Mengenal Lebih Dekat Dekan FT-UB

Wawancara Ekslusif

LPM Solid, Malang – Berakhir sudah pesta demokrasi dalam rangka pemilihan kursi tertinggi Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Dekan periode selanjutnya mungkin sudah tak asing lagi bagi warga Teknik. Pasalnya, Dekan periode 2017-2021 ini pun juga merupakan dekan FT UB pada periode sebelumnya. Ya, Dr. Ir. Pitojo Tri Juwono, MT. Setelah sebelumnya menggantikan Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS yang juga sampat menjadi dekan FT UB selama satu setengah tahun, Dr. Pitojo kembali terpilih menjadi dekan Fakultas Teknik.

Berikut wawancara LPM Solid FT UB dengan Dr. Ir. Pitojo Tri Juwono, MT di ruanganya pada Selasa (23/5)

Bagaimana perasaaanya setelah terpilih menjadi Dekan Fakultas Teknik periode 2017-2021?

Jadi sebetulnya semua itu serba kebetulan ya, ketika saya menyelesaikan studi S3 pada 2010. Tahun 2011 saya diminta untuk menjadi wakil dekan II ketika saat itu dekannya masih Pak Anen. Saat itu saya masih pertimbangkan, rasanya setelah selesai S3 saya mau agak nyantai dulu, namun oke ada tawaran saya coba sambut baik dan ketika dekannya digantikan oleh Prof. Bisri, saya masih diminta untuk menjadi wakil dekan II juga. Ternyata Prof. Bisri hanya menjalani periodenya menjadi dekan di Fakultas Teknik selama 1.5 tabun dimana kemudian beliau menjadi rektor dan kemudian saya dipercaya oleh warga teknik untuk menjadi dekan. Sebetulnya setelah periode pertama, saya sudah membayangkan untuk berhenti. Saya membayangkan untuk menekuni hobi lagi, bertemu mahasiswa lebih banyak dan seterusnya. Tapi banyak juga pihak yang datang dan meminta saya untuk maju kembali sehingga saya maju, saya niatkan dengan penuh komitmen untuk bisa bekerjau jauh lebih baik dan apa yang diharapkan oleh orang-orang yang meminta saya maju bisa saya jawab dengan komitmen tinggi untuk bekerja lebih baik, intinya itu. Perasaan senang ya senang namun juga sedih karena membayangkan betapa banyak pekerjaannya, jadi itu menjadi tantangan yang luar biasa bagi saya sehingga saya kehilangan banyak waktu juga baik waktu untuk diri sendiri, waktu untuk menulis dan waktu untuk meneliti. Pada saat itu saya memiliki angan-angan di umur yang ke-46 tahun, saya harusnya sudah menjadi guru besar, namun kerena kesibukan dalam menata kepemimpinan saya sehingga itu semua belum tercapai.

Sebelumnya, Prof. Bisri terpilih menjadi rektor setelah menjabat sebagai dekan, nah apakah ada keinginan untuk menjadi rektor juga?

Jauh deh rasanya ya, saya biarkan mengalir saja ya hehe. Karena saya awali semua dengan serba kebetulan jadi kita ikuti saja nanti ya.

Apa cita-cita bapak ketika masih menjadi mahasiswa?

Jadi sebenarnya saya berasal dari keluarga yang memiliki background pendidik. Kedua orangtua saya guru selain menjadi petani juga di Madiun. Sebenarnya Ibu saya menginginkan saya menjadi camat. Namun saya dari kecil memang ingin menjadi insinyur tapi tidak terlalu membayangkan juga untuk menjadi dosen. 1992 lulus, saya tidak mengabdikan diri menjadi dosen walaupun saat itu ditawari menjadi dosen oleh dekan fakultas teknik karena saya lulus cumlaude dan saya juga ketua himpunan jurusan. Namun, saya berpikir karena saya berasal dari keluarga sederhana sehingga saya harus mencari uang, saya mesti di lapangan membayangkan memakai helm dan sepatu proyek kemudian saya membangun bendungan. Jadi itu yang saya laksanakan dulu dari tahun 1992 hingga tahun 1999. Ternyata panggilan jiwa sebagai pendidik tidak pernah berhenti, sehingga begitu saya telah menyelesaikan 14 proyek di berbagai wilayah di Indonesia terutama di Sulawesi mulai dari jalan, jembatan, bendungan dan gedung. Akhirnya pada tahun 2000 saya memutuskan untuk kembali ke kampus, kelebihannya yaitu saya menjadi lebih tahu ilmu dan implementasinya sehingga ketika berbicara ke mahasiswa menjadi jauh lebih nyaman karena mengetahui teorinya, cara penerapannya dan juga hambatannya.

 Apa organisasi yang ditekuni ketika menjadi mahasiswa Teknik Pengairan?

Waktu itu sebetulnya organisasi di kemahasiswaan belum sebanyak sekarang ya, kita hanya punya senat kalau sekarang BEM dan punya himpunan mahasiswa jurusan. Kemudian dari unit-unit kegiatan juga tidak terlalu banyak. Saya lebih konsen mengawali kegiatan di BEM dulu waktu itu selama dua tahun pertama, tahun ketiga saya mendalami organisasi di kegiatan seminar kemudian di jurusan saya langsung memegang jabatan sebagai ketua himpunan jurusan. Sebetulnya ya ada gengsi-gengsinya juga sih, kan kita punya calon pacar juga jadi mesti ada penyemangat juga untuk menjadi yang berbeda. Melihat tantangannya sebetulnya berat karena waktu itu tidak semudah era mahasiswa sekarang karena ada budget yang disiapkan oleh kampus. Jadi dulu setiap kegiatan kita harus mengawali dengan urunan uang kita sendiri untuk sekedar beli tiket bus ke Jakarta saat mengundang pembicara, beli bensin untuk motor, kita harus cari dana kemana-mana dan setelah dapat baru itu dikembalikan.

Berarti bapak ini juga merasakan ya sulitnya mencari dana kegiatan?

Oh iya tentu. Jadi saya merasakan bagaimana susahnya saat itu dan harus betul-betul mencari sponsor untuk setiap kegiatannya.

Apakah ada niatan yang belum tersampaikan hingga saat ini untuk memajukan organisasi kemahasiswaan maupun KBMT?

Ya betul, jadi saya merasa ada dua hal yang mendasar jika kita bicara mengenai fondasi kegiatan kemahasiswaan. Pertama, gedung kemahasiswaan kita itu dari periode pertama saya saya sudah meminta untuk dijadikan gedung yang bagus, direnovasi dan diperbagus semua sehingga seperti office-nya mahasiswa, dan ketika ada tamu, kita tidak malu dan silahkan diterima di gedung tersebut. Dimana disana ada ruang diskusi dan ruang komputernya juga lalu ada judulnya juga “Gedung Kemahasiswaan”. Sebenarnya sudah saya perintahkan dan anggaran sudah saya siapkan, namun problemnya adalah mengosongkan tempat itu tidak mudah, kemudian habbit anak-anak setelah kegiatan, barangnya dibiarkan berserakan sehingga mungkin diperlukan adanya gudang tersendiri juga. Jadi saya rasa ego masing-masing jurusan itu masih tinggi.

Kedua yang paling mendasar juga adalah sebetulnya saya ingin adanya buku pedoman kemahasiswaan yang mendesain. Jadi mahasiswa berprestasi itu karena didesain, dibina dan diberi modal. Jadi harusnya semua ada buku pedomannya mulai dari ketika maba (mahasiswa baru) masuk, mengisi satu semester mulai dari adanya krida-krida itu didesain dan ada kalendernya selama satu tahun. Sehingga setiap tahun berganti, ini pedoman kita, oh ada kegiatan ini itu yang terdesain dengan baik. Sehingga kita mengeluarkan anggaran yang sekarang jumlahnya 1,2 miliar untuk mahasiswa yang berasal dari IOM dan dana resources sharing dari WR III, kita tidak tahu arahnya di himpunan A dapat berapa, di ini dapat berapa. Sehingga dengan adanya buku pedoman tadi, kegiatan itu terjadwal dan buku pedoman juga harus terarah karena simbol kejayaan kita sekarang ini disamping ada sifatnya kewirausahaan, hobi dan minat, dan ada juga yang sifatnya prestasi. Kita masih kalah jauh tentang PIMNAS, fakultas kita kontribusinya belum banyak. Mungkin paling tepat adalah adanya desain dari buku pedoman itu sehingga sifatnya terjadwal bukan sporadis. Saya kira dua hal itu yang penting. Saya juga masih butuh wakil dekan III yang bisa membantu saya untuk mewujudkan hal ini.

Infografis – Biodata dan Program Kerja Dekan FT UB periode 2017 – 2021

Mungkin berhubungan pak, kita sebagai mahasiswa bertanya-tanya siapa yang akan menjadi wakil dekan selanjutnya,dan kapan pemilihannya?

Nah, jadi wakil dekan saya ini akan berakhir pada bulan Desember dan saya sendiri akan berakhir Juni, sehingga awal Juni ini akan dilantik untuk periode kedua. Karena wakil dekan berakhir pada desember maka pengusulannya mungkin dua bulan sebelumnya jadi Oktober harus sudah saya tunjuk dan peraturan yang baru belum ditetapkan namun konsepnya lebih nyaman untuk dekan karena dekan menunjuk dua orang lalu menjadi pertimbangan oleh senat fakultas untuk disahkan oleh rektor. Sebelum ini kan semua orang daftar itu dipilih, karena kalua dipilih, apa yang dipilih orang belum tentu bisa bekerja sama dan sesuai dengan dekannya.

Bisa beri bocoran nama wakil dekanya?

Haha, September mungkin ketika maba masuk saya bisa kasih ya. Sebenarnya sudah ada sih, jurusannya sudah ada tapi nanti ya September. Hehe.

Jadi begini pak, sebelum penjaringan dekan berlangsun kami dari LPM Solid telah menyebarkan kuesioner kepada KBMT tentang pemilihan dekan, nah disini ada saran dan harapan dari KBMT untuk dekan terpilih (LPM Solid memberikan surat yang berisikan saran untuk dekan terpilih, dan meminta dekan untuk menanggapi)

Baik jadi ada beberapa poin yang menjadi  feedback untuk diri saya seperti lebih dekat dengan mahasiswa, saya mesti tingkatkan itu. Sebetulnya selama ini saya mempercayakan komunikasi dengan mahasiswa melalui pendelegasian kepada WD III. Bukan berarti saya tidak mau dan tidak ingin diundang, namun begitu delegasi saya berikan suatu kegiatan dapat berjalan tanpa saya diundang. misalnya ketika melepas mahasiswa untuk lomba sehingga memberikan pengarangan tentang mahasiswa tentang lomba dan kegiatan tertentu, walaupun sudah saya delegasikan sebenarnya saya ingin hadir di kegiatan itu karena saya pikir motivasi atau pengarahan yang dilakukan oleh wakil pimpinan itu tentu beda, substansinya maupun semangatnya bagi mahasiswa tentu beda. Ini kedepan saya mengingatkan jangan saya tidak diundang karena sebenarnya saya tahu beberapa kegiatan namun kok saya tidak diundang ya, padahal saya ingin hadir sebenarnya dan dapat memberikan pembekalan yang jaub lebih baik.

Kemudian melancarkan semua kegiatan dan kebutuhan dari KBMT saya kira jika buku pedoman tadi sudah ada maka semua telah termaktub disitu maka akan berjalan jauh lebih baik. Sebenarnya mulai awal saya menjadi dekan, saya telah menigkatkan anggaran bagi mahasiswa dari 500 juta menjadi 1,2 Miliar, naiknya sudah 100% lebih sebetulnya, Cuma saya kurang memantau 1,2 Miliar ini serapannya kemana saja, apakah ke himpunan atau ke BEM atau ke tempat lainnya. Mestinya ini semua terlaporkan dan jangan sampai juga anggaran yang seperti ini hanya terserap oleh administratif, misalnya lebih ke biaya makan, mestinya langsung menyasar ke unit kegiatan yang dilaksanakan.

Selanjutnya berpikir out off the box dan keluar dari tradisi, saya selalu mencoba mengasah diri untuk berpikir keluar dari sesuatu namun karena adanya sistem maka saya tidak bisa mengabaikan juga perintah dari pimpinan di rektorat. untuk berpikir demikian saya kira saya butuh juga pikiran dari mahasiswa karena contohnya ketika saya membuat acara di fakultas, tiba-tiba saya mendapat ide dari staff yang saya kira idenya ini keluar dari biasanya dan ternyata responnya baik. Jadi jangan sungkan-sungkan untuk mengkomunikasikan ide-ide tersebut.

Terakhir mengenai tempat parkir, sekarang kita lagi membangun tempat parkir baru tahun ini di sebelah baratnya elektro dan mesin yang masih kosong itu, kita buat desain dari baja dengan konsepnya ramah lingkungan. Karena di sebelah belakangnya adalah FISIP sehingga akan kita berikan garden dan ketika dipakai nongkrong nanti ada payungnya dan nyaman. Sudah kita siapkan dan itu menghabiskan kira-kira 920 juta.

Dari masukan tersebut saya ucapkan terima kasih, nanti akan kami jadikan pertimbangan dan catatan bagi saya sendiri karena ketika kampanye menjadi dekan, saya menekankan pada komitmen dan kerja sama tim. Kita tidak akan pernah bisa maju jika kita tidak bersama-sama bergandengan tangan dan jika hanya pimpinannya saja yang niat saya kira tidak akan bisa maju.

Tadi KBMT sudah memberikan saran kepada bapak,  dari bapak apakah ada saran untuk KBMT ?

Jadi jika berbicara untuk memajukan Fakultas Teknik melalui kemahasiswaan, sekarang ini kan sudah eranya ada kontrak kerja antara fakultas dengan rektor, dan adanya kontrak antara rektor dengan Menteri. Jadi setiap tahun Menteri akan memberikan tugas, ada 27 sampa 29 indikator yang harus dicapai, yang beban itu sebenarnya bisa ditanggung oleh pimpinan, dosen dan mahasiswa.

Pertama yang bisa dilakukan mahasiswa yaitu kewirausahaaan, itu juga sebetulnya satu indikator prestasi fakultas yang dinilai oleh kementerian. Kedua yaitu dari sisi prestasi, baik dalam mengikuti kompetisi maupun lomba-lomba lainnya. Jadi ada mahasiswa yang mengikuti kegiatan yang sifatnya mengembangkan semacam hobinya, ada juga yang mengasah jiwa kewirausahaan dan ada juga yang mengasah kemampuannya dalam mengikuti kompetisi. Kedepannya kita harapkan indikator ini dapat diambil perannya oleh mahasiswa dengan melalui wadah-wadah yang disediakan oleh fakultas maupun universitas. Lagi-lagi itu semua kembali kepada desain, kita mau melakukan apa dan bagaimana nantinya. Saya diberi target pada tahun 2017 ini, ada 10 mahasiswa berprestasi kita yang diharapkan dapat menjuarai kompetisi internasional, jika kami tidak dapat menciptakan itu maka kinerja kami di fakultas teknik dianggap jelek. Jika semua fakultas jelek maka rektor UB akan dinilai jelek dan peringkat UB akan bisa turun.

Selanjutnya adalah bagi mahasiswa yang memiliki jiwa usaha itu bukan hanya memiliki jiwa saja melainkan harus diwujudkan, karena banyak mahasiswa yang berwirausaha namun karena usahanya sendiri bukan dibina dan dimodalkan oleh fakultas. Sehingga kami ingin memfasilitasi itu untuk mewujudukan ataupun memperbesar usahanya, syukur-syukur jika usahanya sebidang dengan pendidikannya, jika tidakpun tidak masalah. Intinya kita bersama-sama mendorong kegiatan itu.

Saya sebenarnya menginginkan adanya temu dengan mahasiswa untuk membicarakan kegiatan kita selama sebulan yang lalu dan sebulan kedepan, jadi akan ada Kahim, BEM dan organisasi lainnya yang berbicara kegiatan tersebut sehingga terencana dan ada gambaran. Jadi saya minta untuk diingatkan ya, paling lambat adalah tiga bulan sekali kita harus ada temu untuk membicarakan kegiatan-kegiatan itu sehingga apa yang diharapkan pimpinan terhadap mahasiswanya ataupun sebaliknya dapat tersampaikan. Sebenarnya perintah seperti itu sudah saya sampaikan namun sering diambil alih oleh pendelegasian sehingga sekarang saya sudah tidak mau lagi, saya mesti turun langsung. Hehe.

  1. Terakhir pak, apa harapan yang dimiliki untuk Fakultas Teknik kedepannya?

Begini, jadi Fakultas Teknik ini merupakan fakultas yang sangat besar dibandingkan 15 fakultas lainnya di UB. Tentu kita harus bangga dengan kondisi ini, jadi kita harus menjadikan kebanggaan ini dengan menjadikan teknik ini sebagai pilar kejayaan UB. Kita mungkin lima kali atau sekian kalinya lebih besar jika dibandingkan PKH, FIB atau FKG. Kita mahasiswanya banyak, dosennya banyak, kita harus membuktikan bahwa kita harus berprestasi di segala lini. Dosennya hebat dan mahasiswanya juga harus hebat. Kita harus dorong dan butuh kebersamaan dalam mewujudkan itu. Jangan sampai ketika kita berlomba dengan fakultas kecil, kita masih kalah. Jadi kita mesti bisa memetakan dengan betul potensi-potensi yang ada di fakultas ini ketika kita keluar mewakili fakultas maupun universitas, kita bisa membawa nama baik itu.

Jadi intinya adalah ingin meningkatkan prestasi Fakultas Teknik ya pak?

Ya, betul. Jadi prinsip kita adalah bahwa kita sekarang sudah ada di peringkat 5 nasional, berada dibawah ITB, UI, UGM dan IPB. Saya rasa untuk menggeser itu sudah tidak mungkin karen a secara historis mereka sudah mengakar dan kuat, lalu usianya juga jauh lebih tua dari kita dan banyak orang-orangnya yang berkuasa di kementerian. Jadi rasanya susah untuk menggesernya. Yang bisa kita lakukan adalah bertahan di 5 ini secara nasional mudah-mudahan tidak tergusur, dan yang lebih kita angkat adalah pemeringkatan internasionalnya, peringkat internasional lalu kita di 700 lebih secara dunia, 300 lebih secara asia, itu yang kita kejar. Nah indikatornya apa saja? Tentunya adalah prestasi-prestasi tersebut sehingga UB secara nasionalnya bertahan di 5 dan peringkat internasionalnya akan membaik. Nah ini yang akan kita wujudkan karena secara nasional saya rasa sudah mentok dan tidak mungkin bisa mengalahkan empat diatas tadi.

(gus/awe/ami/alf/red)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *