Sudut RAPIMNAS untuk Meratus

Kamis (1/2) merupakan awal dari perhelatan Rapat Pimpinan Nasional PPMI. Sebagai salah satu perawalan, rekan-rekan pers mahasiswa Banjarmasin putarkan film dokumenter berjudul Bara di Bongkahan Batu

karya Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel. Film tersebut bercerita mengenai investigasi dari aktivitas penambangan yang mengancam kawasan Hutan Meratus dan kehidupan yang bernaung di dalamnya.
“Kami sajikan film ini juga untuk tujuan kampanye agar teman-teman mengetahui permasalahan lingkungan yang sedang kita hadapi bersama di bumi Kalsel” terang salah satu panitia saat membuka pemutaran film.
Aktivitas perluasan perkebunan sawit dan penambangan batubara sedang menjadi isu besar di kalangan rakyat Kalimantan Selatan. Karena selain dampak lingkungan, perampasan hak-hak masyarakat yang terkena dampak pertambangan juga menjadi sorotan bagi LSM-LSM yang ada di Kalimantan Selatan, salah satunya adalah Walhi Kalsel.
Isu yang diangkat adalah perampasan pemukiman dan sumber penghasilan warga transmigran yang berada di kawasan Meratus. Selain itu, semangat perlawanan dari salah satu desa yang diketahui berada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah menjadi perhatian dalam film tersebut.
Dikutip dari berbagai pernyataan yang diberikan oleh berbagai narasumber dalam film, konflik pertambangan bermula dari izin pertambangan yang dimilikin oleh anak perusahaan Adaro Energy yang tidak jelas asalnya yang memicu perlawanan dari warga sekitar Meratus.
Budi Kurniawan, yang merupakan salah satu orang di balik layar dalam pembuatan film ini, menegaskan bahwa Walhi Kalsel berperan sebagai LSM yang membantu warga dan pemerintah dalam memperjuangkan Meratus sebagai benteng Hutan Hujan Tropis terakhir di Kalimantan Selatan. Pria yang akrab disapa Bang Budi tersebut juga mengatakan bahwa pembuatan film ini adalah sarana untuk menyebarkan kondisi yang tengah mengancam kehidupan di kawasan Meratus.
Budi menjelaskan bahwa kasus ini kini sedang dalam tahap pemrosesan di PTUN Jakarta dan memakan waktu kurang lebih 8 bulan. “Harapan kita dari film ini adalah bagaimana agar masyarakat tahu perlawanan kita mempertahankan Meratus untuk warisan anak cucu kita.” Terang Budi.
Menurut Budi, ada dua pilihan bagi generasi sekarang, menjadi generasi yang melihat kehancuran Meratus dan membiarkannya ditelan sejarah atau bertindak dan mewariskan Meratus untuk anak cucu kita. Dalam momen Rapimnas III yang berlangsung di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin ini, Budi mengajak para mahasiswa untuk ikut bertindak mengiring isu penambangan ini. “Apabila 8 bulan kedepan kita kalah, lebih baik berhenti jadi aktivis dan melihat Benteng Hujan Hutan Tropis terakhir kita hancur.” Ucap Budi saat memberikan pernyataan penutup. (rtp/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *