Pejalan Tanpa Jalan?

Di siang bolong Senin (07/05/2018) ini, dengan traffic Brawijaya yang cukup padat menjelang tes SBMPTN, ketika aku berjalan dari Fakultas Teknik ke kantin CL tentu akan melewati jalanan di antara gedung Hukum, FIA dan FEB.

“Loh, kok aku jalannya bareng mobil dan motor? Mana trotoarnya?” pikirku ketika berjalan di antara rafia-rafia yang diikat di cone.

Entah dari bulan bahkan tahun kapan, gedung dari Fakultas Hukum ini belum juga selesai, sehingga masih tersisa bahan konstruksi yang tergeletak di jalan raya.

Setelah melihat tersebut, dengan spontan aku mendokumentasikan kondisi jalanan tersebut dan mempostingnya di story instagram pribadi aku dengan tajuk “Pedestrian ways(?)” dengan harap ada yang paham apa yang sedang saaya pikirkan. Namun, setelah beberapa jam kemudian, ternyata keingin-tahu-an ini semakin tidak terbendung. Akhirnya aku meminta beberapa pendapat dari teman-teman yang sedang mampir ke sekretariat BEM TEKNIK UB. Selang beberapa menit, ternyata ada beberapa respon dari story yang aku posting sebelumnya. Rangkumannya seperti berikut:

“Sebetulnya, ketika pedestrian ways dihilangkan itu akan mengurangi daerah resapan air dan berpotensi banjir” – ucap Dhimas, Mahasiswa Teknik Pengairan UB 2015 saat sedang men-charge HP nya di sekret BEM.

“Ketika UB mau jadi green campus dimana ada harapan untuk civitas akademik ub diarahkan menggunakan sepeda dan jalan kaki. Harusnya fasilitas untuk pejalan kaki di UB dipenuhi terelebih dahulu (setiap jalan harusnya ada pedestrian waysnya). Ketika seperti digambar, kasian pengguna jalan karena keamanannya berkurang. Bisa aja kesrempet mobil/motor karena kurang tinggi pedestrian waysnya” – jelas venna, Mahasiswa Arsitektur UB 2014 menggunakan akun ig @vennaocta

“Pedestrian ways emang perlu untuk memberikan kenyamanan buat pejalan kaki dan bisa juga menjadi salah satu solusi untuk mengurangi gas emisi. Namun ketika pedestrian ways di adain, apakah kita akan menjaganya? Peningkatan fasilitas sih bagus, tapi edukasi buat menjaga juga perlu” jelas Sugiharto, Mahasiswa Arsitektur UB 2014 dengan menggunakan akun ig @prayogosh

Ternyata ketika kita mengambil sudut pandang dari teman-teman teknik sipil, agak berbeda hasilnya.

“Volume kendaraan yang ada di ub dibandingkan dengan kapasitas jalan yang ada, tidak saling mendukung. Jalur pejalan kaki yang dihilangkan itu mungkin upaya dari pihak kampus untuk menambah kapasitas jalan yang ada. Untuk jalan khusus pejalan kaki itu dilihat dari gambar bisa dipindahkan ke daerah FH, tapi disitu masih ada proses konstruksi, jadi harap bersabar…  itu sepertinya nunggu gedung hukum selesai, sabar bos ikik, konstruksi tak secepat itu :”)” jelas Fajar, Alumni Teknik Sipil UB angkatan 2014 menggunakan akun ig @riskifajar61

“Mungkin perlu waktu mas, nunggu proyek kelar baru bangun trotoar. Tapi kayaknya kudu ngorbanin juga tamannya FEB buat dibangun trotoar. Belum lagi nata saluran airnya juga. Mungkin untuk solusi jangka pendeknya bisa seperti sekarang, bisa ditaruh barrier dulu berupa cone” jelas Ojan, Mahasiswa Teknik Sipil UB angkatan 2015 menggunakan akun ig @ojanfakhrurrozi

Setelah menilik dari beberapa pendapat diatas, sempat ada kata yang pernah populer di massa nya yaitu “UB goes to green campus” tepatnya pada tahun 2017. Setelah berselancar di dunia maya, terdapat beberapa artikel terkait ini. Ada satu situs yang menarik untuk dibaca yakni situs dari pers mahasiswa UB “kavling10”.

“Sebelumnya, Bisri sempat menyatakan sebagai green campus UB masih memiliki kelemahan terutama di bidang transportasi, sehingga penggunaan sepeda dijadikan salah satu terobosan.” Tertulis di situs kavling10 dengan dengan tajuk “UB mantap menjadi green campus” yang dimuat pada 21 Agustus 2017.

Seperti kutipan pada sebelumnya terutama dari saudari venna dan Pak Bisri, ketika birokrasi brawijaya memang berencana membuat kampus ini bertitel-kan green campus harusnya memang civitas akademik UB diarahkan untuk menggunakan kendaraan tidak bermotor untuk mewujudkan hal itu, bisa dalam bentuk pengarahan menggunakan sepedah ataupun jalan kaki. Namun bagaimana itu bisa terwujudkan ketika fasilitas ataupun pelayanan untuk kedua hal itu belum maksimal?

“Ah males makai sepeda. Motor yang ada kuncinya aja sering hilang apalagi sepedah”

“Gimana mau jalan kaki, kalau jalanan yang gak ada trotoar selalu dipenuhi motor dan mobil”

Tersentak dua hal itu muncul di benakku. Lantas, bagaimana seharusnya UB bersikap?

Tentu tulisan ini hanya akan dianggap sekedar mencari viral ketika tidak ada saran atau solusi didalamnya.

Menurut aku sebagai mahasiswa teknik kimia di akhir semester yang sebetulnya tidak paham betul perihal transportasi, sirkulasi kendaraan dsb, memang seharusnya UB harus meningkatkan perihal sarana dan prasarana untuk pejalan kaki dan pengguna sepedah. Selain dari foto yang ditampilkan, contoh lagi di daerah jurusan aku nih, belum ada tempat untuk memarkir sepedah gunung dan bahkan akses trotoar dari gedung teknik kimia sampai ke pertigaan teknik industri ub itu belum ada. Ini masih dua dari sekian contoh permasalahan trotoar yang ada di Brawijaya. Masih banyak permasalahan lainnya, contoh lain trotoar yang berada di depan fakultas hukum dirasa level ketinggiannya sama seperti jalan utamanya. Meskipun itu tampak seperti trotoar tapi apa bedanya dengan jalan disebelah gedung FEB seperti gambar diatas? Toh hanya penampilannya saja. Tentu level ketinggian trotoar ini memiliki arti tersendiri.

Nah mungkin yang bisa aku saranin sih, adanya peninjauan ulang perihal kebijakan pedestrian ways ini. Apakah melenceng dari grand design atau blueprint Pembangunan Brawijaya atau seperti apa?

Kurang puas akan tulisan ini? Tentu. Soalnya ini hanya opini dan hanya mengambil pendapat dari mahasiswa yang mau komen saja. Tidak berdasarkan fakta atau data yang valid. Jadi, ini opiniku, bagaimana opinimu?

Opini dari Rachdian Rizqi Abadi (Teknik Kimia – 2014)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *