Rektor Menyapa: Apa dan Bagaimana Universitas Brawijaya Dalam Kepemimpinan Bisri

LPM Solid, Malang – Acara Rektor Menyapa yang diadakan pada Kamis (14/9) merupakan forum diskusi antar mahasiswa dengan jajaran rektorat Universitas Brawijaya yang bertujuan untuk menampung aspirasi dari mahasiswa untuk perbaikan Brawijaya. Acara yang digelar di UB TV ini bertemakan “Merajut Harapan Untuk Satu Brawijaya”. Dalam acara tersebut Prof.Dr.Ir. Mohammad Bisri, MS., selaku rektor Universitas Brawijaya, menjelaskan mengenai apa yang sudah dilakukan selama tiga tahun masa kepemimpinanya untuk Universitas Brawijaya.

Bisri menjelaskan bahwa dalam masa kepemimpinanya adalah masa yang harus mampu mencapai daya saing Asia dengan misi “World Class Entrepreneur”. Maka dari itu, untuk mencapainya maka harus ada formulasi atau kerangka pikir khusus. Kerangka pikir yang digunakan yaitu OSDAT. OSDAT yang merupakan singkatan dari Organisasi-Sistem-Di Audit-Tindak Lanjut berfokus pada perbaikan organisasi.

Bisri juga menekankan bahwa dirinya memiliki program khusus yaitu pengembangan laboraturium. “Tidak usah buat gedung kuliah, tapi buat gedung lab. Karena daya saing tidak lain laboraturium. Percuma buat jurnal ‘tidak serius’ Karena lab kita tidak bagus. Kalo lab nya baik, otomatis jurnalnya juga akan baik.” ujar nya. Selain itu, untuk memenuhi daya saing, Bisri juga berfokus pada pengembangan sumber daya manusia dengan mengurangi jumlah penerimaan mahasiswa baru dan menambah jumlah mahasiswa pasca sarjana, dan juga memperbanyak doktor dan profesor.

Dalam forum tersebut, juga dibahas mengenai masalah Universitas Brawijaya menuju Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum atau PTN-BH. Bisri menjelaskan bahwa pada tahun 2017, Dikti menargetkan UB, UNS dan Unand untuk menjadi PTN-BH. Mengenai sikapnya terhadap PTN-BH, Bisri mengaku belum bisa menolak atau menerima mandat tersebut. Saat ini, pihak rektorat masih terus mengkaji dan menganalisis mengenai SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, dan Threat) dari PTN-BH. “Kalo kita masih lemah, ya ditunda. Kalo udah kuat, ya gapapa toh transisinya masih dua tahun lagi. Tahun ini, rasanya kalo diberi mandat kami belum siap untuk PTN BH. Tapi saya belum bisa mengiyakan dan belum menolak, jadi keputusanya harus bijaksana.” ungkap Bisri. Ia juga melanjutkan, meskipun saat ini Universitas Brawijaya Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum atau PTN-BLU namun tidak mendapatkan dana infrastruktur dari negara. “Meskipun bukan PTN-BH, UB masih bisa bertahan dengan dana yang tidak seberapa.” lanjutnya. (dey/rt/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *