Memories

Oleh: Indah Mei Yunita

Sejak bersekolah selama dua tahun, belum pernah aku mengenalmu. Bahkan mengetahui namamu saja baru hari itu, Senin pertengahan Juli tahun 2015. Entah memang aku yang kurang bergaul atau dirimu yang tidak terkenal, aku tidak peduli. Jelasnya, sejak Senin itu aku merasakan hal yang berbeda pada hatiku. Entah kau mengetahuinya atau tidak, jantungku berdetak cepat walaupun hanya mendengar seseorang menyebut namamu. Sejak hari itu pula, pikiranku selalu terpenuhi olehmu. Namamu, kebiasaanmu, dan segalanya tentangmu.
Aku mengagumimu semata-mata bukan karena parasmu, melainkan keahlianmu dan kepribadianmu. Kepiawaianmu dalam menggoreskan alat tulis hingga menjadi sebuah karya apik selalu membuat orang-orang di sekitarmu berdecak kagum. Kesabaranmu dalam menanggapi orang-orang yang membutuhkan bantuanmu membuat orang-orang di sekitarmu nyaman. Indahnya senyummu yang jarang sekali kau tampakkan membuat orang-orang terutama kaum hawa di sekitarmu seakan melayang. Sungguh, berada dalam satu kelas bersamamu membuatku terus mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Esa yaitu Allah SWT.
Kenangan-kenangan bersamamu selalu kuingat. Bukan kenangan besar memang, mengingat kau dan aku sama-sama jarang sekali berinteraksi. Namun, hal-hal kecil itulah yang membuatku tak bisa melupakanmu. Hingga sekarang.
Hal pertama yang kuingat yaitu ketika jam istirahat kita sama-sama membeli camilan namun berbeda jenis. Waktu itu, kau menawariku makanan yang mengandung keju di dalamnya dan aku menolaknya. Namun, yang membuatku tidak bisa melupakan kejadian kecil itu adalah reaksimu ketika aku menolak jajajan itu.
“Mau ini?” tawarmu sambil memberikan camilan.
“Tidak, terima kasih,” jawabku.
“Ini, ambil saja.” Kau tetap memaksa walaupun aku menolak.
“Tidak mau,” tolakku lagi.
“Tidak perlu malu-malu, nanti kau tidak bisa tumbuh dengan baik.” Entah mengapa, kata-katamu terdengar lucu dan menurutku, kau juga memiliki sisi perhatian dibalik ketidakpedulianmu. Menanggapinya, aku hanya memalingkan muka dan tersenyum kecil.
Hal kedua, ketika kau menyebut namaku untuk menjawab pertanyaan saat pelajaran Bahasa Inggris. Saat itu, aku terlambat masuk ke dalam kelas karena baru kembali dari kamar mandi. Satu-satunya tempat duduk yang kosong hanyalah di sebelahmu. Alhasil, dengan perasaan gugup sekaligus bahagia, aku pun duduk di sampingmu.
“Dik, tunjuk satu perempuan untuk menjawab pertanyaan selanjutnya.” Saat guru berkata demikian, aku sudah memiliki perasaan jika kau akan menunjukku mengingat aku yang berada di dekatmu.
“Mbak Alea,” katamu dengan senyum yang manis. Saat itu, seisi kelas langsung bersorak karena kau mengatakannya dengan malu-malu dan mungkin hanya kau yang memanggilku dengan nama depan, sementara yang lain memanggilku dengan nama julukanku. Tentu saja, hal itu karena kau memang sangat jarang berinteraksi dengan murid perempuan. Dan aku sudah sangat memahami sikapmu. Jujur saja, saat itu jantungku langsung bekerja dua kali lipat dan telingaku terasa panas. Beruntung aku memakai kerudung, sehingga telingaku yang mungkin memerah tak terlihat. Waktu itu, aku sangat gugup, dan itu hanya karena kau menyebut namaku.
Hal ketiga, saat kau menyapaku ketika kita berpapasan saat break foto untuk album kenangan SMA. Terdengar sederhana memang, karena hanya menyapa. Namun, yang membuatnya terasa spesial bagiku karena kau memang jarang sekali menyapa teman perempuan. Apalagi, saat itu kau menyapaku dengan memanggil nama julukanku. Hal itu tentu membuatku merasa bahwa kita semakin akrab.
Saat itu kau sedang berjalan menuju teman-teman yang berada di tengah lokasi foto usai membeli tahu goreng. Sedangkan aku, berjalan dari arah berlawanan untuk mengambil kunci motor yang masih tertinggal di parkiran. Tiba-tiba saja, saat kita berpapasan, kau berkata, “Mbak Tahu, ini tahu,” katamu sambil menunjuk jajanan yang baru saja kau beli. Mendengarnya, tentu saja aku merasa aneh. Aku pun hanya menatapmu dengan tatapan bertanya. Lalu kau menjelaskan, “Ini seperti namamu. Tahu.” Aku pun langsung tertawa begitu mendengar penjelasanmu yang konyol ditambah lagi dengan wajahmu yang terlihat polos.
Hal keempat, saat kau memutuskan untuk memilih perguruan tinggi. Aku sangat mengingatnya. Saat itu, lagi-lagi kita sedang duduk berjajar sambil mendengarkan penjelasan guru fisika mengenai kelistrikan. Di sela-sela belajar aku bertanya padamu, “Kau berniat melanjutkan ke mana?”
“Masih belum tahu. Yang jelas masih sekitar kota ini. Kalau kau mendaftar ke mana?” tanyamu padaku yang saat itu memang sudah harus mendaftar ke perguruan tinggi negeri.
“Masih bingung juga. Padahal satu minggu lagi sudah harus daftar,” kataku. Saat itu, kau memang tidak lolos untuk seleksi awal SNMPTN karena peringkatmu yang tidak memenuhi syarat. Jujur, saat itu aku tak tahu harus sedih atau bagaimana, karena dengan kau yang tidak lolos seleksi awal, itu berarti membuka peluang bagiku untuk memilih jurusan yang ku mau. Dari awal aku masuk, kau juga masuk dalam daftar orang yang harus kuwaspadai dalam memilih jurusan, karena minat kita yang hampir sama, yaitu pada bidang desain dan perencanaan.
Hal kelima, saat kau membantuku untuk menghafal surat Al-A’la dan Al-Ghasiyah. Kemampuanku dalam menghafal sangatlah buruk, apalagi menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Berbeda denganmu yang sudah hafal sejak lama. Kau terus membantuku menghafal dengan mengingatkan bacaan-bacaan yang salah, meski pada akhirnya aku yang setor hafalan terlebih dahulu karena kau masih mau menunggu sahabatmu untuk setor hafalan bersama.
Sangat banyak hal-hal yang kuingat bersamamu. Saat kita belajar, bercanda, tertawa, bahkan menonton drama Korea bersama. Semuanya masih tertulis lengkap di otakku. Hingga kini, hampir tiga tahun berlalu dan aku masih mengingatnya. Bahkan, semakin lama aku semakin merasa seperti orang bodoh. Terutama ketika tiba saat-saat aku sangat merindukanmu. Pernah, suatu ketika aku melihat orang seperti dirimu. Dan bukan hanya satu orang. Dalam satu hari, aku bisa melihat berkali-kali orang yang menyerupai dirimu. Padahal, kau dan aku tidak memiliki hubungan apapun yang membuat kita saling terikat.
Setelah lulus, aku sudah tidak pernah mendengar kabarmu. Aku tidak memiliki nomor ponselmu. Aku juga tidak menemukan akun sosial mediamu. Kabar terakhir yang kutahu hanyalah sekarang kau melanjutkan pendidikanmu pada bidang desain di institut ternama Indonesia. Harapanku untukmu saat ini hanyalah semoga kau sukses dan memiliki ilmu yang bermanfaat. Sehingga kau dapat membahagiakan keluarga, baik yang sekarang kau memiliki maupun yang nantinya akan kau miliki. Dan, satu-satunya yang bisa kulakukan saat ini hanyalah berdoa dan berserah. Berdoa agar kelak aku bisa bertemu denganmu lagi, berdoa agar kelak aku bisa bercengkerama denganmu lagi, dan berdoa agar aku bisa hidup bersama denganmu hingga kita dipertemukan di surga-Nya.

sumber gambar: google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *