Peringati Hari Pendidikan, Mahasiswa Brawijaya Gelar Aksi

Bertepatan dengan hari pendidikan nasional (2/5), mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) melakukan tuntutan kepada pihak rektorat dengan menggelar aksi berjudul ‘Mahasiswa Brawijaya Menggugat Jilid II’ . aksi tersebut dihadiri oleh masa sekitar 750 mahasiswa. “Jam 8 kita mulai keliling dulu, kita parade buat menjemput massa-massa dari masing-masing fakultas, nah kita sampai di sini (rektorat -red) sekitar jam 9,” tutur Alghi, salah seorang mahasiswa yang ikut dalam aksi tersebut. Dalam aksi tersebut mereka meneriakkan suara-suara yang dianggap mewakili keresahan mahasiswa pada umumnya.

Massa demonstran menunggu di halaman gedung rektorat karena tidak diperbolehkan masuk.

Mereka menggugat 6 poin terkait universitas brawijaya. Tuntutan tersebut, diantaranya: 1) Menuntut pemberian legitimasi kepada mahasiswa vokasi untuk mengawal dan menyelesaikan permasalahan vokasi; 2) Menolak perubahan status kampus menjadi PTN BH dan menuntut pemberian transparansi informasi kajian dari TIM khusus PTN BH UB; 3) Menuntut untuk meningkatkan infrastruktur, pelayanan dan pendidikan yang lebih inklusif; 4) Menuntut transparansi progres perijinan PSDKU (Program Studi Di luar Kampus Utama), pembangunan dan aliran dana UB kampus 3 Kediri; 5) Menuntut peningkatan sistimm keamanan dan fasilitas penunjang sarana pendidikan di UB; 6) Menolak kredit pendidikan berbunga.

 

Menurut Elghi, wakil menteri kebijakan kampus Eksekutif Mahasiswa (EM), 6 tuntutan tersebut  disampaikan karena menjadi 6 masalah terbesar kampus yang harus diselesaikan. “Ketika UB Menjadi PTN BH, padahal saat ini sebelum menjadi PTN BH sudah sangat-sangat mahal apalagi kalau sudah menjadi PTN BH,” ungkap elghi saat diwawancarai redaksi SOLID.

Aksi tersebut juga tak luput dengan kehadiran mahasiswa UB Kampus 3 Kediri yang notabenenya masuk di dalam salah satu tuntutan yang disuarakan. Salah satu demonstran perwakilan dari UB Kampus 3 Kediri berpendapat bahwa kampusnya dijadikan stakeholder. “Di sini kita cuma menekankan kita harus mengukur effort-nya rektorat untuk UB kampus 3 terkait program PSDKU ini mengenai sejauh mana PSDKU ini berjalan,” tutur mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi dari kampus Kediri. Menurutnya, Kemenristek Dikti sudah harus diurus dan tinggal dievaluasi dan divalidasi di bulan Mei ini. Beberapa mahasiwa penyandang disabilitas juga terlihat mendatangi aksi yang berlangsung di halaman gedung rektorat Universitas Brawijaya ini. Dalam aksi ini, salah satu fakultas dikabarkan tidak ikut turun aksi.

 

Terlihat salah satu mahasiswa difabel turut hadir dalam aksi.

Dari informasi yang berhasil didapatkan, pihak rektorat menandatangani lembar kesepahaman yang berisi tuntutan mahasiswa dan sikap dari pihak rektorat UB. Dalam lembar kesepahaman tersebut 3 tuntutan mengenai Sekolah Vokasi, infrastruktur inklusif, dan kemananan kampus telah disepakati oleh pihak rektorat. Sementara tuntutan yang lainnya dikabarkan akan diadakan audiensi lebih lanjut dengan mahasiswa. (nun/sca/kn/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *