Catcall, Pelecehan Verbal yang Diwajarkan

Oleh: Sisca Ainun Nissa*

 

Manusia pada fitrahnya membutuhkan pujian dari manusia lain, begitupun dengan perempuan. Pujian bisa diungkapkan dengan banyak cara, salah satu cara yang paling sederhana adalah mengungkapkannya dengan kata-kata. Namun pernahkah Anda berpikir bagaimana jadinya jika ‘kata pujian’ itu justru membuat seorang perempuan risih dan merasa tidak nyaman? Bahkan bisa merujuk ke dalam pelecehan seksual, pernah Anda bayangkan?
Menjadi perempuan yang hidup pada daratan Indonesia memang tidak mudah. Tidak usah muluk-muluk berbicara tentang paham feminism, kesetaraan gender, atau apalah itu. Hal sederhana seperti berjalan di ruang publik tanpa menghadapi catcall saja rasanya sulit. Ya, catcall. Apa istilah catcall masih asing untuk Anda? Begini, singkatnya catcall merupakan salah satu bentuk pelecehan verbal. Istilah ini merujuk pada siulan, teriakan, atau komentar yang mengandung unsur pelecehan terhadap perempuan yang melintas di jalan. Tentu keadaan ini tak asing lagi kan?
Secara naluri, laki-laki memang mudah tertarik perempuan. Bahkan, banyak yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan itu. Dari yang sekadar bersiul, melihat sampai memutar kepalanya tanpa sadar, hingga mengeluarkan kalimat-kalimat yang terkesan ‘pujian’. Sepertinya memang sangat biasa dan tidak menyakiti perasaan, namun ketika seorang perempuan mendengarnya sendiri dari mulut laki-laki di tepi jalan atau gang-gang sempit, dia akan langsung merasa risih dan tidak aman.
Jika selama ini Anda menganggap pemerkosaan adalah satu-satunya bentuk pelecehan seksual terhadap perempuan, Anda bisa singkirkan pendapat itu sekarang. Nyatanya, hal sepele seperti catcall juga sama mengerikannya.

Nahasnya, banyak diantara kita yang menganggap hal tersebut wajar dan membiarkannya. Seperti pada kasus yang terjadi di Jakarta Utara, seorang perempuan mengeluh mendapatkan perlakuan catcall oleh petugas parkir. Demi keamanan dirinya, akhirnya perempuan itu melaporkan hal tersebut kepada polisi. Dalih mendapat perlindungan, perempuan itu hanya mendapat pertanyaan, “Enggak diapa-apain kan mbak? Cuma dipanggil? Enggak disentuh?”. Lebih parah lagi, sekedar untuk menegur si petugas parkir saja polisi itu ogah-ogahan. Padahal sangat jelas perempuan itu merasa tidak nyaman dan terganggu. Begitulah potret betapa wajarnya catcall yang berada di Indonesia.
Tidak hanya di Indonesia, catcall bisa menjadi masalah global. Sebuah riset yang rilis pada 2015, menunjukkan bahwa 84 persen perempuan pernah menjadi korban catcall, dalam usia antara 11-17 tahun. Riset itu dilakukan lembaga anti-pelecehan seksual, Hollaback! yang dibantu Cornell University, dengan melibatkan 16.600 responden di 22 negara. Tentu 84 persen bukanlah angka yang sedikit. Lalu, apa terlintas dibenak Anda mengapa para pelaku bisa melakukan catcall?
Pasti beberapa diantara anda akan menjawab, “Perempuan itu menggunakan pakaian terbuka yang menggoda”. Jika iya, bagaimana dengan kasus perempuan berpakaian syar’I yang mendapatkan perlakuan catcall “Assalamu’aikum, Cantik. Sendiri aja?”? Tentu itu bukan alasan yang mutlak. Mayoritas pelaku catcall tidak menyadari bahwa hal yang mereka lakukan merupakan pelecehan. Diantara mereka menganggap perlakuan itu merupakan bentuk sapaan, ketertarikan, bahkan mereka pikir itu merupakan pujian. Yang jelas, apapun alasannya catcall merupakan tindakan yang sangat berbahaya. Mengapa demikian?
Pertama, catcall membuat perempuan merasa tidak aman dan kehilangan kepercayaan diri. Bahkan, perempuan itu bisa mendapatkan trauma dan tidak berani lagi melintasi jalan yang sama dimana dia pernah mendapatkan perlakuan catcall. Kedua, perempuan membutuhkan pujian, bukan godaan. Disini, jelas catcall merupakan perilaku yang melanggar hak dan privasi perempuan. Sayangnya, banyak diantara mereka yang susah membedakan antara godaan dan pujian.

Terakhir, pada taraf yang paling berbahaya, pelaku catcall menganggap perempuan sebagai sebuah objek visual yang bisa dinilai berdasarkan penampilannya saja. Lebih mengerikan lagi, tubuh perempuan bisa dianggap sebagai objek seksual yang bisa dinikmati kapan dan di mana saja.

Bukankah itu sangat berbahaya? Jadi, masihkah Anda menutup mata? Apakah Anda cukup peduli dengan tidak melakukannya (lagi) atau menegur baik-baik mereka yang melakukan? Atau, Anda punya cara yang lebih keren untuk melawannya?

 

*penulis adalah mahasiswa arsitektur 2015

================================

Punya karya yang ingin di publikasi juga? Redaksi SOLID menerima kiriman artikel berupa opini, penelusuran, serta karya sastra seperti puisi dan cerpen. Silahkan kirimkan tulisanmu ke redaksi.solid@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *