Feature – Belajar dari Negeri Tetangga, Singapura

Oleh: Amira*

Mungkin memang benar untuk mengatur Singapura bisa dikatakan lebih mudah ketimbang memberdayakan negara Indonesia yang notabennya berkali-kali lipat lipat lebih luas dari negara tetangga itu. Namun, apa salahnya belajar dari negara yang sudah terlebih dahulu menyandang predikat sebagai negara maju itu?

Ya pada tanggal 18 – 20 Mei  jurusan saya Teknik Industri berkesempatan untuk melakukan studi ekskursi ke Singapura. Peserta dengan jumlah 120 yang terdiri dari dosen dan panitia sudah bersiap sejak pukul 03.00 WIB di Universitas Brawijaya, kami semua begitu antusias karena ini merupakan studi ekskursi pertama kami dengan lingkup internasional. Setelah melalu perjalanan dan sempat berhenti untuk melaksanakan solat shubuh di masjid, rombongan bis tiba di bandara internasional Juanda sekitar pukul 06.00 WIB.

Perjalanan udara Indonesia dan Singapura memerlukan waktu sekitar 2 jam, kami tiba di Changi internatioanal airport dan langsung menuju destinasi pertama kami, yaitu Urban Redevelopment Authority (URA). Di sela perjalanan, tour guide kami yang lebih suka disapa ma cik Rugayya ini menjelaskan sedikit banyak mengenai kondisi negara sekaligus kota Singapura. Ternyata, negara yang hanya terdiri satu kota ini dahulu nya memiliki luas yang lebih kecil dibandingkan Singapura saat ini. Proses pelebaran kota dilakukan dengan reklamasi, sehingga beberapa negara salah satunya adalah Indonesia merupakan pengekspor pasir ke Singapura. Proses tata kelola negara ini begitu tersusun rapi, selain itu harga beli transportasi pribadi yang amat mahal dan membuat warganya memilih mengkonsumsi transportasi masal, tak heran jarang sekali terjadi kemacetan di negara ini.

Urban Redevelopment Authority (URA)

Pusat perencanaan tata kelola bangunan terdapat di URA. Di lantai pertama URA Semua bangunan dan wilayah yang ada di Singapura dibuat miniatur dan digabungkan menjadi Singapura dalam skala kecil. Sedangkan di lantai kedua merupakan perencanaan Singapura di masa depan. Lantai dua URA ini terdiri dari beberapa ruangan, diantara ruangan yang menjelaskan sejarah Singapura dari masa penjajahan, dan ruangan lainya yang menggambarkan kondisi Singapura dimasa depan. Waktu sudah menunjukan pukul 18.00 waktu Singapura. Tidak seperti Malang, pada jam tersebut matahari masih terlihat. Rombongan kami menuju ke hotel untuk beristirahat, dan yang ingin melakukan city tour juga diperbolehkan. Memanfaatkan kesempatan dengan baik, saya dan teman teman lainya segera bersiap dan melanjutkan plesir kami ke pusat keramaian di Singapura.

Keesokan harinya kami bersiap dan menuju ke National University of Singapore (NUS) salah satu universitas terbaik di Singapura untuk berkeliling di sekitar Fakultas Teknik. Selepas itu kami berkunjung ke Marina Barrage yang merupakan salah satu dari 20 bendungan di Singapura yang dibangun di mulut teluk antara Marina bagian Timur dan Marina bagian Selatan. Marina Barrage menyediakan suplai air danpengendalian banjir. Marina Barrage ini bukan hanya tempat resevoir air, tetapi juga sudah menjadi tempat wisata. Diwaktu yang bersamaan, sebagian peserta studi ekskursi mengunjungi perusahaan bernama Goltens. Perusahaan ini beregerak pada bidang jasa perbaikan diesel dan sejenisnya. Salah satu yang menarik adalah bagaimana perusahaan ini melakukan forecast, yaitu forecast dilakukan bukan dengan data historis seperti yang biasa dilakukan, namun sesuai dengan jadwal service pelanggan. Tidak terasa waktu berlalu, dan agenda hari ini ditutup dengan melancong ke sentosa island.

Peseta berfoto di depan NEWater, Singapore

Kondisi yang serba kekurangan sumber daya alam menuntut negara ini untuk berkembang di ranah teknologi. Seperti air, Singapura masih melakukan kontrak dengan Malaysia sebagai negara yang mengeskpor bahan baku air hingga tahun 2060 nanti. Dengan teknologi yang mereka miliki, air yang diekspor oleh Malaysia akan dilakukan proses produksi hingga menjadi air yang dapat diminum dan kemudian diekspor dengan harga yang lebih tinggi. Selain itu, Singapura juga terkenal dengan sistem drainase yang baik. Untuk memenuhi kebutuhan air, Singapura melakukan proses daur ulang air seperti yang dilakukan oleh perusahaan NEWater.

Hari terakhir diawali dengan menuju destinasi perusahaan pengelolahan air  NEWater, kalau di Indonesia mungkin seperti PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum). Disana kami dijelaskan proses produksi air dengan visualisasi yang amat menarik. Proses produksi air disana terdiri dari tiga tahapan seperti microfiltration/ultrafiltration, reverse osmosis dan terakhir adalah ultraviolet disinfection. Saat ini NEWater sudah mampu memenuhi 30% dari total kebutuhan air di seluruh Singapura. Tidak mau sampai di situ saja, mereka bahkan akan meningkatkan kapasitas NEWater sehingga bisa memenuhi 55 % kebutuhan air di seluruh Singapura pada tahun 2060. Sebelum kembali ke Indonesia dan mengkhairi studi ekskursi ini kami sempatkan menuju city center Singapore karena rasanya tak lengkap jika tidak berfoto di depan patung iconic kota singapura, Merlion dan berbelanja di Bugis market.

Beberapa hal yang saya kagumi dari negara ini adalah bagaimana mereka sangat teramat menghargai waktu. Jadi semisal kita melakukan janji, maka 15 menit sebelumnya kita sudah harus tiba di tempat. Sistem yang ada di negara ini begitu effisien, setiap langkah bagi mereka adalah penting. Aturan yang ada juga dikendalikan oleh sistem, jadi jangan coba-coba untuk melobi polisi jika terkena tilang, karena jika sampai iya maka siap siap denda yang dikeluarkan akan berkali-kali lipat. Bicara soal peraturan, sanksi yang berlaku disini benar benar terlaksana, sistem cctv dipasang di sudut sudut kota untuk mengawasi kondisi yang terjadi. Tidak hanya itu, pemerintah Singapuran sangat concern pada pemberdayaan penduduk Singapura soal pendidikan. Setiap bulan pemerintah mentransfer biaya pendidikan untuk warga disana hingga usia 27 tahun, sehingga tidak ada alasan orang tua untuk tidak menyekolahkan anak mereka.

 

)* Penulis adalah mahasiswa Teknik Industri 2014

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *