Warna-Warni Olimpiade Brawijaya (edisi 2) : Menjawab Kejanggalan Final Futsal

(Tim futsal teknik pada Olimpiade Brawijaya. Photo:Faqih)

LPM Solid, Malang – Acara final Olimpiade Brawijaya yang telah dilaksanakan pada 12 Oktober 2017 lalu ditutup dengan kejanggalan dan pertanyaan dari masing-masing pihak, dikarenakan saat pertengahan kegiatan lomba futsal berlangsung pertandingan terpaksa diberhentikan.

Final Olimpiade Brawijaya ditutup dengan lomba futsal Fakultas Teknik (FT) melawan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) berlangsung penuh dengan keriuhan, pasalnya saat lomba berlangsung, panitia OB memberhentikan pertandingan dikarenakan adanya penyimpangan peraturan yang telah disepakati. Brien Sitohang, selaku Wakil Ketua Pelaksana Olimpiade Brawijaya 2017 menyatakan bahwa panitia telah mengadaka beberapa forum dengan Ketua Kontigen maupun Koordinator Supporter membahas beberapa peraturan yang harus disepakati untuk kelancaran pada hari pertandingan yang dijadwalkan.

Saat dimintai kejelasan mengenai pertandingan yang berhenti beberapa saat tersebut, Brien mengatakan “Kemudian kenapa diberhentikan sebenarnya adalah karena kita punya yang namanya peraturan terhadap supporter. Ada tingkatannya, ada peringatan satu, peringatan dua, dan peringatan tiga. Memang tadi harus kita akui, pemberhentian permainan itu karena pelanggaran dari salah satu fakultas. Dimana pelanggaran tersebut memang akumulatif, artinya sudah pernah dilakukan sebelum pertandingan hari H ini. Sehingga kita harus memberikan peraturan yang tegas, seperti itu..”

Sahut-menyahut jargon dan yel-yel dari kedua fakultas sempat meramaikan Gedung Olahraga Pertamina Universitas Brawijaya (GOR Pertamina UB) sore itu saat pertandingan mulai kembali. Antusias supporter yang begitu tinggi untuk memberikan semangat kepada tim fakultas masing-masing terlihat sangat jelas. Tetapi sebelum itu, adanya informasi yang beredar di sekitar GOR Pertamina perihal kesepakatan antar kedua belah pihak membingungkan supporter, khususnya dari salah satu supporter dari Fakultas Teknik yang mengungkapkan keluhan antara harus keluar dari aula atau diam dan tetap kondusif tanpa diperbolehkan menyuarkan jargon maupun yel-yel dari kedua belah pihak. Brien mengatakan bahwa dirinya belum mendengar isu tersebut, yang diketahuinya hanyalah keputusan panitia yang telah diumumkan panitia melalui mikrofone sebelumnya.

Brien juga mengakui pertandingan Kamis lalu lumayan berbelit, tidak hanya menimbulkan keriuhan dari pihak Supporter saja, tetapi juga internal panitia. “Jadi, dengan diskusi dengan pak Ayi juga, dengan pak Wakil Rektor, ya beliau mau supaya pertandingan ini berjalan dengan sangat kondusif, berjalan sesuai rencana, begitu.” Ungkapnya. Bahkan pak Ayi juga dikatakan sempat geram hingga mengancam panitia jika pertandingan tidak berjalan dengan kondusif maka beliau akan mempertimbangkan eksistensi dan kelanjutan Olimpiade Brawijaya tahun depan, sementara Wakil Ketua Pelaksana Olimpiade Brawijaya 2017 ini sangat menyayangkan jika hal tersebut sampai terjadi, karena menurutnya OB merupakan ajang yang bergengsi yang dapat menyatukan kita semua. Ia juga menyampaikan permohonan maaf dan dengan berat hati harus menindak supporter Fakultas Teknik dengan tegas.

Wakil Ketua Pelaksana Olimpiade Brawijaya 2017 ini juga menyatakan bahwa panitia memiliki penilaian sendiri selain itu juga penilaian ini sebagai salah satu bentuk pengawasan. Penilaian ini sendiri ditinjau dari Standart Operating Procedures (SOP) yang dimiliki, yaitu SOP Keamanan yang menjelaskan tentang supporter. Ia juga menegaskan bahwa peraturan-peraturan yang ada telah disepakati tertulis ada di SOP yang bisa dilihat atau ditanyai ke Koordinator Supporter fakultas masing-masing.

Pertandingan antar atlet dirasa sangat supportive dari kedua belah pihak. Atlet diapresiasi karena mereka bertanding layaknya atlet sesungguhnya, dan sangat menyanjung atlet karena tidak terprovokasi dengan keadaan sekitar dan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk masing-masing Fakultas, ungkap Wakapel OB 2017 ini.  Saat ditanyakan perihal pemberian Surat Pelanggaran (SP) untuk kedua Fakultas ia menjelaskan “Saya rasa bukan hanya Fakultas Teknik saja, tetapi dari FEB juga ada beberapa bentuk provokasi yang akhirnya saya rasa – kita panitia rasa itu tidak boleh kita lakukan (terhadap lawan). Dan akhirnya saya tegas tadi Koordinator Keamanaan, ya kita tegaskan ‘Kamu kena SP 1’ dan Ken (Koordinator Supporter dari Fakultas Ekonomi Bisnis) sudah menerimanya.”

(Baca juga: Warna-warni Olimpiade Brawijaya Edisi 1)

Insiden pingsannya dua orang putri yang merupakan panitia acara OB dan banyaknya Koordinator Lapangan (Korlap) putri yang menjaga gerbang dan tangga menambah warna-warni Final Olimpade Brawijaya 2017. Brien membantah ungkapan bahwa itu merupakan sebuah kesengajaan. Saat ada isu insiden dua orang panitia acara putri OB pingsan karena ditendang atau disikut, dirinya menyatakan hal tersebut merupakan sebuah ketidaksengajaan, karena kurangnya SDM panitia melawan ribuan supporter yang mencoba masuk. Untuk masalah KORLAP putri, ia menegaskan bahwa panitia telah melakukan rapat besar dan plotting panitia untuk di lapangan, khususnya gerbang masuk aula GOR Pertamina Universitas Brawijaya dan dari Koordinator KORLAP sendiri sudah memploting 90% panitia putra menjaga di gerbang. “Kemudian tadi itu pelaksanaannya akhirnya keliatan cewek ya saya nggak tahu. Karena memang itulah cewek ya – mungkin rasa iba, rasa ingin membantunya keluar, gitu ya. Kita sama sekali tidak berharap (terhadap insiden), mangkanya kita kumpulkan sekarang mereka didalam.”

Final Olimpiade Brawijaya ini juga dihadairi oleh Wakil Rektor III, Pak Prof. Arief Prayetno, Wakil Dekan III FEB, beberapa staff ahli, Presiden EM, Koordinator DPM UB, dan khususnya Ketua Pelaksana OB dari Rektorat, yaitu Pak Kandar atau yang biasa disebut Cak Kandar.

Selaku Wakil Ketua Pelaksana Olimpiade Brawijaya 2017, Brien juga sempat menyinggung tentang insiden yang terjadi kepada salah satu kontigen Fakultas Teknik yang mengalami dislokasi tulang saat pertandingan karate. Ia merasa turut prihatin dan panitia juga telah bertemu Ketua Kontigen Fakultas tersebut untuk memberikan perhatian. Masalah bentuk perhatian yang ingin diberikan panitia masih dipertimbangkan. Saat ditanyai tentang pemberian dana kepada atlet yang bersangkutan, ia mengakui hal itu masih sedang dibicarakan dengan pihak Rektorat. Sebagai rasa prihatin, panitia juga berencana untuk menjenguk atlet yang bersangkutan untuk terus menjalin silaturahmi, rencananya panitia akan melaksanakannya seusai Closing OB.

Sebagai ajang penutup, final futsal berakhir dengan skor 2-0 yang dimenangkan oleh FEB. Dua goal berhasil tertuju tepat di gawang FT pada ronde terakhir pertandingan. Pada tahun ini, Fakultas Teknik berhasil mendapatkan 10 medali emas, 14 medali perak dan 13 medali perunggu, dan dengan perolehan tersebut FT berhasil menduduki peringkat ketiga setelah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik serta Fakultas Ilmu Administrasi.

(Fit/Nin/Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *