[OPINI] Satu Indonesia, Satu Pancasila

Oleh: Anthea Putri Yasmin (Teknik Arsitektur 2015)

Well, Pancasila mulai luntur dari kehidupan kita. Teringat materi kuliah dari dosen Arsitektur Nusantara.
“Sila pertama dan sila kelima itu berpasangan. Sila kedua dan sila keempat juga berpasangan. Hanya sila ketiga yang berdiri sendiri. Jika sila pertama goyah, maka sila kelima pasti goyah, begitu juga sebaliknya. Jika salah satu pasangan goyah, sila ketiga pasti goyah.”.
Saya terheran. Hanya karena 1 ayat, banyak orang dari hampir seluruh penjuru Indonesia berdatangan untuk demo di Jakarta. Tapi, tak ingatkah kalian terhadap insiden beberapa waktu yang lalu? Terdapat sebuah ormas yang menurunkan paksa sebuah patung hanya karena lebih tinggi dari tempat ibadah lalu memindahkannya ke tempat yang lebih rendah. Apakah kalian masih ingat dengan tragedi 1998, tragedi mengerikan yang menimpa terhadap salah satu ras di Indonesia? Apakah kalian masih ingat tragedi antar suku pada tahun 2001?
Kalau ada yang bilang “sila pertama harus berdasarkan Islam”, menurut saya salah. Indonesia bukan negara Islam, meskipun penganut Islamnya terbanyak di dunia. Pada awalnya memang sila pertama memuat tentang mereka yang beragama Islam, tapi yang beragama lain mana? Apakah yang beragama lain tidak diperhatikan di dalam Pancasila? Makanya itu, yang awalnya berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” berubah menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa”. Tentu di pelajaran PKn kalian sudah menerima ilmu tentang ini.
Dalam pidato Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945, beliau berkata seperti berikut.

Saudara-saudara! “Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat disini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai Panca Inderia. Apa lagi yang lima bilangannya? Pendawapun lima oranya. Sekarang banyaknya prinsip; kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima pula bilangannya. Atau, barangkali ada saudara-saudara yang tidak suka akan bilangan lima itu? Saya boleh peras, sehingga tinggal 3 saja. Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah “perasan” yang tiga itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia Merdeka, Weltanschauung kita: socio-nationalisme, sociodemokratie, dan ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang tiga ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada trisila ini, dan minta satu, satu dasar saja? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu? Gotong royong.
Kita itu Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Tapi kenyataannya kita dipisah hanya karena politisasi agama, hanya karena mereka yang “mengatasnamakan agama”. Kita pun juga terpisah karena perbedaan ras dan suku yang ada pada negeri ini. Padahal perbedaan itulah yang menyebabkan Indonesia kaya akan budaya. Tanpa kita sadari, kita pun rasis terhadap satu sama lain. Di kehidupan sehari-hari, sangat terlihat kita rasis terhadap salah satu ras yang terdapat di Indonesia. Kita tidak bisa memaksakan kebudayaan suatu daerah untuk diterapkan di seluruh Indonesia, karena setiap daerah memiliki ciri khas dan adat istiadat masing-masing.
Di dalam Sumpah Pemuda, para pemuda Indonesia berikrar “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa SATU, bangsa Indonesia.”. Semua Jong Pemuda berkumpul ke satu tempat untuk menyatukan bangsa, untuk berikrar menjadi satu. Jong Ambon, Jong Java, Jong Celebes, bahkan mereka yang keturunan Tionghoa pun ikut berikrar. Seperti apa yang telah dikatakan oleh Bung Karno pada pidatonya, jika 5 sila diperas menjadi 1 sila saja maka akan menjadi gotong royong. Kita seharusnya bersatu, saling bergotong royong, saling membantu satu sama lain. Tapi kenapa kita semua sekarang malah tercerai-berai seperti ini? Padahal mereka sama seperti kita, yaitu bangsa Indonesia. 
Indonesia terdiri dari banyak suku, jumlahnya ada 13 suku. 13 suku tersebut terdiri dari 12 suku asli dan 1 suku pendatang. Siapakah suku pendatang itu? Suku pendatang itu adalah suku Indonesia, BANGSA INDONESIA, di mana semua suku menjadi satu. Kita satu, wahai kawan sekalian. Ingatlah Sumpah Pemuda yang telah diikrarkan pada tahun 1928. Ingatlah, kita memang dari berbagai suku, tapi kita SATU bangsa, yaitu BANGSA INDONESIA.
Di mana peran pancasila? Di mana Sumpah Pemuda yang sudah diikrarkan? Para pendahulu kita sudah berikrar bahwa kita adalah satu. Namun di manakah persatuan itu sekarang? Dasar negara kita adalah Pancasila, bukan agama, bukan juga adat istiadat. Semua harus berdasarkan pancasila. Jika kita hanya berdasarkan agama dan adat istiadat, maka tidak lama lagi Pancasila akan lenyap dari kehidupan kita.
Gambar: Edunews.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *