Bukan Seremonial, Eksekutif Mahasiswa Brawijaya Akan Gelar Aksi

Senin (30/4) Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (EM-UB) gelar konferensi pers di Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa. Dalam konferensi pers yang disampaikan oleh Auzan El-Ghiffari selaku Wakil Menteri Kebijakan Kampus, EM-UB mengonfirmasi akan menggelar aksi pada Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei besok.

Di depan rekan-rekan pers mahasiswa, Elghi, sapaan akarabnya, menyampaikan bahwa EM-UB ajukan enam tuntutan dalam aksi yang akan digelar besok Rabu (2/5) pukul 09.00 WIB di depan Gedung Rektorat UB. “Tanggal 2 Mei kita melaksanakan suatu aksi bersama yang bukan dilaksanakn karena seremonial saja,” terang Elghi  Berikut enam poin utama yang menjadi tuntutan dalam gelaran aksi tersebut.

  1. Pertanyakan Kejelasan Nasib Sekolah Vokasi

Dari keterangan yang disampaikan dalam konferensi pers dikatakan jika setahun belakangan, masa akreditasi yang ada di Vokasi sudah habis. Jika idealnya akreditasi itu diurus sebelum masa berlakunya selesai, berbeda kasusnya di Sekolah Vokasi UB. Menurut keterangan dari Elghi, akreditasi Sekolah Vokasi UB sudah kadaluarsa dan masih belum diurus.

  1. Kesiapan Universitas Brawijaya untuk Menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH)

Menurut Elghi, berkaca ke BUA (Bahan Usaha Akademik) dan BUNA (Badan Usaha Non Akademik), penghasilan UB selama satu tahun terakhir masih dirasa sangat kurang. “Karena memang hanya UB yang terus-terusan mengangkat isu ini, agar UB tetap menjadi PTN-BLU selama tiga tahun berturut-turut karena dirasa UB masih belum siap menjadi PTN-BH,” jelas Elghi.

  1. Pelayanan Kelompok Mahasiswa Disabilitas

Menurut keterangan Elghi, kondisi layanan dan infrastruktur di Universitas Brawijaya masih kurang dan belum inklusif. Elghi menuturkan bahwa selama ini ketika kementerian kebijakan kampus mengajukan protes, banyak hal yang berubah. “Dari kita sendiri mungkin merasakan bahwa beberapa fakultas masih belum ada lift yang ‘ngomong’. Misalkan, ‘Lantai satu’, sedangkan orang-orang difabel, khususnya tuna netra membutuhkan hal tersebut. Tetapi itu belum dirasakan di UB,” terang Elghi.

  1. Status UB Kampus 3 di Kediri

Poin ke-empat membahas mengenai UB Kampus 3 di Kediri. Menurut Elghi, status UB Kampus 3 di Kediri masih ‘ngawang’. Tidak hanya dari status, proses pembangunannya juga berhenti. “Yang harusnya dirasakan oleh UB Kampus 3 dan UB Kampus 1 seharusnya sama,” terang Elghi.

  1. Keamanan dan Kenyamanan di Universitas Brawijaya

Dalam poin ini, yang menjadi tuntutan mahasiswa adalah peningkatan sistim keamanan fasilitas penunjang dan sarana pendidkan di UB. “Parkir terintegrasi kalau misalkan teman-teman lihat renstra (rencana strategis -red), harusnya 2017 sudah selesai. Tapi sampai sekarang (2018) masih belum dirasakan,” tutur mahasiswa angkatan 2015 tersebut.

  1. Penerapan Student Loan di Universitas Brawijaya

Isu mengenai student loan atau kredit pendidikan di Indonesia muncul sejak disinggung oleh Presiden Joko Widodo pada 15 Maret lalu saat pertemuan dengan pimpinan bank umum di istana Negara. “Student loan memang sudah diterapkan di UB, namun sejauh ini hanya disasarkan kepada S2 dan S3,” tutur Presiden EM, Muhammad Nur Fauzan. Fauzan juga menyebutkan jika zaman dahulu ketika namanya masih Koperasi Mahasiswa Indonesia tidak ada bunga pinjaman. Sedangkan untuk tahun ini ada bunga pinjaman yang menurutnya sangat merugikan mahasiswa.

“Sebenarnya masih banyak banget permasalahan yang cocok banget diangkat di 2 Mei, supaya seluruh civitas akademika di Universitas Brawijaya memiliki concern lebih lah untuk 2 Mei,” tutup Fauzan di akhir sesi konferensi pers. Lantas, strategi apa yang akan diambil oleh arek teknik UB menyikapi aksi 2 Mei besok? (sca/rfi/rtp/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *