Tentang Si Mahasiswa Kupu-kupu  

Oleh: Nun Faiz Habibullah Ahmad*

Pertama kali membaca majalah SOLID edisi 54 tahun 2016, saya langsung tertarik dengan judul opini pada halaman 32. Opini tersebut berjudul tidak ada pilihan untuk menjadi “mahasiswa kupu-kupu”. Saya membaca isi opini tersebut dengan penuh penasaran, apa poin yang dimaksud dengan judul itu. Apalagi di sana tertera nama Dr.Ir. Pitojo Tri Juwono Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.

Pada halaman 34 tertera kalimat “ tidak ada pilihan untuk menjadi mahasiswa kupu kupu (kuliah-pulang) tapi harus ikut organisasi”. Sudah jelas maksud tulisan tersebut, bahwa kita sebagai mahasiswa teknik harus berkecimpung di dunia organisasi. Tujuannya apa? Apalagi kalau bukan mental, menempa diri untuk menjadi lebih baik sehingga bisa bersaing di era MEA saat ini. Bagaimana jika ia bisa bersaing di era MEA saat ini, dengan tanpa mengikuti organisasi? Sah sah saja bukan.

Bagiku, menjadi mahasiswa berjenis kupu kupu, kura-kura (kuliah-rapat) , Kunang-kunang (kuliah-nongkrong), kuda-kuda (kuliah dakwah) adalah sebuah pilihan yang memiliki konsekuensi. Tentu, konsekuensinya bermacam macam sesuai dengan jenis mahasiswa tersebut. pada saat ini saya hanya membahas jenis kupu kupu saja karena tulisan ini untuk menanggapi judul tersebut.

Menurut saya, kita sebagai mahasiswa harus cerdas dalam memilih tindakan mau ikut organisasi atau tidak dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya, baik itu positif maupun negatif (jika ada), Begitu pula kita memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu atau tidak. Konsekuensinya bermacam macam, misal ia tidak kenal dengan lingkungan kampusnya atau kurang solid antar angkatan karena dinilai kurang berkontribusi. Padahal, pada hakikanya bisa saja ia berkontribusi tanpa sepengetahuan temannya.

Menjadi mahasiswa kupu kupu, menurut saya, boleh boleh saja asal ada nilai yang dijual oleh dirinya. Timbul kata mahasiswa “kupu-kupu” itu kan disebabkan oleh mahasiswa A melihat mahasiswa B langsung pulang setelah kuliah. Padahal ia tidak tahu, apa yang dilakukan oleh mahasiswa (B) kupu kupu tersebut. Bisa saja, mahasiswa kupu kupu tersebut langsung pulang karena sedang menulis buku, atau membuat animasi video atau apapun yang memiliki nilai jual.

Jika mahasiswa kupu kupu tersebut membuat hal yang lebih bermanfaat, maka ia lebih baik daripada mahasiswa yang menghakimi itu. Sebagaimana, khoirunnas anfa uhum linnas, sebaik baiknya manusia adalah bermanfaat bagi yang lain. Jika itu lebih baik daripada mengikuti organisasi yang hanya menjadi beban bagi anggota lainnya, mengapa tidak?. Sekarang, adakah anggota organsisasi yang malah merepotkan anggota lainnya? Jangan ditanya, banyak, rasakan sendiri bagaimana bebannya.

Mengikuti organisasi itu hanyalah teknis atau cara untuk bermanfaat bagi orang lain. Namun, poin utamanya adalah bermanfaat bagi orang lain. Jika ia bisa menggunakan cara lain selain organisasi untuk bermanfaat bagi orang lain, menurut saya, boleh boleh saja. Namun pertanyaannya adalah bisakah ia bermanfaat bagi orang lain tanpa organisasi?

 

)* Penulis adalah Mahasiswa PWK 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *