OPINI – Gerakan*

*Penulis: Abidzar Al Ghifari, Mahasiswa Arsitektur 2016

Politik kampus bukanlah suatu hal yang baru. Telah panjang sekali perjalanan bangsa, tersertai pula ia dengan gerakan pemuda. Tiada detik terlewati, melainkan bangsa ini selalu disertai oleh mereka: pemuda. Dari 1928, 1966, 1998, sampai sekarang terlibat mereka dalam lika-liku bangsa. Sjahrir beserta gerakan underground-nya berani menentang imperialis Jepang. Lalu bergeraklah seorang mahasiswa bernama Soe Hok Gie beserta ribuan lainnya pada medio 60 an. Terlempar jauh lagi sampai mampu “atap hijau” dijadikan “tongkrongan” ribuan mahasiswa pada tahun ’98. Tumbang pula, saat itu, seorang jenderal bintang lima dari istana seberang Monas!

Memang bukan hal yang baru. Semuanya hanyalah lanjut-melanjut, rajut-merajut, waris-mewaris. Terus begitu sampai generasi kini. Tiada yang berubah, hanya-hanya orangnya saja yang berubah.

Memang bukan hal yang baru. Semuanya sudah tertulis menjadi bagian dalam api sejarah bangsa. Segalanya sudah tertuang, terpencar, tergaung menjadi kebanggaan bagi sebagian serta menjadi hinaan bagi sebagian yang lain. Menyebut aktivis ’98 sudah tidak konsisten adalah hal yang tidak jarang lagi terdengar. Mendengar seorang berkata kalau-kalau reformasi lebih baik tak diadakan adalah kemakluman yang terpaksa untuk dijadikan maklum. Namun, tak pelak berarti salah jua semua yang terlibat dalam gerakan. Semuanya sudah mafhum kalau namanya “pengabdian masyarakat” beragam sekali bentuknya. Ada yang gemar aksi di jalan. Ada yang suka ngajar di kampung. Ada pula yang senang sowan ke dusun sekadar membantu warga memanen hasil tani yang kadang tak seberapa. Ya, beragam sekali. Apakah perlu disalahkan orang yang senangnya sowan, namun tak suka demo? Apakah perlu dipertanyakan orang yang senangnya aksi, namun belum bisa jadi guru ngaji di kampung-kampung? Sebenarnya tak perlu disalahkan. Apa pula faedah menyalahkan? Apakah rakyat kelaparan akan hilang laparnya dari aksi menyalahkan? Karena sejatinya tiap insan mempunyai kesanggupan dan jangan langgar kesanggupannya dalam turun ke masyarakat.

Kembali berganti, maka ingin difokuskan kembali bahasan ini pada “politik kampus”. Banyak terdapat BEM, melimpah juga OMEK (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus). Namun, dalam kampus biru ini ada pula yang pro, banyak pula yang kontra akan OMEK. Begitulah politik kampus. Betapa sengit kondisi, betapa kritis penghuni kampus biru ini terhadap politik rumahnya sendiri. Namun, tak jarang pula yang apatis dan enggan ikut-ikut dalam politik. Adapun alasannya sudah terlalu banyak orang “main duit” di Senayan. Muka politik menjadi kotor, kelam, “madesu”. Mana ada harapan di sana?

Sejatinya, politik dapat dijadikan alat untuk mendukung arah jalan negara ini. Apakah politik selamanya berbau kritik terhadap penguasa? Tidak. Justru kalau penguasa baik maka sudah tugas mahasiswa untuk mendukung sekaligus membantu jalannya penguasa. Kalaupun ternyata ada yang bengkok sedikit dari penguasa maka wajib diluruskan ia oleh kita, mahasiswa. Lalu kenapa banyak sekali orang yang anti akan orang-orang yang berpolitik di kampus ini? Kenapa? Bukankah tanpa politik maka Hatta tidak akan pernah mampu menghadap Juliana di Belanda untuk menyaksikan pengakuan sang ratu akan negeri muda yang baru lahir? Bukankah tanpa politik maka takkan satu sebuah kepulauan yang panjangnya sama dengan jarak London ke Moskow? Akankah? Bilakah? Memang kehendak Tuhan menyatukan kita. Namun, tanpa ikhtiar/usaha (salah satunya berpolitik) apakah terkabul doa-doa supaya negeri ini satu?

Agaknya patut kita mengoreksi diri apakah gerakan politik di kampus adalah suatu cela ataukah suatu harta yang perlu dibanggakan? Apakah pantas menghina orang yang bibirnya tak pandai merangkai kata untuk orasi sebagai orang yang apatis? Apakah patut menstigma gerakan politik di kampus sebagai gerakan yang “aneh, kotor, dan hina”?

Wahai kawanku. Selama Willis masih buka, selama Perpusat masih mau menerima kehadiran kita, marilah sowan ke sana. Kalau dompet berkata, “aku tak berisi,” apakah tidak mampu kita berjalan untuk meminjam sekaligus membaca buku di perpustakaan?

Wahai kawanku. Selama jaket almet kita masih bertuliskan “Brawijaya”, selama itu pula kita tidak sendiri. Ada teman kita yang lain, namun berbeda apa yang ia pelajari dengan apa yang kita pelajari. Bermainlah. Berkunjunglah.

Membaca sekaligus berkunjung adalah kiat kita untuk paham bahwa dalam mengabdi kepada bangsa ini ada banyak cara, salah satunya lewat politik. Jangan sampai keengganan kita untuk melakukan hal tersebut membuat kita berani menyalahkan gerakan apapun itu, tak hanya politik. Jangan sampai keengganan tersebut membuat kita buta serta diam atas segala capai serta nista yang ada dalam bangsa kita.

Jangan sampai.

Semarang, 30 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *