WAWANCARA BEM FT – Sepuluh Dewan BEM Teknik (bagian 1)

    Sepuluh dewan BEM Teknik 2017/2018 saat Serah Terima Jabatan

LPM SOLID, Malang – Periode kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik periode 2016/2017 telah resmi berganti dengan dilangsungkanya serah terima jabatan kepada BEM FT periode 2017/2018 pada Senin, 9 Oktober 2017. Kesepuluh orang yakni Panser Mukti Prakoso, Destianto Hendrawan, Laily Amalia, Reza Novianda, M. Ramadhani Harun, Rachdian Rizqi Abadi, Helmi Ardyan Saputra, Fahrizal Zamrasuly, M. Aziz Bashori, dan Harti Widya Astuti terbagi menjadi sepuluh departemen yang masing-masing memiliki peran dalam pengembangan bidang kemahasiswaan bagi seluruh Keluarga Besar Mahasiswa Fakultas Teknik.

Sejak awal kepengurusan, sepuluh Dewan BEM yang dikoordinatori oleh Panser, memutuskan untuk mengawali tugas mereka dengan sedikit perubahan dari jajaran BEM periode sebelumnya. Perubahan pertama yang nampak terlihat adalah dari segi kuantitas dewan yang sebelumnya berjumlah delapan orang, kali ini berjumlah sepuluh orang. Penambahan kursi tersebut tentunya juga menambah departemen yang ada di BEM Teknik. Simak wawancara LPM SOLID dengan koordinator BEM, Panser, di sekret LPM SOLID:

Sebelumnya kami ucapkan selamat kepada jajaran dewan BEM periode ini, semoga kedepannya lebih baik. Kami penasaran, apa sebenarnya motivasi Mas Panser untuk mendaftar menjadi dewan BEM?

Kalau saya pribadi itu konsistensi. Istilah kalau bahasa santainya, kita udah cuci kaki di kolam kenapa ngga sekalian nyebur terus berenang? Dan saya melakukan itu. Sejak saya aktif di Teknik, dulu saya di MIKAT (Minat dan Bakat), nah saya itu melihat bahwa kurang mewadahi mikat-nya di Teknik, terus saya daftar staff di periode pertama, dan periode kemarin di staff mikat juga, dan akhirnya modal saya konsistensi. Sebenernya saya tidak punya pikiran buat jadi koor. Cuma Alhamdulillah temen-temen mempercayakan kepada saya.

Apa perbedaan koordinator dewan BEM dengan dewan lainya?

Biar tahu juga dari solid dan KBMT bahwa pada BEM Teknik, dewan BEM itu bukan hanya koor sendiri, jadi kita ber-tim 10 orang itu yang akan mewadahi KBMT. Nah koordinator BEM itu hanya sebagai pemenuhan administrasi, karena ‘kan birokrasi tidak peduli siapa BEM-nya, tapi harus ada orang yang tanda tangan dan harus ada orang yang koordinasi. 10 0rang itu sebenrnya kalo kita bawa keluar itu namanya presiden BEM.

Bagaimana proses sehingga Mas Panser terpilih menjadi koordinator?

Prosesnya dari kolektif kolegial bersepuluh. Siapa nih yang mau memenuhi administrasi untuk ke birokrasi dan menunjuk saya. Jadi koor ini tidak ada satu level lebih penting dari 10 orang ini. Jadi yang penting itu 10 orangnya bukan koordinatornya.

Bagaimana perasaanya saat ditunjuk menjadi koordinator BEM?

Yang pertama sedikit bingung ya, karena ‘kan orang luar melihatnya presiden BEM-nya saya, tapi di KBMT saya ga pernah merasa jadi koor BEM. Yang selalu kami sampaikan ke KBMT bahwa 10 orang ini yang menjadi presiden BEM. Dan masalah seneng atau engga, itu kembali ke 10 orang tadi. Apabila kami sudah bekerja dengan baik, itu saya akan bilang kami bahagia. Tetapi apabila kami belum maksimal mewadahi KBMT, saya bilang bahwa sebagai koordinator ini belum bisa maksimal.

Menurut Mas Panser, seberapa penting KBMT mengetahui dewan-dewan BEM?

Seharusnya penting. Kenapa? Saya apresiasi solid yang mau mewawancarai saya, karena harapannya dari berita ini atau hasil dari wawancara ini, mengatakan bahwa presiden BEM itu 10 orang, dan bukan koornya. Dan yang kita pakai di Teknik itu sistem kolektif kolegial, jadi koor tidak mempunyai hak untuk melakukan instruksi, ataupun membuat keputusan. Jadi keputusan tetap dikembalikan ke 10 orang itu.

Citra apa yang ingin BEM tumbuhkan kedepannya?

Untuk visi dan misi BEM, mungkin masih sama dari sebelum-sebelumnya. Cuma kalau dari kami bersepuluh itu yang kami bawa ada 3. Yang pertama, kami ingin menjadikan BEM sebagai poros administrasi. Selama ini ‘kan orang-orang masih bingung, proposal gimana, SPJ gimana. Yang kedua, kami ingin menegakkan kedisiplinan dari hal sepele. Misalkan rapat tepat waktu. Yang ketiga, kami mencoba membuka mata ke dunia luar, artinya perubahan-perubahan global kami coba serap karena selama ini Teknik dianggap sebagai kelembagaan yang paling kolot. Nah, untuk berubah itu butuh energi yang besar dan tidak semua orang itu suka perubahan, namun perubahan itu pasti. Kami mencoba, bersepuluh ini, memberanikan diri, untuk melawan—istilahnya—judge dari fakultas lain yang disematkan ke Teknik. Hal itu tidak akan selesai selama 1 periode hanya dengan kami. Dari jamannya Mas Reyhan 2012 (koordinator BEM 2015-2016) sudah dilakukan. Jadi kami melanjutkan untuk menghubungkan (Teknik) ke dunia luar.

Kami disini penasaran Mas, apa pertimbangannya kenapa sekarang bisa menjadi 10 orang? Penambahan 2 orang kan cukup banyak?

Itu terkait sebenarnya kebutuhan KBMT, yang pertama. Yang kedua, dari 8 orang itu ternyata, ada hal yang dari BEM Teknik kurang maksimal untuk membahas dan melaksanakannya. Yang pertama itu ada dari eksternal dan keilmuan. ‘Kan keilmuan, prestasi, itu adalah hal pasti yang diminta oleh birokrasi. Nah jadi pada periode sekarang, keilmuan dipisah menjadi departemen sendiri.

Oh berarti ada 1 departemen khusus keilmuan?

Iya, kan kalo tahun kemaren ada HKI dan keilmuan. Nah itu kami pisah jadi keilmuan sendiri. Yang kedua untuk eksternal, kami pisah juga. Kalo kemaren itu cuma ada hubungan kelembagaan ekternal, sekarang kami pecah menjadi HKE sama hubungan luar. Nah, untuk ekstenal ini membahas tentang hubungan antar mahasiswa di luar Fakultas Teknik, hubungan dengan alumni, dan luar UB. Untuk yang hubungan luar, terkait dengan masalah kerja sama degnga instansi dan birokrasi. Misalkan sama pemerintahan daerah.

Intinya semuanya sama, cuma hanya dipecah saja?

Iya.

Atau ada perubahan fungsi dari departemen itu sendiri? Selain keilmuan, HKE, dan eksternal tadi.

Paling dari… kan waktu dulu ada humas, informasi dan kajian publik ya? HIKP. Itu kami ganti namanya menjadi MEDKOMINFO. Itu karena hanya menjadi pintu gerbang, jika terjadi kajian dan fasilitas untuk informasi ke luar dan ke dalam. Nah, yang kedua itu ada pergantian nama di MIKAT. Dahulu namanya MIKAT, sekarang menjadi AKSI. Aksi itu kepanjangannya Apresiasi Keolahragaan dan Seni. (Zet/Cim/Red)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *