Diskusi Publik: Kampung Tematik, Mampukah Bertahan?

Pada tahun 2016, Pemerintah Kota Malang memprakarsai Lomba Kampung Tematik dalam Festival Rancang Malang untuk mendorong lahirnya kampung tematik khas Kota Malang. Dalam perlombaan ini, warga secara partisipatif dibantu dengan pendamping dari kalangan profesional seperti arsitek atau akademisi berlomba-lomba merombak kampungnya masing-masing menjadi kampung tematik. Dua tahun kemudian di tahun 2018, sudah banyak bermunculan kampung-kampung tematik jebolan dari lomba tersebut. Namun muncul pertanyaan, mampukah kampung-kampung tematik tersebut bertahan?

Himpunan Mahasiswa Arsitektur mengangkat pertanyaan tersebut ke dalam topik diskusi publik yang merupakan rangkaian acara Malang Masih Dingin, sebuah program kerja besar HMA periode ini. Berkolaborasi dengan Ngobrol Bareng Arsitek (NBA) Malang, diskusi publik tersebut dilaksanakan pada Jumat (27/4) di lobi Gedung Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Diskusi ini menghadirkan tiga orang narasumber yakni Budi Ananta dari Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Barenlitbang) Malang; Subhan Ramdlani, ST., MT., dosen Jurusan Arsitektur FT-UB; dan Ar. Armudya Indra Perdana, IAI selaku pembina kampung tematik religi Kayutangan. Dipawangi oleh Dr. Eng. I Nyoman Suluh Wijaya, ST., MT., dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) FT-UB selaku moderator, diskusi berjalan lancar dan menarik antusiasme dari para audiens.

Moderator membuka diskusi dengan bertanya ke audiens, apa yang muncul di benak ketika mendengar kata “Malang”? “Dingin”, “Apel”, “Kota Pendidikan”, “Wisata”, “Arema”, terdengar sahutan-sahutan jawaban dari bangku peserta. Dr. Eng Nyoman mengungkapkan, pernah ada penelitian yang sama terkait persepsi masyarakat ketika mendengar kata Malang dan jawabannya pun kurang lebih sama dengan para audiens. Tidak ditemukan “kampung warna-warni”, atau “kampung putih”, atau kampung-kampung tematik lainnya. “Ini mengindikasikan, kampung tematik memang sudah menjadi ikon di Kota Malang, tapi belum menjadi identitas”, simpulnya.

Kemudian Budi Ananta selaku perwakilan dari Pemkot Malang, menceritakan awal mula munculnya ide Lomba Kampung Tematik ini. “Terinspirasi dari proyek KKN Mahasiswa salah satu PTS di Kota Malang yang mengecat Kampung Jodipan menjadi Kampung Warna-Warni, lahir inspirasi bagaimana mengatasi permasalahan yakni kampung kumuh, dengan solusi yang sederhana”, terang Budi. Dari situ juga muncul ide untuk membuat Lomba Kampung Tematik sebagai pemantik partisipasi masyarakat sebagai bentuk kebijakan yang bersifat bottom-up, mengingat selama ini kebijakan yang bersifat top-down kurang direspon dengan baik. Tema yang diangkat diharapkan berasal dari daya tarik Kota Malang itu sendiri. Budi juga menjelaskan bahwa dalam prosesnya, kampung tematik ini telah mendorong perubahan budaya masyarakat ke arah yang lebih baik. Contohnya pada kampung Jodipan, kebiasaan menjemur pakaian di jendela rumah yang selama ini dilakukan, mulai ditinggalkan karena banyaknya wisatawan yang mengunjungi kampung warna-warni tersebut. Begitu juga dalam segi ekonomi, masyarakat jadi memiliki penghasilan tambahan dari berjualan makanan atau suvenir di depan rumahnya.

Ada juga kampung tematik yang sudah sangat sukses seperti Kampung Gelintung yang dikenal sebagai kampung go-green yang telah mendapatkan penghargaan tingkat internasional. Budi berharap kampung-kampung lainnya bisa menemukan potensinya masing-masing.

Moderator pun menanggapi dengan memaparkan tolak ukur keberhasilan sebuah kebijakan ada dua, yakni: adanya kesepakatan dari masyarakat untuk menerima program tersebut dan terjadinya perubahan perilaku untuk meneruskan program tersebut. Perubahan perilaku tersebut berawal dari proses yang melibatkan banyak pihak seperti masyarakatnya sendiri yang paham akan kampungnya, aktor luar yang bisa menangkap potensi, serta para profesional. Lantas apakah dalam penyusunan program kampung tematik ini melibatkan aktor-aktor tersebut?

“Dalam kampung tematik ini kami melibatkan masyarakat, akademisi sebagai pendamping, pemerintah sebagai eksekutor, media sebagai katalis dan mediator, juga sektor privat melalui program CSR”, terang Budi.

Sementara Ar. Indra Permana menceritakan pengalamannya selama mendampingi kampung Kayutangan menjadi kampung tematik religi. Pada awalnya dilakukan proses observasi untuk menggali potensi apa yang ada di kampung tersebut. “Yang saya temukan adalah sebenarnya di masyarakat sendiri sudah memiliki keinginan untuk berubah, tinggal diarahkan saja perubahan ke arah seperti apa”, tutur Ar. Indra. Pada Kayutangan sendiri akhirnya ditemukan pusat wisata religi yakni makam Mbah Honggo yang merupakan pejuang lokal dan tokoh penyebar agama Islam di Malang. Selain zona religi, ada juga zona heritage dan wisata alam di kawasan Kayutangan. Dalam proses tersebut, peran pendamping sangat besar mulai dari menggali ide, membuat konsep dasar, dan membuat gambar desain.

Meskipun begitu, partisipasi masyarakat wajib ada karena juga merupakan salah satu kriteria penilaian. Walaupun belum ada indikator terukur akan keterlibatan masyarakat dalam kampung tematik ini, namun ada proses-proses partisipasi masyarakat yang harus dilalui dan wajib ditunjukkan saat penilaian.

Subhan Ramdlani sebagai akademisi yang juga ikut mendampingi Kampung Gerabah tak ketinggalan menceritakan pengalamannya selama mendampingi kampung tematik. Ia menurutkan, masyarakat masih bingung untuk mendefinisikan apa “potensi” yang dimaksud. Apakah maksudnya potensi ikon? ataukah potensi ekonomi? Sehingga peran pendamping untuk menggali itu memang cukup penting. Masyarakat juga terkadang masih berpikiran praktis dengan melihat keberhasilan kampung lain menerapkan tema tertentu sehingga ingin juga diterapkan di kampungnya. “Padahal harusnya melihat prosesnya secara keseluruhan, bukan hasilnya doang. Jadi yang ditiru itu prosesnya, bukan hanya hasilnya”, tegas Subhan.

Dengan sudah berjalannya program kampung tematik selama kurang lebih satu tahun, Pemkot Malang pun telah melakukan evaluasi di tahun 2017. Dari hasil evaluasi tersebut setidaknya terdapat dua kategori kampung-kampung peserta kampung tematik menurut Pemkot, yakni kampung-kampung yang telah berhasil menemukan tema dan potensinya dan kampung-kampung yang belum berhasil menemukan tema yang layak jual.

Rupanya kata “layak jual” ini menarik perhatian moderator, maka Dr. Eng Nyoman meminta Budi Ananta mengelaborasi lebih jauh maksud dari “layak jual”, apakah tujuan akhir dari kampung tematik ini hanya semata-mata untuk ekonomi yang bisa dijual?

“Tujuannya adalah untuk mengangkat kampung yang kumuh agar tidak kumuh lagi”, terang Budi.

Diskusi semakin meruncing tatkala moderator meneruskan pertanyaan, “jika memang tujuannya adalah untuk membuat yang kumuh menjadi tidak kumuh lagi, yang berarti adalah peningkatan kualitas lingkungan, apakah selama ini sudah ada ke arah sana?”, kejarnya.

Memamg Pemkot kerap kali mendapat kritik utamanya mengenai Kampung Warna-Warni Jodipan. Pasalnya, membangun di daerah sempadan sungai sebenarnya melanggar peraturan, namun dengan adanya dukungan untuk kampung warna-warni, Pemkot terkesan mendukung pelanggaran tersebut. “Sebenarnya bukan melegalkan sesuatu yang ilegal”, bantah Budi. Ia menjelaskan, dalam proses menata tata ruang tidak bisa langsung dan semena-mena dengan cara-cara yang tidak manusiawi. Harus perlahan-lahan melalui beberapa proses. Diharapkan, partisipasi dalam perancangan kampung tematik ini merupakan tahap awal dari proses tersebut sehingga perlahan-lahan kesadaran masyarakat mulai muncul dan mengubah pola pikir.

Hal tersebut diamini Ar. Indra yang kembali menceritakan pengalamannya kala mendampingi Kayutangan. Ia menemukan, kesadaran warga perlahan-lahan muncul akan value dari bangunan-bangunan bersejarah yang ada di kawasan Kayutangan. “Jadi mulai sadar, oh ternyata bangunan itu yang selama ini dianggap bangunan tua biasa, ternyata memiliki nilai sejarah, ya”, tutur Ar. Indra.

Memasuki sesi tanya jawab, audiens yang terdiri dari kalangan mahasiswa baik mahasiswa UB dan luar UB, dosen-dosen, serta praktisi tersebut, antusias untuk bertanya. Ada enam penanya dalam sesi tanya jawab ini, mempertanyakan mulai dari kriteria pendamping yang dipilih sampai strategi lanjutan agar kampung tematik memiliki daya saing.

Salah satu penanya mempertanyakan konsistensi pemerintah dalam menegakkan aturan terkait kampung tematik, utamnya Jodipan. Memang menggusur warga yang sudah lama menetap adalah tidak mudah, tapi mengapa malah ditambah lagi dengan pembangunan jembatan kaca yang strukturnya juga sama saja berada pada wilayah garis sempadan sungai? Menanggapi pertanyaan tersebut, Budi selaku perwakilan Pemkot menjelaskan bahwa Ia tidak begitu paham tujuan jangka panjang dari jembatan tersebut, yang jelas pembangunan jembatan tersebut memang telah disetujui.

Kemudian ada juga pertanyaan mengenai bagaimana kontrak kerja antara warga dengan pendamping dan apakah jika tidak dapat memenuhinya akan mendapat sanksi? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ar. Indra bahwa tidak ada sanksi langsung yang diterima kedua belah pihak, namun memang kontraknya masih rancu dalam hal batasan kerja, seperti sejauh apa pendamping mendampingi dan untuk berapa lama.

Hadir juga di antara audiens, Pandu dari Pemkot Malang yang juga turut memberikan sedikit paparan tentang kampung tematik ini. Ia menuturkan jika tentunya masih terdapat kekurangan pada pelaksanaan program kampung tematik dan hendaknya dijadikan pelajaran bersama. Adapun esensi yang lebih dalam dari kampung tematik adalah sebagai penjaga budaya gotong-royong di kalangan masyarakat agar tetap ada untuk memperbaiki kampungnya masing-masing. Pada akhirnya, program kampung tematik ini hanyalah sebagai pemantik, sementara keberhasilan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan lain-lain, sangat tergantung dari partisipasi masyarakat setelah kegiatan ini melalui forum-forum resmi seperti Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrembang) yang merupakan jalur resmi untuk berkontribusi terhadap pembangunan kampungnya masing-masing.

Kesimpulan diskusi publik ini adalah jika dalam pelaksanaannya, kampung tematik melibatkan masyarakat, tema yang diangkat adalah benar-benar potensi dari kampung yang digali, dan juga masyarakat tetap aktif meneruskan pembangunan kampungnya setelah event lomba kampung tematik, maka kampung tematik memiliki tingkat keberlanjutan yang tinggi dan kemungkinan bisa bertahan. (ram)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *