasti kompeten dalam bisnis.
Pada Episode 4, saya tak banyak menemukan pesan moral. Mungkin yang dapat saya tangkap pesannya adalah kita sering berwajah ceria tapi sebenarnya saat itu kita sedih, begitupula sebaliknya. Apakah hal tersebut salah karena tak menampilkan ekspresi yang sebenarnya. Belum tentu, bisa salah bisa benar. Menjadi salah apabila kita menampilkan ekspresi yang sebenarnya saat di waktu yang tidak tepat. Misalnya, saat kita sedang melayat ke rumah teman yang berduka, kita jangan terlalu mengekspresikan wajah yang sangat bahagia (misal sampe joget-joget dengan senyum lebarnya) meski kita sedang sangat bahagia (misal dapat rejeki nomplok). kita harus bisa menahan itu karena waktu dan tempat yang tidak pas untuk mengekspresikan kebahagiaan itu. Mengekspresikan kebahagiaan atau kesedihan yang sebenarnya menjadi benar apabila di waktu yang tepat. Misalnya, kita sedang bersedih disaat kita sendirian atau memang dirimu merasa waktu dan tempatnya telah tepat.
Pada Episode 5 ada sceen yang menayangkan wanita berpenampilan preman mencari mimi peri. Kemudian, dia bertanya ke penjaga warung. Si penjaga warung menjawab gak tau dan berkata “Mbaknya cantik cantik nyariknya yang begitu (cari pasangan)”. padahal, sejatinya, dia mencari mimi peri bukan untuk mencari jodoh, tapi untuk bertanggung jawab karena telah meninggalkannya. Artinya, kita sering mendahului persepsi, daripada fakta yang pada akhirnya berujung salah sangka atau salah paham. Tak dapat dipungkiri, kita sering melakukan itu. Sebaiknya kita mengetahui permasalahannya lebih dulu, agar kita memahaminya dengan utuh. Setelah itu, baru kita berkomentar atau berpendapat, namun itu membutuhkan kesabaran.
Pada Episode 6 pesan yang saya dapat adalah Gak semua orang membenci kita meski terlihat semuanya membenci kita, begitu pula sebaliknya. Kembali lagi, ada yang membenci kita, ada juga yang menyayangi kita. Jadi, lakukanlah apa yang seharusnya kamu lakukan, jangan terlalu memperhatikan haters, biarkan haters yang memperhatikan kita. Kita bukan manusia yang sempurna, pasti ada kurangnya. Mengutip kata Ali Bin Abi Thalib, “Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu dan yang membencimu tidak percaya itu.”
Di sceen terakhir saya menangkap pesan yang saya rasa cocok dengan kondisi sekarang. “Jangan unfollow gue” kata itu menarik sekali bagi saya karena menampilkan kekuatan media sosial di jaman teknologi ini. Andai kata Bung Karno, presiden pertama Indonesia hidup di jaman ini, mungkin dia akan berkata “ beri aku sepuluh juta followers, maka akan aku guncang dunia”. Maksudnya adalah kekuatan media social sangatlah berpengaruh terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, banyak sekali contohnya. Misalnya, saat M. Zohri atlet lari 100 meter yang menang di kejuaraan dunia, yang mem-viral-kan adalah media sosial sehingga diperhatikan oleh pemerintah dan swasta (diberi penghargaan dan berbagai bantuan). Andai tak ada media sosial maka nasib M Zohri mungkin tak seberuntung saat itu.
Mengapa pemerintah atau swasta saat mendengar berita viralnya M Zohri kemudian berbondong-bondong memberikan perhatiannya? Apa benar demi menghormati M Zohri?. Tentu saja alasan pemerintah atau swasta adalah seperti itu. Tapi, jika dilihat dari sisi yang berbeda, tentu saja pemerintah atau swasta ingin publik melihat bahwa pemerintah atau swasta itu berbuat baik kepadanya. Jika memang iya, seharusnya atlet yang mengharumkan Indonesia diperlakukan seperti M Zohri. Apa alasan sebenarnya? Tanyalah pada rumput yang bergoyang.
Apa yang saya tulis ini, bukan untuk pembenaran terhadap perilaku mimi peri yang selama ini kita kenal (negatif). Tulisan ini bertujuan untuk menyajikan cara pandang kita terhadap sesuatu yang dianggap buruk. Mungkin saja ada hikmah yang dapat diambil. Ambillah hikmah/ilmu sekalipun keluar dari mulut binatang. Undhur Maa Qoola Walaa Tandhur Man Qoola (lihatlah apa yang dibicarakan, jangan lihat siapa yang bicara). Maksudnya adalah marilah jangan mudah berpikir positif/negatif saja, tapi berpikir adil terhadap suatu permasalahan. Meminjam kata Pramoedya Ananta Toer ‘Bersikap adillah sejak dalam pikiran’. (sebenarnya tulisan ini ingin saya buat sejak pertamakali mengetahui film mimi peri, kurang lebih 7 bulan yang lalu, namun baru terlaksana).
Saya sering menggunakan kata “kita” dalam tulisan ini karena kritik yang saya sampaikan bukan hanya untuk yang dikritik tapi juga untuk yang mengkritik. Kata “mungkin” menunjukkan pendapat saya bisa benar dan bisa salah. Selain alasan itu, mungkin orang lain akan menilai bahwa dalam menyampaikan pendapat, saya itu tidak yakin sehingga menggunakan kata mungkin (kritik terhadap diri saya sendiri tentang kata “mungkin”). Mengapa saya sampaikan ini, agar kita dapat berbenah diri meski mengkritik pikiran sendiri.

*) adalah mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya Malang
Anggota LPM SOLID FT UB
Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *