Tahun ini UB Terima 15 Mahasiswa Baru Penyandang Disabilitas

LPM Solid, Malang--Universitas Brawijaya Malang, pada tahun ajaran 2016/2017 kembali menerima mahasiswan baru penyandang disabilitas. Pendaftaran tersebut dilakukan melalui jalur khusus yang diberi nama Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD). Pada tahun ini jumlah penyandang disabilitas yang mendaftar di Universitas Brawijaya mencapai 45 orang, namun hanya 15 orang yang memenuhi kriteria. Seleksi ketat dilakukan karena tidak adanya perbedaan antara mahasiswa nondisabilitas dan mahasiswa disabilitas selama masa perkuliahan berlangsung.

Dari 15 mahasiswa disabilitas yang lolos seleksi, 10 orang di antaranya diterima pada program sarjana (S1) dan sisanya diterima pada program pendidikan vokasi. Dari daftar tersebut, terdapat 5 nama yang mendapat rekomendasi dukungan beasiswa dari Univeritas Brawijaya. Jumlah tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan dari tahun sebelumnya yang hanya menerima 14 mahasiwa disabilitas, dimana 8 orang dari program sarjana dan 6 orang dari program pendidikan vokasi. Mahasiswa baru tersebut menyebar di berbagai fakultas, seperti FMIPA, FT, FIB, FEB, FILKOM, FISIP, FIA, FH, dan beberapa program studi pada vokasi. Sebanyak 8 mahasiswa disabilitas menderita tuna rungu, 4 mahasiswa menyandang tuna netra, dan sisanya menyandang tuna daksa, tuna grahita, serta Hydrocephalus.

Menyikapi hal tersebut, Universitas Brawijaya telah menyediakan pendamping bagi para penyandang disabilitas, yakni teman satu jurusan mereka. Proses pemilihan pendamping dilakukan dengan cara menyeleksi mahasiswa yang berkompeten, dimana setelah terpilih mereka akan mendapatkan pelatihan khusus seperti pelatihan bahasa isyarat. Keuntungan menjadi pendamping salah satunya akan mendapat honor sesuai dengan waktu pendampingan, honor bisa mencapai Rp700.000,00. Dalam hal ini penyandang disabilitas tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pendampingan, karena seluruh biaya pendampingan ditanggung penuh oleh Universitas Brawijaya. Fungsi pendamping disini adalah untuk membantu mahasiswa disabilitas menerjemahkan atau sebagai perantara antara dosen dan mahasiswa tersebut selama proses perkuliahan. Selain menyediakan pendamping bagi mahasiswa penyandang disabilitas, pihak Universitas Brawijaya juga memiliki satu badan yang khusus menangani fasilitas-fasilatas yang dapat menunjang dan membantu para mahasiswa penyandang disabilitas. Lembaga yang menaungi tersebut adalah Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) yang berpusat di belakang gedung Rektorat Universitas Brawijaya.

Semangat dari salah satu mahasiswa penyandang disabilitas terlihat dari senyum optimis I Made Wikandana atau yang biasa dipanggil Wikan, seorang mahasiswa FISIP jurusan Hubungan Internasional (HI). Mahasiswa yang berasal dari Bali ini memilih Universitas Brawijaya sebagai tempat untuk melanjutkan jenjang pendidikannya karena tersedianya pendamping yang ramah untuk mahasiswa disabilitas. Kesan Wikan pada PK2MABA Universitas hari ini adalah baik dan pendamping yang bertugas menjaganya dapat membuatnya nyaman. Tidak hanya itu, tugas yang cukup membebani menjadi lebih ringan karena bantuan dari pendamping. Menurut Wikan, kinerja panitia PK2MABA hari ini sudah baik, hanya saja terkendala pada teknis server Raja Brawijaya yang seringkali down. Namun, mahasiswa penyandang tunanetra ini tetap dapat menikmati sajian materi yang disajikan oleh panitia PK2MABA. Pemuda 19 tahun ini berencana untuk meraih IP setinggi-tingginya sehingga dia dapat mengikuti program student exchange dan beasiswa. Terlepas dari segala kekurangannya, Wikan bangga telah menjadi mahasiswa Universitas Brawijaya yang notabene masuk ke dalam daftar 10 besar universitas terbaik di Indonesia.

Tidak hanya Universitas Brawijaya yang memfasilitasi para penyandang disabilitas, beberapa universitas terkemuka di Indonesia juga memiliki kebijakan yang sama, contohnya adalah Universitas Indonesia yang menerima mahasiswa tuna netra, tuna rungu, dan tuna daksa. Selain itu ada Universitas Negeri Jakarta yang cukup diminati oleh penyandang disabilitas karena adanya jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Ada juga Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, PTN yang berbasis Islam ini menerima mahasiswa disabilitas dari berbagai jurusan. Universitas Pendidikan Indonesia Bandung juga menjadi salah satu pusat pendidikan bagi mahasiswa disabilitas, rata-rata mereka mengambil jurusan Seni Musik, Bahasa Inggris dan PLB. Terlepas dari PTN tersebut masih banyak PTN lain yang tercatat menerima penyandang disabilitas, seperti Universitas Negeri Makasar, Universitas Gajah Mada, Universitas Padjajaran, dan Universitas Negeri Surabaya. Mayoritas PTN tidak menolak ketika ada calon mahasiswa disabilitas yang mendaftar, hal tersebut dikarenakan penyandang disabilitas melaksanakan seleksi melalui jalur yang sama dengan nondisabilitas.

Penyelenggaraan pendidikan bagi para mahasiswa disabilitas diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2014 Tentang Pendidikan Khusus, Pendidikan Layanan Khusus, dan/atau Pembelajaran Layanan Khusus Pada Pendidikan Tinggi. Peraturan ini bertujuan agar akses pendidikan bisa merata dan dirasakan juga oleh penyandang disabilitas. Peraturan ini juga mengatur tentang hal-hal yang harus disediakan oleh perguruan tinggi untuk menunjang pendidikan khusus tersebut seperti layanan khusus, pendamping, sarana dan prasarana seperti lift, ramp, jalur pemandu, dan lain sebagainya yang harus tersedia di perguruan tinggi untuk menunjang segala aktivitas dari mahasiswa penyandang disabilitas. (Ea/Sca/Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *