Perdana Diselenggarakan, KBAI Ajak Peserta Selesaikan Permasalahan Lingkungan

LPM SOLID, Malang – Kompetisi Bangunan Air Indonesia (KBAI) yang berlangsung pada Selasa (2/5) di Dekanat FT UB merupakan kompetisi tingkat nasional yang perdana dilaksanakan oleh Jurusan Teknik Pengairan FT-UB.

Kompetisi yang melibatkan 152 orang panitia ini berlangsung dari tanggal 1 Mei dengan agenda technical meeting hingga dengan 4 Mei 2017 yang merupakan acara puncak berupa gala dinner dan penutupan.

Finalis yang berpartisipasi mewakili masing-masing universitas juga tampak memadati Lobby Teras Dekanat FT-UB untuk menampilkan hasil karya kompetisi yang berbentuk stand yang berisikan maket dan X-banner penjelas hasil karya. Hasil karya yang dipamerkan pada Lobby Teras Dekanat FT-UB tersebut kemudian akan dipresentasikan di depan dewan juri di dalam ruangan Auditorium Prof. Ir. Suryono lt.2 Dekanat FT-UB.

“Acara KBAI ini memang benar-benar pertama kali diadakan, karena pihak himpunan (Jurusan Teknik Pengairan FT UB, red) memang ingin mengadakan juga serta alumni, bahkan dari alumni (Jurusan Teknik Pengairan FT-UB, red) tahun 1976 pun mendukung terselenggarakannya acara ini” jelas Dwi Hendra yang akrab disapa Hendra selaku ketua pelaksana KBAI 2017.

“Studi kasus yang diambil termasuk dalam kawasan secara spasial. Pihak panitia sendiri sudah menyediakan satu studi kasus yaitu Kampung Jodipan. Akan tetapi, peserta dapat memilih studi kasus yang lain sesuai dengan pilihan peserta dan itu tidak masalah. Untuk masalah yang diangkat dari studi kasus itu sendiri, yakni masalah kepadatan penduduk, kemudian penduduk yang seringkali membuang sampah sembarangan ke sungai dan menyebabkan sungai itu terhambat dan meluap ke daerah permukiman warga sehingga terjadi banjir. Pada intinya, peserta diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.”

Penyelesaian yang dihasilkan terdiri menjadi 2 jenis, yaitu penyelesaian secara teknis dan non teknis. Penyelesaian secara teknis yaitu penyelesaian berupa bangunan-bangunan air seperti bendungan, sungai, dan lain sebagainya sesuai masalah yang diangkat dari studi kasusnya. Sedangkan penyelesaian non-teknis berupa rencana sosialisasi ke warga/masyarakat sekitar kawasan itu sendiri sehubungan dengan adanya penyelesaian teknis yang diberikan

“Kriteria penilaiannya itu seperti dilihat dari cara pesertanya presentasi, kesesuaian presentasi dengan isi proposal yang diajukan, serta bisa atau tidaknya inovasi yang diajukan untuk diterapkan.”

Kompetisi ini turut mengundang Dirjen Sumber Air Kementerian PU 2010-2012 Bapak Dr. Ir. Muhammad Amron, M.Sc, Lembaga Pengurus Pengembangan Jasa Konstruksi Kementerian PU PR 2016-2020 Bapak Dr. Ir. Jhon Paulus Pantouw, MS , Sekretaris BAPPEDA Kota Malang Ibu Ir. Diah Ayu Kusumadewi , serta Dosen Jurusan Teknik Pengairan FT-UB Bapak Ir. Dwi Priyantoro, MS dan Bapak Dian Sisinggih, ST, MT, Ph.D.

Ditanya soal harapan, ketua pelaksana mengungkapkan “Semoga Jurusan Teknik Pengairan dapat semakin dikenal luas secara nasional. Selain itu, kita dari Jurusan Teknik Pengairan bisa menjalin kerjasama dengan finalis. Harapan yang paling besar lagi adalah acara KBAI ini terus diadakan dan berkembang setiap tahunnya, serta acara ini dapat diakuisisi oleh Kemenristek Dikti,” ujar Hendra di akhir wawancaranya dengan LPM Solid.

KBAI diikuti oleh 10 tim finalis dari hasil seleksi pada tahap sebelumnya yang berasal dari 9 universitas, antara lain Tim Punggawa 64 dari Universitas Brawijaya, Tim Ayuthaya dari Universitas Indonesia, Uncal Team dari Universitas Pakuan Bogor, Tim Amreta Naraya dan Tim Kuya Envi dari Institut Teknologi Bandung, Tim Diadikasia dari Institut Teknologi Nasional Bandung, Tim Nadindra Dewa dari Politeknik Negeri Bandung, Regu A dari Universitas Gadjah Mada, Tim Creat-10N dari Institut Teknologi Sepuluh November, dan Tim Spider Excavator dari Universitas Negeri Malang.

(dey/rad/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *